Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Harapan Seorang Ibu


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan sekarang ya?"


Jean duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke sebuah pohon yang tertanam kokoh di dekat markas para bajak laut. Nafasnya sangat tenang. Matanya memandang matahari yang perlahan mulai terbit dari ufuk timur.


Jean membayangkan pemandangan jika seandainya tempat ini masih menjadi desa nelayan. Para pria pasti sedang melabuh untuk menurunkan hasil tangkapan mereka. Anak-anak akan dengan senang hati bermain disekitar pantai atau membantu ayah mereka. Para wanita akan membantu dengan memasak atau membetulkan jala yang rusak.


Jean mengambil sebotol air dan menenggak isinya. Begitu habis, ia langsung membuangnya ke sembarang tempat lalu bersandar lagi. Udara sejuk pagi ini. Ia ingin tidur sejenak. Tapi sepertinya tidak bisa. Jean tidak punya banyak waktu untuk itu.


Jean berdiri sambutan menepuk celananya yang penuh pasir. Di hadapannya, 300 mayat terhampar begitu saja, yang perlahan mulai membusuk. Jean tersenyum kecut. Ini adalah pekerjaannya semalam.


Kondisi mayatnya cukup tragis. Sebagian besar dari mereka terpenggal. Ada yang seluruh tubuhnya hancur dan menyisakan kepala saja. Ada juga yang anggota tubuhnya berceceran.


Jean melakukan sedikit peregangan untuk melemaskan tubuhnya yang kaku. Setelah melakukan beberapa pergerakan, dia memutuskan untuk pergi mengambil barang bawaan miliknya yang diambil oleh para perompak.


Untung semuanya masih aman. Tidak ada satupun yang sempat digunakan. Apalagi ia membawa belati berharganya. Belati yang ia rampas dari monster di alam lain. Dia belum pernah menggunakan senjata pada manusia sebelumnya. Dia sebenarnya berniat untuk menguji belatinya ke para bajak laut ini. Tapi mereka sudah mati terlebih dahulu.

__ADS_1


"Aku rasa tidak perlu menguburkan mereka. Rasanya, burung gagak akan senang menjadikan mayat-mayat ini sebagai makanan mereka."


Penyakit atau apapun pasti akan muncul dari sini. Tapi hei, itu bukan urusan Jean. Dia tidak akan melakukan semua ini kalau dirinya tidak dibawa ke tempat ini.


Jean memutuskan untuk meninggalkan tempat ini menjelang tengah hari. Setelah dia mengambil peta dan mengisi perbekalan. Dia tidak mengambil terlalu banyak. Terutama uang. Itu akan merepotkan dirinya sendiri mengingat dia membawa cukup banyak uang dari rumahnya.


Mulai dari sekarang, petualangan Jean di Central Akkadia benar-benar dimulai.


***


Sementara itu di kediaman Svetlana dan Jeanne.


Begitu juga Jeanne. Dia memang belum sekuat Svetlana, tetapi dia masih memiliki banyak ruang untuk berkembang. Jeanne adalah gadis yang berbakat. Ia menyerap semua pengetahuan baru layaknya spons. Termasuk dalam bertarung.


"Lumayan! Kamu semakin kuat Jeanne!"

__ADS_1


"Terimakasih mama!"


Pertarungan berakhir setelah Jeanne melesakan tinjunya ke perut Svetlana sementara Svetlana memberikan pukulannya ke dada Jeanne. Keduanya sama-sama terjatuh lalu tertawa.


"Dalam waktu dekat, kamu mungkin akan mengalahkan mama dengan mudah, Jeanne. Mama senang melihat dirimu yang sudah berkembang."


Mendengar pujian yang diberikan Svetlana, Jeanne tersenyum. Wajahnya memerah. Salah satu momen yang paling membahagiakan untuk dirinya adalah ketika Svetlana mengakuinya.


"Terimakasih.... Ini semua berkat mama. Tanpamu, aku mungkin sudah hancur sejak lama. Sekali lagi, terimakasih mama."


Svetlana tersenyum dan mengelus kepala putrinya. Dia berimajinasi kalau Jean dan Nicholai juga ada di sini, mereka pasti akan senang. Apalagi jika Jean ada di sini, pasti Jeanne akan memasang wajah sombong padanya.


Diam-diam, Svetlana menggeleng. Dia terlalu banyak mengkhayal. Nicholai sudah tidak ada. Dia jelas tidak bisa mengharap kalau suaminya akan hidup kembali, menemani dirinya selama sisa hidupnya.


Sementara untuk Jean, ia percaya dengannya. Svetlana dengan sepenuh hati meyakini bahwa dia bisa bertahan. Dengan kecerdasan yang jauh melebihi dirinya dan Jeanne, ia pasti telah meraih sesuatu yang tidak bisa mereka raih.

__ADS_1


Jauh di dalam hatinya ia berharap Jean akan datang kepada mereka. Dengan sifatnya yang hangat dan ceria, ia akan menjadi obat bagi Svetlana dan Jeanne yang kesepian. Tapi itu hanya mimpi pipa. Svetlana tidak mau membebani Jean. Terlepas dari fakta bahwa Jean bukan anak kandungnya, ia menyayangi Jean dengan cinta seorang ibu kepada anaknya.


Tanpa sadar, ia menitikan air mata. Jeanne yang melihat ini merasa jantungnya seperti ditusuk. Sangar menyakitkan.


__ADS_2