Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Menanam Rasa Takut


__ADS_3

Pangeran Hans menggertakan giginya ketika dia merasakan penghinaan datang dari orang yang sedang berlutut di depannya. Selama 19 tahun dia hidup dan dibesarkan di istana, baru kali ini dia dipermalukan oleh seseorang yang secara status berada jauh di bawahnya!


Ini semua bermula ketika dia, atas nasihat dan saran dari Hansen Baldric dan Greg Cassilas, memanggil salah satu komandan yang ikut dalam perang ini, Jean, untuk datang ke hadapannya.


Ketiganya berniat untuk melemparkan tanggung jawab atas tragedi yang telah terjadi tadi siang kepada Jean.


Asumsi dia sederhana. Bagaimana bisa Jean mengetahui posisi musuh secara presisi? Itu berarti dia telah merencanakan ini semua dan berkhianat! Karena itu dia harus dihukum!


Pangeran Hans memanggil bangsawan lain dan para pedagang yang ikut bersamanya. Biarkan mereka juga ikut menentukan hukuman yang tepat untuk seorang pengkhianat!


Begitu Jean datang, orang itu langsung berlutut di hadapannya. Dia memperkenalkan diri dan mengatakan bahwa dirinya adalah perwakilan dari perusahaan HuCas. Pangeran Hans dan semua orang memberikan tatapan merendahkan di sana.


"Mari kita langsung ke intinya. Jean, atas nama diriku dan kerajaan Dublin, memberikan vonis hukuman mati padamu atas pengkhianatan yang telah kau lakukan!"


Semua yang hadir menjadi ramai. Mereka berbisik-bisik, mencemooh, dan mencela laki-laki bernama Jean. Bagaimana bisa ada seorang yang membelot di hadapan mereka?

__ADS_1


Terlepas dari celaan dan cemoohan yang datang padanya, Jean tetap terlihat tenang. Matanya menatap pangeran Hans dengan sangat dalam. Seolah-olah sedang mengoyak kepercayaan diri miliknya.


Rasa tidak nyaman menyerang pangeran Hans. Tubuhnya, entah kenapa, bergetar dengan sendirinya. Perasaan yang paling manusia benci perlahan tumbuh dalam dirinya. Rasa takut.


BUAAKKK!!


Mungkin tidak tahan dengan situasi yang sedang terjadi, Hansen menendang wajah Jean dengan sepatu besinya. Tidak seperti yang orang lain harapkan, Jean tidak terpelanting. Dia juga tidak terlihat kesakitan. Malah, Hansen yang meringis karena rasa sakit yang menyerang kakinya.


"Ini mungkin tidak sopan, tetapi saya harus mengatakan kalau anda telah melakukan kesalahan besar, yang mulia pangeran."


"Bocah menjijikan! Bajingan sepertimu yang telah mengkhianati kerajaan Dublin tidak pantas untuk mengeluarkan kalimat seperti itu!! Penjaga! Bawa dan eksekusi dia!"


Ksatria yang sedari tadi berdiri di seluruh sudut tenda segera melaksanakan perintah Greg Cassilas. Namun, begitu mereka meraih tubuh Jean, tubuh mereka berhenti secara mendadak. Rasa sakit mendera tubuh mereka. Jantung mereka nyaris berhenti berdetak dan mulut mereka memuntahkan darah.


"Sudah saya katakan yang mulia, anda telah melakukan kesalahan yang fatal. Kesalahan Pertama anda adalah meremehkan musuh-musuh anda."

__ADS_1


Mata Jean kini menatap mereka lagi. Tetap tenang, tapi kali ini sangat menusuk. Greg dan Hans mencoba untuk tetap kokoh namun Hansen telah pingsan karena tatapan yang Jean berikan.


"Anda pikir diri anda adalah orang yang cerdas, pangeran? Mungkin bagi anda dan beberapa bawahan Anda, ya. Tetapi bagi saya, anda tidak lebih dari seorang pria bodoh dan sembrono.


"Anda tidak mengirimkan unit pengintai ke garis depan untuk memastikan seluruh kondisi dan mendapatkan informasi. Apakah anda berpikir kalau musuh anda bodoh sehingga mereka santai? Tentu saja tidak. Mereka telah mendapatkan informasi mengenai kedatangan kita dan mempersiapkan tentara bayaran untuk menyergap kita.


"Lalu yang anda lakukan? Anda dan yang lainnya hanya bisa frustasi ketika musuh menyerang dan membunuh orang-orang kalian. Bahkan untuk melampiaskan frustasi itu, anda membunuh hampir seluruh penduduk desa ini. Bahkan anda menuduh saya seorang pengkhianat karena mengetahui posisi musuh.


"Bagi saya, anda hanyalah seseorang yang bodoh dan pengecut."


Kalimat terakhir Jean benar-benar pukulan bagi pangeran Hans. Meskipun dia ingin memenggal kepala Jean saat itu juga, anehnya dia tidak bisa melakukan apapun. Seolah-olah ruang di sekitarnya menyempit dan menggencet tubuhnya. Tulang miliknya serasa remuk. Hal yang sama juga di rasakan oleh Greg dan yang lainnya.


"Baiklah, saya pergi dulu, yang mulia pangeran. Jika anda membutuhkan saya, kirim saja urusan ke tenda saya. Kalau begitu, sampai bertemu lagi."


Pangeran Hans, Greg Cassilas, dan yang lainnya melihat Jean dengan santai melenggang pergi. Tidak ada yang berani melakukan apapun. Tidak ada yang bisa mencegahnya. Jean telah menanamkan rasa takut dalam diri mereka.

__ADS_1


__ADS_2