
Viscount Lostov berusaha untuk meredakan amarahnya. Semua argumen yang Jean lemparkan padanya membuat dia kehilangan ketenangannya. Dia terlalu meremehkan bocah itu.
"Baiklah, tuan Jean. Mari kita berlanjut ke pembicara berikutnya. Tapi sebelum itu, aku ingin memberikanmu sebuah informasi."
Viscount Lostov membeberkan beberapa informasi pada Jean. Dia berusaha memilah agar tidak memberikan informasi yang vital pada seorang bocah.
"Kerajaan Dublin berniat untuk berperang dengan dua kerajaan yang ada di selatan."
Di sebelah selatan, kerajaan Dublin berbatasan dengan dua kerajaan kecil lainnya. Kerajaan Vilnius dan kerajaan Bucharest. Kedua kerajaan ini memegang kendali atas pelabuhan dan laut yang menjadi jalur perdagangan nan ramai.
Jean memahami arah pembicaraan Viscount Lostov. Dia berniat menjadikan Jean dan HuCas sebagai sumber pendanaan untuk perang yang akan terjadi di depan mata.
"Karena itulah, aku menginginkan kerjasama antara keluarga Lostov dengan dirimu yang mewakili HuCas. Aku yakin kerajaan Dublin akan memenangkan peperangan ini dan aku serta dirimu akan mendapatkan status dan kehormatan yang lebih tinggi!!"
Melihat Viscount Lostov yang berapi-api, Jean sebisa mungkin menahan tawanya. Dia benar-benar menginginkan status yang lebih tinggi ya?
__ADS_1
Viscount Lostov yang sadar akan tingkahnya langsung berdeham dan berusaha mengembalikan wibawanya. Dia matian-matian berusaha menyembunyikan niatnya tetapi dirinya tidak seterampil itu.
"Maafkan saya, Viscount Lostov. Saya harus membicarakan ini dengan Charlotte terlebih dahulu. Mau bagaimana pun, HuCas pada dasarnya adalah milik Charlotte sepenuhnya dan saya hanya ditugaskan untuk mengelolanya.
"Karena itu, semua keputusan penting harus didiskusikan bersama dengannya. Saya tidak bisa menentukannya secara sepihak."
Viscount Lostov terlihat kecewa. Tapi Jean tidak peduli dengan reaksinya. Jean memang ambisius tapi dia bukan orang yang dibutakan oleh ambisinya sendiri. Jean adalah orang yang rasional dan kalkulatif.
Kalau ternyata mendukung dan memberikan bantuan tidak mendatangkan keuntungan apapun padanya, untuk apa Jean harus bekerja sama dengan Viscount Lostov?
Setelah itu, Jean tidak banyak berbicara lagi pada viscount Lostov. Dia tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Jean ingin pulang dan bertemu dengan dua gadis manisnya.
Pembicaraan mereka akhirnya selesai ketika matahari telah tenggelam di ufuk barat. Sebelum pergi, Jean makan malam terlebih dahulu bersama keluarga Lostov. Natasha yang ikut makan malam mencuri pandang pada Jean, terlepas dari dia duduk di samping tunangannya, Hansen Baldric.
Sayangnya, ada satu kursi kosong. Itu adalah kursi milik Joan Lostov yang tewas dalam tragedi penyerangan para budak. Tidak usah sedih. Toh, kematian dan kehidupan Joan tidak akan membawa apapun padanya.
__ADS_1
Sebelum pergi, Jean memberikan isyarat pada Natasha.
'Aku akan datang ke kamarmu lagi malam ini, Natasha.'
Kurang lebih begitulah isyaratnya. Natasha terlihat sangat bahagia. Senyumnya yang indah mekar di wajahnya, membuat Hansen Baldric langsung dibakar api kecemburuan. Dia tidak pernah mendapat senyum seperti itu! Wajar saja. Hansen adalah bocah arogan, manja, dan abusif. Termasuk pada Natasha.
Begitu Jean keluar, dia mengambil kudanya yang dia letakan di kandang kuda milik Viscount Lostov dan langsung memacunya ke luar area Utara.
Jean langsung bersiul di luar area utara dan keluarlah sepuluh orang berpakaian hitam dari balik bangunan. Jean memberikan instruksi kepada mereka dan memerintahkan mereka untuk segera melaksanakannya.
'Sebentar lagi badai akan datang. Langit menjadi lebih gelap tanpa matahari dan orang-orang akan diliputi ketakutan. Aku bertanya-tanya akan berada di mana posisiku kelak?'
Jean merenungi hal itu sembari memacu kudanya menuju rumahnya.
Maka, biarlah waktu yang akan menjawab pertanyaan Jean.
__ADS_1