
Jean terbangun paling awal daripada yang lain. Kabut tipis melayang di kamarnya. Dia bangkit dari kasurnya dan beranjak ke jendela dan membukanya. Dari ufuk timur, cahaya fajar sudah memenuhi langit. meskipun matahari sama sekali belum tampak.
Dia kembali memandangi kasurnya. Charlotte, Natasha, Selena, Priscillia, Rose, dan Nina sedang tertidur. Tanpa pakaian sama sekali. Kasur yang mereka tiduri sangat berantakan.
Malam tadi, Jean langsung bercinta dengan mereka semua. Nina memang menjadi pendatang baru. Namun berkat 'bimbingan' Jean dan yang lainnya, Nina menjadi terbiasa, bahkan sangat menikmatinya.
Dan sekarang, mereka masih tertidur pulas karena terlalu lelah menghadapi Jean yang sangat liar. Kini, nafas mereka sudah melembut. Tidak berapa lama lagi, mereka pada akan bangun dengan tubuh yang segar. Jadi, Jean membiarkan mereka tidur sedikit lebih lama.
Dia mengambil sebuah teko yang berisi air dan menuangkannya ke gelas. Sedikit mengalirkan energi ke tangannya, gelas yang ia genggam turut memanas, membuat air yang berada di dalamnya mendidih. Setelahnya, ia mengambil sejumput daun teh kering dan mencampurnya ke dalam air. Aroman wangi menyebar ke seluruh kamar dan menggelitik hidungnya. Tidak ada yang salah dari segelas teh hangat di pagi hari.
Sembari menikmati teh sambil memandangi pemandangan pagi, seseorang memeluk Jean dari belakang. Itu adalah Selena. Pekerjaannya sebagai seorang pelayan membuat dia bangun lebih cepat daripada siapapun. Tentu saja kecuali Jean.
"Selamat pagi, Selena. Kau bangun lebih cepat ya? Benar-benar seperti biasanya."
Selena yang siap memberi kejutan pada Jean langsung menggembungkan pipinya. Ekspresi cemberutnya membuat Jean gemas dengannya.
"Ya ampun, tuan. Anda tidak adil. Saya baru saja ingin mengejutkan anda."
Selena memeluk Jean dengan kasih sayang. Ngomong-ngomong, tubuhnya hanya tertutupi oleh selembar selimut tipis. Penampilannya justru lebih menggoda. Jean memeluk Selena dan meletakkannya di pangkuan dirinya.
Selena dengan manja menyandarkan kepalanya ke dada Jean. Keduanya menikmati pemandangan matahari yang mulai merangkak dari ufuk timur.
__ADS_1
"Anda senang sekali memandangi matahari terbit ya, tuan Jean."
"Begitulah. Matahari terbit adalah harapan bagi banyak orang. Di saat yang sama, ia juga pertanda kehancuran bagi banyak peradaban."
Selena tidak mengerti apa yang Jean katakan. Tentu saja Jean menyadari ketidaktahuan Selena. Dia dengan lembut mengelus rambut Selena, meminta dia untuk tidak terlalu memikirkan apa yang Jean katakan barusan.
Beberapa saat kemudian, ranjang berderit. Satu persatu, para gadis yang tertidur mulai terbangun. Selena dan Jean saling berpandangan lalu tertawa kecil. Sudah saatnya bagi mereka untuk melakukan tugas masing-masing.
Setelah mencium Jean mencium bibirnya sekali lagi, Selena memakai pakaian maidnya dan beranjak ke luar kamar. Dia dan pelayan lainnya harus menyiapkan sarapan. Jean meminta Selena untuk membawa sarapan ia dan para gadisnya ke kamar.
"Selamat pagi, semuanya."
Jean menatap semua gadisnya sembari tersenyum tipis. Kalau bisa, ia ingin memulai satu ronde lagi. Tapi melihat wajah mereka yang kelelahan, ia mengurungkan niatnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hmmm....Charl, kamu merasa ada yang tidak beres dari Jean kemarin dan hari ini, bukan?"
Natasha yang baru saja memasukan secuil roti ke mulutnya bertanya pada Charlotte yang telah selesai makan. Mendengar pertanyaan itu, Cahrlotte mengangguk.
"Entah bagaimana, aku merasa seperti itu. Bagaimana dengan yang lain?"
__ADS_1
Charlotte melempar pertanyaan pada gadis-gadis Jean yang lain. Priscillia, Rose, Nina, dan Selena menggeleng. Mereka memang merasakan ada sesuatu yang agak aneh, tapi tidak ada satupun yang tahu kenapa penyebabnya.
"Ah, baguslah kalau kalian masih di sini. Ngomong-ngomong, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian, sekarang juga."
Meski Jean mengatakannya dengan santai, ada hawa yang serius di sana. Tidak ada yang menganggap enteng hal ini. Mereka semua menegakan punggung dan mulai serius juga.
Melihat gadis-gadisnya yang tegang, Jean menghela nafas ringan. Mulai dari situ, dia membeberkan semua ide dan keinginannya. Termasuk.... meninggalkan tanah kelahirannya dan berkelana menuju penjuru benua Akkadia.
Awalnya para gadis senang. Mereka antusias. Tapi pernyataan Jean selanjutnya langsung membalik mood bahagia mereka 180 derajat.
"Maaf.....tetapi ini adalah perjalanan seorang diri. Aku tidak akan mengajak kalian."
Jean dengan jelas merasakan kemarahan, kecewa, dan kesedihan dalam mereka. Tentu saja, hatinya cukup sakit melihat mereka seperti itu. Tapi ini semua adalah jalan yang harus ditempuh oleh Jean. Tidak peduli seberapa berat dan sakitnya, Jean harus tetap melangkah. Ini semua demi mereka dan cita-citanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Author;
Saya rasa arc Jean di barat Akkadia telah berakhir. Saya memutuskan untuk membawa dia bertualang. Entah kenapa, saya merasa kalau Jean membutuhkan panggung baru untuk melakukan aksi "Jahat" dan "Kejinya".
Saya memutuskan untuk tidak mengajak para Heroine. Tapi tenang, peran mereka tidak akan terlupakan. Tentu saja akan banyak Heroine baru bermunculan.
__ADS_1
Kalau sempat, saya akan membuat glossary berisi daftar nama karakter dan latar tempat cerita ini.
Selamat menikmati semuanya.