
Haroon memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menghabiskan pemuda yang berdiri di depan mereka. Salah satu anak buah Haroon dengan ranah [Earth Realm] tingkat delapan mengeksekusi perintah tersebut. Dia mengeluarkan pedang pendeknya dan menyalurkan energinya ke bilah pedang tersebut, membuatnya memancarkan aura berwarna merah.
Setelah memakai sihir penguatan tubuhnya, orang itu langsung melesat ke arah pemuda tersebut, bersiap untuk mengambil kepalanya. Bahkan tidak perlu waktu 15 detik untuk menyingkap pemuda itu. Setidaknya itulah yang ada di pikiran Haroon.
Ekspektasinya hancur seketika. Hanya beberapa meter sebelum pedang anak buahnya menyentuh sang pemuda, secara tiba-tiba tubuh anak buahnya hancur berkeping-keping. Seperti digilas oleh sebuah benda yang sangat besar. Ekspresi jijik terlukis di wajah Haroon. Sementara pemuda tersebut, ia hanya tersenyum dengan santai.
Berbahaya! Haroon mundur selangkah. Entah kenapa, ia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Rasa takut. Haroon segera mengeluarkan perintah untuk anak buahnya yang lain.
"Dengarkan! Perubahan rencana! Abaikan rumahnya dan habisi anak itu!"
Anak buah Haroon tentu merasa takut ketika melihat rekan mereka musnah begitu saja. Tetapi rasa takut mereka pada Haroon jauh lebih kuat. Karena itu, mereka segera bersiap melancarkan serangan pada musuh baru mereka.
Haroon sendiri melakukan penilaian secepat mungkin. Jika dilihat dari auranya, pemuda itu berada di ranah [Earth Realm] peringkat tujuh. Dengan kekuatan penuhnya, dia bisa mengalahkan dua hingga tiga tingkat di atasnya.
__ADS_1
Namun Haroon memahami bahwa pemuda itu memiliki batas. Jika semua anak buahnya menyerang secara bersamaan, sudah bisa dipastikan bahwa anak itu pasti akan kalah. Kalaupun ia menang, Haroon akan segera menyerangnya saat pemuda itu sudah mencapai batasnya dan menghabisinya saat itu juga.
"Serang!!"
Sembilan anak buah Haroon menyerang musuh mereka di saat bersamaan. Empat orang menyerangnya secara frontal dan lima lainnya menjadi pendukung dengan sihir di belakang.
Melihat sembilan orang yang menerjang ke arahnya, pemuda itu tidak bergeming. Yang ia lakukan hanyalah menghembuskan nafas lalu menggeleng, seolah kecewa karena melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Haroon yang melihat ekspresi pemuda itu merasa direndahkan dan diremehkan. Seolah-olah pemuda itu meragukan kekuatan yang ia dan anak buahnya miliki. Haroon juga bersiap-siap.
Tidak hanya itu. Anak buahnya yang berperan sebagai mage juga musnah. Tetapi dengan cara yang sangat berbeda. Tubuh mereka terbelah dua secara vertikal. Selayaknya sebuah pisau panas yang membelah mentega. Potongan tersebut sangat rapih dan tanpa cela.
Dalam waktu kurang dari 20 detik, Haroon kehilangan sepertiga anak buahnya. Rasa dingin menjalar ke punggungnya. Rasa takut telah mendominasi dirinya. Namun, Haroon tetap mencoba untuk menguasai diri. Menggunakan kejernihan yang tersisa di kepalanya, Haroon menghitung peluang kemungkinan untuk mundur bersama anak buahnya yang tersisa.
__ADS_1
Haroon dengan sigap melemparkan puluhan pisau yang tersimpan di balik pakaiannya ke arah pemuda tersebut. Saat perhatiannya teralihkan, Haroon segera memanggil dan memerintahkan anak buahnya yang tersisa untuk mundur.
Tapi tidak ada yang memenuhi perintahnya. Tidak ada satupun anak buahnya yang datang kepadanya lalu ikut melarikan diri. Haroon merutuk. Kita tidak punya banyak waktu!
Barulah ketika Haroon menoleh ke arah pemuda tersebut, ia tersadar. Seorang maid bertopeng putih polos telah berdiri di sisi pemuda tersebut. Di tangannya, ia menggenggam lima kepala anak buahnya yang telah tewas terpenggal.
"Bajingan! Beraninya kau membunuh anak buahku! Aku bersumpah akan menghancurkan kalian hingga tak bersisa!"
Haroon tidak bisa menahan emosinya yang telah meluap. Aura [Sky Realm] tingkat satu miliknya meledak-ledak. Tentu, apa yang ia lakukan akan menarik perhatian banyak pihak. Tapi Haroon tidak peduli. Baginya, membalaskan dendam untuk anak buahnya yang setia adalah hal terpenting. Bahkan ia telah melupakan misi yang sudah diberikan oleh tuannya.
"Tenang. Aku tahu kau ingin membalaskan dendam anak buah yang telah bersamamu selama belasan tahun. Sayangnya, lawan kau malam ini bukan aku, melainkan dia."
Pemuda itu menunjuk ke arah maidnya dan maid tersebut mengangguk. Haroon tersenyum. Melawan maid tersebut mudah. Setelah membunuhnya, ia akan menghabisi dan menyeret pemuda itu ke hadapan tuannya.
__ADS_1
Babak kedua akan segera dimulai.