
Jean berjalan di sekitar kota dengan dua bunga di kedua tangannya. Charlotte dan Selena. Mereka berdua menuntut Jean untuk menemani mereka berkeliling kota.
Awalnya Jean keberatan karena dia cukup sibuk. Tapi melihat keduanya memasang wajah seperti anjing kecil yang kesepian, Jean pasrah. Baiklah, dia akan menemani kedua gadisnya yang manis ini untuk berjalan-jalan.
Setidaknya itu, lebih baik daripada mereka memaksakan diri untuk keluar tanpa pengawalan. Suasana di kota memang terlihat tenang. Tapi....setelah yang Jean lakukan, Saint Georgia City menyimpan bahaya yang tersembunyi.
Yah, kalau memang begitu, Jean akan menebas siapapun yang berani mengganggu waktu berdu... tidak, waktu bertigaannya dengan Charlotte dan Selena.
Jean juga selama ini duduk di ruang studinya yang ada di markas Serigala Putih ataupun di rumahnya. Sesekali, dia ingin melihat secara langsung buah dari strateginya.
Di tengah-tengah kota, orang-orang masih beraktivitas seperti biasanya. Para pembeli sedang berinteraksi dengan penjual, berusaha mendapatkan harga terbaik. Orang-orang menyingkir dari jalan ketika gerobak kuda melewati jalan raya. Ada juga orang-orang yang menepi sejenak di kios-kios pinggir jalan sambil meneguk minuman buah yang menyegarkan di tengah panas yang menyengat.
__ADS_1
Saint Georgia City masih sama. Ramai dan berantakan. Tapi anehnya, tidak seperti yang lalu, masyarakat kini hidup. Mereka mengobrol, bercanda, dan tertawa. Anak-anak yang terlantar kini mendapat tempat. Setidaknya, ada yang peduli nasib mereka dengan memberikan sepotong roti yang cukup besar dan sekantung buah untuk makan.
Suasana inilah yang Jea inginkan. Dia bisa merasakan energi positif. Sejujurnya, kalau dia disuruh memilih, Jean jelas lebih suka menyerap keinginan positif seperti ini untuk meningkatkan kultivasinya daripada energi negatif. Ah, tapi yang negatif juga tidak masalah.
Mengesampingkan itu, yang jelas, ini hanyalah permukaan. Lewat teknik [world wide] miliknya, Jean memindai gang-gang kecil yang ada di ibukota dan melihat kerumunan orang-orang bertelanjang dada.
Jean tahu siapa mereka. Kerumunan itu adalah para budak yang melarikan diri setelah menjarah barang-barang milik tuan mereka. Jean fokus kepada mereka sebentar lalu menonaktifkan kemampuannya lagi.
"Hei Jean! Kenapa kau melamun?"
"Itu benar tuan! Kita sedang berada di tengah kota. Tidak baik kalau anda terus melamun."
__ADS_1
Jean tersenyum masam mendengar kedua gadisnya yang mengeluh. Mereka benar. Di tengah situasi seperti ini, tidak baik untuk terus memikirkan sesuatu yang jauh. Dia punya orang terdekat yang harus dilindungi.
"Baiklah! Aku punya tempat makan yang sangat lezat. Bagaimana kalau kita ke sana sekarang? Aku yakin kalian sudah lapar."
Selena dan Charlotte saling memandangi satu sama lain. Mereka lalu tertawa. Sudah diputuskan, mereka akan mengikuti Jean!
Siang itu ketiganya bersenang-senang. Jean mengajak mereka ke restoran, mampir ke beberapa toko kenalan Jean yang ada di kota, menyapa orang-orang yang lewat dengan hati gembira, dan lain-lain.
Terutama Selena dan Charlotte. Keduanya terus menempel pada Jean. Sayang sekali tidak ada Natasha di sini. Kalau bisa, Jean ingin mengajak Natasha juga.
Sudah lama Jean tidak menikmati momen luang seperti ini. Cocok untuk menjadi penyeling sebelum acara yang sesungguhnya di mulai.
__ADS_1
Ah, sepertinya pertunjukan selanjutnya akan menjadi lebih luar biasa, ya?