
Seperti biasa, meskipun tidak besar, Saint Georgia City ramai di siang hari. Penduduk berlalu lalang di jalan yang sempit. Gerobak yang ditarik oleh kuda berdesakan dengan lautan manusia, berebut jalan.
Sesekali, bocah-bocah tanpa keluarga dan rumah berkeluarga dari satu kios ke kios yang lain. Mereka bahu membahu mencuri roti atau buah-buahan. Setidaknya, mereka makan satu suapan hari ini.
Debu-debu berterbangan. Matahari yang bersinar di langit membuat siang menjadi semakin terik dan gerah. Wajar saja, sekarang sedang musim panas.
Tapi, hiruk-pikuk itu akhirnya menjadi kerumunan yang sangat kacau ketika teriakan dan jeritan terdengar di berbagai sisi kota.
Awalnya orang-orang tidak mengerti. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mereka juga tidak begitu peduli.
Tetapi ketidakpedulian pada situasi di sekitar mereka pada akhirnya membawa bencana untuk diri mereka sendiri. Secara tiba-tiba, ayunan pedang secara acak mengenai mereka!
Awalnya semua orang masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi sesaat kemudian, mereka memahami situasinya. Sayang, mereka terlambat.
Ratusan orang menyerbu kota di siang itu. Di tangan mereka terdapat pedang, tombak, dan senjata tajam lainnya. Mereka sama sekali tidak pandang bulu. Anak-anak, dewasa, dan orang tua ataupun laki-laki dan wanita menjadi target pembantaian.
Darah mulai membanjiri jalanan. Teriakan dan pekik kematian memenuhi langit ibukota kerajaan Dublin. Kepala yang terpenggal, kaki dan tangan yang bertebaran, serta isi tubuh yang berceceran memenuhi jalanan ibukota.
Bahkan jika kau berlindung dalam sebuah bangunan pun, kau belum tentu selamat dari amukan para perusuh. Mereka membakar satu persatu bangunan yang berdiri, memanggang penghuni yang ada di dalamnya.
__ADS_1
Tangisan, jeritan, dan pekikan kematian terdengar silih berganti, juga suara tawa puas dari para pembantai. Mereka bersenang-senang dengan orang-orang yang mereka bunuh.
"BANTAI SEMUANYAAA!!"
"JANGAN BIARKAN SATU ORANG PUN LOLOS!!"
"HABISI MEREKA!!"
Gerakan mereka tidak terhenti. Tidak, lebih tepatnya tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Mereka terus saja membunuh dan menghancurkan. Mereka memenggal kepala anak-anak, menginjak-injak wanita hingga tulang-tulang mereka yang rapuh remuk, dan dengan senang hati menebas orang-orang dewasa yang sepantaran dengan mereka.
Tragedi ini terjadi di seluruh bagian kota. Utara, selatan, timur, dan barat. Api berkobar melahap bangunan, asapnya membumbung tinggi ke langit siang.
Dia berlari berlawanan dengan gelombang warga yang panik. Setiap dia melihat seorang perusuh, anak itu langsung membunuhnya.
Satu orang, dua orang, dan seterusnya. Total, dia telah membunuh 30 perusuh. Mayat mereka tergeletak di samping orang-orang yang mereka bunuh.
Dia berjalan di atas darah yang menggenangi jalanan. Tatapan dingin terpancar dari matanya yang hitam. Wajahnya tenang, seolah melihat sesuatu yang dalam.
Para perusuh kemudian menyadari ada sesuatu yang salah. Perlahan, kekacauan mulai mereda. Itu berarti rekan mereka telah tiada. Segera, mereka merasakan kehadiran yang sangat mengerikan, seolah mengintai mereka dari segala sisi.
__ADS_1
Dan orang yang telah mengawasi gerak-gerik mereka, muncul di hadapan semuanya.
"Kalian telah melakukan tugas kalian dengan baik sesuai bayaran yang telah aku berikan pada kalian. Kerja bagus. Sekarang kalian boleh bubar."
Pemuda itu berdiri dengan senyum penuh arti dihadapan para perusuh yang tersisa. Rasa takut tiba-tiba menyelimuti tubuh mereka. Namun bukan itu yang terpenting. Dia adalah orang yang sama dengan lelaki yang mendatangi mereka di gang sempit yang ada di seluruh kota.
"K-kau....kau orang yang kemarin malam kan!? Kenapa kau ada di sini!? Apakah kau ingin menghalangi kami!?"
Salah satu dari para perusuh seolah menolak kehadirannya. Dialah yang paling disegani di antara perusuh yang lain. Orang yang juga menguasai gang-gang sempit nan penuh tikus.
"Menghalangi? Oh, tentu saja tidak. Tapi tugas kalian telah selesai. Kalian harus segera pergi dari sini."
Anak laki-laki itu dengan santai mengayunkan pedangnya. Jarak mereka berdiri jelas cukup jauh. Setidaknya cukup jauh dari jangkauan pedang. Namun karena ayunan pedang itu, lima orang langsung tewas dengan tubuh mereka terbelah secara vertikal.
"Terimakasih atas kerjasama kalian. Berkat kalian, rencanaku berhasil dengan sempurna."
Dengan seringai di bibirnya dan ekspresi ketakutan para perusuh yang berjumlah 20 itu, anak laki-laki itu dengan santai melakukan pembantaian pada mereka.
Hanya dalam waktu dua jam, kerusuhan berhenti ketika anak itu, Jean, turun tangan.
__ADS_1