Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Arrive To The South


__ADS_3

"Jean....apakah kamu benar-benar akan... pergi."


"Jean.... berhati-hatilah."


"Jaga dirimu, tuan."


Di kamarnya yang hanya diterangi oleh sinar rembulan, Jean memeluk ketiga kekasih anda dengan lembut. Malam ini, Natasha juga 'bermain' dengannya.


Hari ini, saatnya telah tiba. Pasukan kerajaan Dublin akan berangkat menuju selatan untuk berperang.


Natasha, Charlotte, dan Selena meringkuk dalam pelukan Jean. Tidak usah ditanya, mereka jelas khawatir dengannya. Tetapi Jean meyakinkan ketiganya kalau dirinya akan baik-baik saja.


"Tenang, tenang. Aku pasti akan kembali dengan selamat, apapun harganya."


Jean mencium kening tiga gadisnya, membuat wajah mereka menjadi pink karena malu.


Mereka berempat berpelukan untuk beberapa saat lagi. Keempatnya saling memahami. Peran Jean dalam perang ini dibutuhkan. Ini momen bagi dirinya untuk bersinar. Ini juga waktu bagi Jean untuk merasakan langsung bagaimana Medan perang yang sesungguhnya.

__ADS_1


Keempatnya jatuh tertidur sejenak, untuk kemudian terbangun ketika matahari telah terbit dan kicauan burung yang merdu telah terdengar di antara baris pepohonan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jean dan pasukannya berkumpul di alun-alun Saint Georgia City. Dia membawa 500 rekrutan yang terdiri dari para pemuda yang dia latih secara pribadi. Berbeda dengan sukarelawan lainnya, semua pemuda yang Jean rekrut memiliki postur tubuh yang ideal. Tentu saja, itu semua berkat pelatihannya.


Selain 500 orang dari HuCas, Jean juga membawa 200 tentara bayaran. Lebih tepatnya, mereka adalah Serigala Putih yang disamarkan sebagai tentara bayaran. Total, Jean mengomandoi 700 orang.


Di tengah alun-alun, pangeran Hans sedang memberikan pidato kemenangan yang berapi-api, seolah yakin bahwa Dewi berada di pihaknya dan akan membawa dirinya pada kemenangan.


Bagaimana bisa pangeran memilih dia untuk menjadi pendampingnya?


Yah, bukan berarti Jean peduli. Hansen Baldric memang salah satu orang terdekat pangeran di samping Greg Cassilas. Kehadirannya penting untuk melanggengkan kekuasaannya di masa depan. Itupun kalau dia berguna.


Pidato berapi-api pangeran Hans disambut dengan sorakan dari para ksatria dan bangsawan. Sementara rakyat jelata yang secara paksa diperintahkan untuk menjadi milisi benar-benar tidak tahu apa yang pangeran katakan.


Setelah pidatonya selesai, pangeran dan kedua punggawanya turun dari podium kayu dengan dada terbusung.

__ADS_1


Panas matahari semakin menyengat. Siang itu juga, serdadu dari kerajaan Dublin berangkat menuju medan perang. Istri dan anak-anak mereka berdiri di sisi kanan dan kiri jalan, sembari menangis dan mengucapakan selamat tinggal pada orang-orang yang mereka cintai.


Mata Jean menangkap Selena, Charlotte, dan Natasha yang sedang tersenyum sembari menahan tangis ke arahnya. Jean bisa merasakan aura kesedihan yang meliputi diri mereka.


Saat tatapan mereka bertemu, Jean memberi senyum terbaiknya untuk mereka. Dia akan kembali dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Itulah yang Jean katakan pada mereka lewat matanya. Ketiga gadisnya akhirnya menangis dan melambai tangan pada dirinya, mendoakan keselamatan dan kemenangan untuknya.


Begitu mereka keluar dari gerbang kota, iring-iringan kerajaan Dublin berjalan ke arah timur, melewati wilayah Duke Cassilas, dan bergerak ke arah selatan setelah para bangsawan mengisi suplai mereka.


Jean bergerak di barisan paling belakang. Untuk pertama kalinya, Jean melihat secara langsung betapa kacaunya rantai komando kerajaan Dublin. Pergerakan pasukan sangat berantakan dan terfragmentasi.


Para bangsawan ataupun pedagang memberikan perintah kepada rombongan mereka dengan seenaknya. Bahkan jika ordo ksatria milik keluarga kerajaan yang dipimpin oleh pangeran Hans tetap bergerak, para bangsawan dan pedagang ini akan berhenti dengan sembarangan.


Tidak hanya itu, Jean juga selalu melihat kedua pasukan saling bertengkar satu sama lain bahkan untuk masalah-masalah remeh. Jean menghembuskan nafasnya dalam-dalam.


Apakah masih ada harapan untuk menang? Entahlah. Siapa yang tahu kan?


Perjalanan yang seharusnya diperkirakan akan sampai di tempat tujuan dalam tiga hari, benar-benar tertunda menjadi lima hari, yang akan berakibat fatal pada kerajaan Dublin.

__ADS_1


__ADS_2