Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Cursed Twins


__ADS_3

Sayup-sayup Jean membuka matanya. Dia merasa pengap dan gerah. Gelap. Ruangan ini sangat gelap. Saat ia ingin menggerakan tubuhnya, Jean sadar kalau dia terikat. Tangan, kaki, dan tubuhnya. Meronta juga sia-sia. Ikatan ini sangat kuat.


Jean mengklik lidahnya. Seperti yang ia pikirkan, Piotr memang bukan sekedar kepala desa yang ramah. Dia jauh lebih 'ramah' dari yang dia duga. Tapi tidak masalah. Orang tua itu tidak bisa menjadi apapun padanya.


Meski gelap, Jean bisa melihat sekelilingnya. Tidak salah lagi, ini adalah ruang bawah tanah. Suara tikus yang mencicit dan kecoak yang berkeliaran dengan bebas sudah cukup untuk menjadi bukti.


Ditambah lagi, ruangan ini dibanjiri oleh air yang sangat bau. Memang tidak dalam, bahkan tidak sampai mata kaki. Tetapi siapapun yang masuk ke ruang ini pasti akan muntah karena baunya.


Jean tetap diam untuk beberapa saat, sampai akhirnya suara seperti sebuah pintu besar yang dibuka terdengar. Jean sedikit menoleh. Pintu itu adalah penghubung antara dunia luar dan ruang bawah tanah ini. Cahaya matahari masuk lewat sana. Begitu juga dengan beberapa orang. Setelah dihitung, jumlah mereka 14.


"Kamu sudah bangun, nak?"


Suara Piotr bergema ke seluruh ruangan. Suaranya masih sama, serak. Tapi intonasinya berbeda. Tak ada lagi keramahan di dalamnya. Jean bisa merasakan kelicikan dan kebohongan dalam dirinya.


Piotr diikuti oleh 13 orang lainnya. Mereka adalah para pemuda berusia 20 tahunan dengan tubuh kekar dan tampang seram. Jean dengan jelas melihat bahwa tingkat kultivasi mereka berada di tingkat 4.


"Yah, pak tua. Tidak sopan membiarkan tamu anda untuk tidur di ruang bawah tanah kotor ini kan? Anda memang bukan tuan rumah yang baik."

__ADS_1


Piotr tertawa kecil. Namun dia terbatuk. Tubuh tuanya berguncang cukup keras. Seandainya tidak ditopang oleh pemuda yang ada di belakangnya, dia mungkin sudah terjungkal ke lantai yang dipenuhi oleh air menjijikan ini.


"Ini mungkin bukan nasib baikmu nak. Sayang sekali kau menemukan tempat ini. Kau tahu kenapa tempat ini memiliki penduduk yang sedikit? Jawabannya sederhana, aku menjual mereka kepada para pedagang budak dan mendapatkan uang yang banyak dari sana.


"Berkat para pemuda yang ada di belakangku, tidak ada yang berani melawan. Mereka dengan patuh menyerahkan diri mereka kepada para pendagang budak dan di bawa ke ibukota. Mereka akan mendapatkan kehidupan yang lebih layak saat berada di bawah orang-orang kaya, kan?"


Piotr tertawa kecil lagi. Jean pada akhirnya paham. Selain karena serangan bandit, desa ini juga miskin karena kepala desanya menjual penduduk ke pedagang budak. Bagaimana pun, ini adalah praktik yang cukup umum. Jean sendiri tidak begitu peduli dan tidak tertarik dengan cerita pak tua Piotr.


"Jadi, apa yang ingin kau lakukan sekarang pak tua? Menjualku sebagai budak juga? Hmmmm.... Dengan kondisiku yang sekarang, kau akan mendapat harga yang bagus."


Mata Piotr yang telah menyipit memandangi Jean dengan tajam. Dia dan para pemuda yang ada di belakangnya berusaha mengeluarkan intimidasi namun Jean tidak merasakan apa pun. Lucu sekali melihat mereka berusaha keras untuk menekannya.


"Tapi ini lebih baik daripada tidak mendapatkan apa-apa. Toh, bukan hanya dirimu saja yang akan kujual. Hei kau, ambilkan barang yang lain!"


Piotr menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengambil sesuatu. Sesaat kemudian, anak buahnya membawa kandang yang biasa dipakai untuk mengurung anjing liar. Namun yang ada di dalamnya sama sekali bukan anjing. Mereka adalah dua gadis kecil berusia 12 tahun-an.


Jean sudah mengetahui keberadaan mereka sejak awal. Jadi dia tidak terkejut. Yang membuat dirinya kaget adalah kekuatan aneh yang ada di dalam keduanya. Jean belum memiliki petunjuk mengenai kekuatan macam apa yang mereka miliki, namun satu hal yang pasti, kekuatan itu bukan sesuatu yang main-main.

__ADS_1


Dua gadis itu sedang tertidur. Jean bisa melihat jejak air mata di wajah mereka. Begitu juga dengan raut ketakutan. Piotr yang melihat keduanya tertawa kencang.


"Tidak ada yang mau membeli mereka. Siapapun yang menyentuh mereka, pasti orang itu akan sial. Kehadiran mereka menjadikan desa ini sebagai tempat yang sangat buruk! Untunglah seseorang datang kepadaku dan mengatakan akan membeli mereka! Hahahaha!!"


Piotr tertawa kencang. Anak-anak buahnya menyeringai lebar. Yang tidak mereka sangka, Jean juga ikut tertawa terbahak-bahak. Mereka adalah sekelompok orang yang sangat lucu!


Salah satu dari pemuda itu sangat kesal. Dia menghampiri Jean dan siap melayangkan tinjunya. Tapi sayang, apa yang dia harapkan tidak pernah terjadi. Pemuda itu merasakan sakit di lehernya. Mulutnya mengeluarkan darah segar.


Saat ia menyadari, semuanya sudah terlambat. Lehernya telah berlubang dan darah menyembur deras dari sana. Tubuh besarnya terbanting ke lantai dan nyawanya melayang saat itu juga.


"A-apa yang kau lakukan!? Ka-kalian, cepat bunuh anak ini!"


Piotr merasakan ada sesuatu yang berbahaya dari Jean dan dia tidak menyia-nyiakan waktunya. Piotr memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi Jean saat itu juga namun yang terjadi malah sebaliknya.


Bahkan sebelum matanya Piotr berkedip, Jean telah menghilang dari kursinya. Semua ikatannya telah terlepas. Dia muncul di belakang para anak buahnya dan membunuh mereka sekaligus dengan mencopoti kepala mereka satu persatu. Semua itu ia lakukan dalam waktu sepuluh detik.


Mata Piotr dipenuhi ketakutan saat ia melihat Jean tersenyum ke arahnya. Dia tidak bisa melarikan diri. Senyum Jean semakin lebar saat dia mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan sesuatu.

__ADS_1


"Selamat tinggal, pak tua Piotr."


Dan hanya dengan begitu, kepala Piotr terpisah begitu saja dari badannya.


__ADS_2