Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
New Life In Kingdom Of Warsawa


__ADS_3

Jean dan yang lainnya baru sampai ke Krakov city tiga hari kemudian. Seperti yang telah dijadwalkan. Kota ini ramai. Lebih ramai daripada Saint Georgia. Tentu saja ukurannya lebih besar. Dalam banyak hal, kota ini juga lebih maju.


'Jadi inikah, salah satu kota terbesar di bagian tengah benua Akkadia. Jauh lebih padat dan megah.'


Jean cukup terkesan. Elyse juga cukup antusias. Untuk Elsie, karena gadis ini pemalu, dia tidak terbiasa dengan keramaian. Pada akhirnya, dia menyembunyikan wajahnya di dada Jean.


"Tapi.... Membosankan."


Benar, membosankan. Itu yang Jean rasakan. Sama seperti Saint Georgia City, Utah, dan Eisen beberapa waktu yang lalu. Meski ramai, Jean tidak bisa merasakan kehidupan. Semu dan kaku.


Tidak banyak senyuman. Tidak banyak tawa bahagia. Anehnya, mereka juga tidak bersedih. Mereka hanya....hampa. Jean jadi berpikir kalau mereka kota ini membutuhkan sedikit sentuhan. Tapi yah, itu bukan urusan dia. Setidaknya untuk sekarang.

__ADS_1


Yang menjadi urusannya sekarang adalah mengurus kedua anak ini dan mencari kakak dan ibunya. Jean memang tidak tahu persis dimana keberadaan mereka. Tetapi jika itu ibunya, dia pasti akan membawa Jeanne ke tempat terdekat dan aman. Dan negeri ini adalah kemungkinan paling besar.


Akan lebih mudah kalau Jean memiliki rumah. Tapi uang yang tersisa tidak cukup untuk membeli rumah. Kalaupun cukup, rumah tersebut adalah rumah yang jorok di pemukiman kumuh. Jean tidak keberatan, tapi dia tidak ingin membahayakan kedua anak istimewa ini.


"Ara, kamu terlihat kebingungan nak. Adakah sesuatu yang bisa nenek tua ini bantu?"


Seorang wanita tua memanggil Jean dari belakangnya. Ia membawa keranjang dari anyaman kayu berisi berbagai sayur dan bahan makanan lainnya yang ia beli dari pasar.


Jean yang mengetahui kehadiran wanita tua ini sejak awal, tersenyum ramah. Tidak ada yang bisa menipu mata Jean. Dan memang benar, wanita tua yang menanyainya tidak mengeluarkan aura apapun kecuali kehangatan, keramahan, dan kejujuran. Karenanya, Jean tanpa ragu membalas dengan senyuman ramah pula.


Nenek itu tertawa kecil mendengar permintaan Jean. Dengan tatapan yang teduh, dia memandangi kedua gadis cilik yang Jean gendong.

__ADS_1


"Kenapa tidak menginap di tempat kami saja untuk sementara waktu. Kamu tahu nak, aku dan suamiku tinggal sendirian di luar tembok kota. Kami akan sangat senang jika ditemani oleh kalian."


Jean tersenyum tipis. Tidak perlu baginya untuk menolak. Jean tidak merasakan adanya niat buruk dari mereka. Tidak juga dengan maksud tertentu. Jean tidak tahu dengan suaminya, tapi yang jelas, nenek ini adalah wanita tua tulus yang kesepian. Itu saja.


"Kalau begitu, kami akan dengan senang hati menerima tawaranmu, nenek."


Wanita tua itu memberikan isyarat kepada Jean untuk mengikutinya. Kota ini memiliki empat gerbang. Rumah sang nenek berada dua kilometer dari luar gerbang barat kota Krakov. Tidak bisa dibilang pedesaan, tetapi suasananya tidak sesumpek di dalam kota.


Tergantung di luar gerbang mana, suasananya bisa sangat berbeda. Rumah sang nenek adalah sebuah rumah kayu berukuran sedang. Tidak besar, tapi jauh dari kata kecil. Ada dua kursi dan satu meja di teras rumah.


"Ini adalah rumah kami. Masuklah dan jangan sungkan. Kebetulan, kami memiliki sebuah kamar kosong untuk kalian. Ayo."

__ADS_1


Jean yang menggendong Elyse dan Elsie melangkah masuk ke rumah sang nenek. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan rumah ini, bersahaja. Meski tidak furnitur mewah, tetapi kesederhanaannya membawa kenangan bagi Jean. Suasana di rumah ini mirip dengan rumahnya yang dulu, ketika ia tinggal bersama ayah, ibu, dan kakaknya.


Petualangan baru Jean akan dimulai. Akan ada banyak yang terjadi ke depannya. Sesuatu yang benar-benar mengubah cerita dunia. Namun, itu adalah cerita untuk masa depan.


__ADS_2