
"Haruskah kita masuk ke ronde selanjutnya, teman?"
Jean tersenyum mengejek. Dia tidak terlihat seperti orang yang siap untuk bertempur. Dia hanya menggunakan kemeja santai dan celana panjang. Tidak ada baju zirah. Bahkan pedang saja tidak terlihat di tangannya.
Tetapi para monster bertubuh merah dan bermata tiga yang berdiri tak jauh darinya tidak melepas kewaspadaan mereka sama sekali. Sebaliknya, sejak kemunculan Jean, mereka malah lebih was-was.
Tidak ada lagi seringai dengan air liur yang menetes. Tidak ada lagi tawa mengendalikan dengan lidah menjulur. Yang tersisa hanyalah tatapan takut.
Melihat kondisi mereka, senyum di bibir Jean semakin lebar.
"Tolong jangan lihat aku seperti itu, tuan-tuan. Yang monster itu kalian, bukan aku. Jadi ini semua terbalik kan?"
Meskipun Jean terus mengejek mereka, gerombolan monster itu jelas tidak mengerti apa yang dia katakan. Mereka hanya waspada, menimbang apakah harus lari atau harus maju untuk melawan manusia yang mengerikan ini.
Melihat itu, Jean menghela nafas. Dalam pandangan para monster, Jean terlihat jelas sedang meremehkan mereka. Tapi itu belum selesai.
"Sepertinya aku harus menggunakan frekuensi lain untuk berbicara dengan makhluk tolol seperti kalian."
Ia berdeham. Setelah itu, ia mengatakan sesuatu yang membuat para monster terkejut.
[Setidaknya, sebelum masuk ke alam ini, pelajarilah bahasa kami terlebih dahulu, kepala kosong.]
Kenapa manusia ini bisa bahasa mereka!? Salah satu monster yang sepertinya memiliki usia termuda di antara yang lain akhirnya kehabisan rasa sabar.
[JANGAN BERBICARA SEOLAH-OLAH KAU LEBIH KUAT DARIPADA KAMI, MAKHLUK RENDAHAN!]
Monster bertubuh merah membara itu Lang melesat ke arah Jean dengan kapak yang siap untuk menebasnya. Dia tidak mengindahkan para tetuanya yang berteriak untuk bertindak gegabah.
Monster itu pergi menuju Jean dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dengan gagah, bilah kapaknya telah siap untuk membelah perut Jean menjadi dua.
Namun, begitu mata kapaknya hampir menyentuh Jean, hanya beberapa jengkal lagi, mendadak gerakannya terhenti. Dia bingung. Rekan-rekannya juga. Kenapa ia berhenti?
Rasanya aneh. Seolah-olah dunia menekannya untuk tidak bergerak. Ketika ia melihat wajah manusia yang sedang tersenyum, ia menyadari bahwa dunia seakan tidak menghendaki manusia ini untuk dibelah oleh kapaknya.
Dengan tenang, manusia yang menjadi mangsanya mengetuk mata kapak yang ia genggam. Sesaat kemudian, kapaknya hancur berkeping-keping.
__ADS_1
[A-APA YANG SEBENARNYA KAU LAKUKAN!?]
Jean tidak menjawab monster itu. Dia hanya menaiki pegangan yang kapak yang monster itu pegang dan menjentikan jarinya ke dada monster itu.
BLARRR!!
Tubuh monster yang menyerangnya meledak begitu saja. Hanya menyisakan kaki yang segera jatuh menimpa bumi. Anehnya, darah dan isi tubuh monster tersebut tidak terbang ke arah Jean.
[LARI!! MANUSIA ITU SANGAT BERBAHAYA!]
Salah satu yang tertua di antara mereka memerintahkan teman-temannya untuk lari. Melihat tingkah mereka yang mendadak jadi pengecut, Jean tertawa kecil.
"Mari kita bermain sebentar."
Jean mengambil segenggam batu. Ia melemparkannya ke arah gerombolan monster yang kocar-kacir. Ada satu monster yang terkena, membuat tubuhnya hancur berkeping-keping.
Jean terus 'bermain' lempar-lemparan batu. Satu... Dua.... Tiga.... Lama-kelamaan, lebih dari 20 monster terkena serangannya. Mereka tidak lagi berada dalam jarak pandang Jean, tetapi ia dengan mudahnya mengenai mereka dengan akurat.
[SIAPA SEBENARNYA MANUSIA ITU!!? KENAPA MAKHLUK SEBERBAHAYA DIA BISA BERADA DI TEMPAT INI!?]
Namun pelarian mereka tidak berlanjut lama karena si pengejar sudah duduk di hadapan mereka dengan santainya di atas sebuah batu yang cukup besar.
[Gimana, sudah puas melakukan pemanasannya? Bagaimana kalau kita masuk ke sesi selanjutnya?]
Para monster yang berhenti lari karena terkejut, mundur selangkah demi selangkah ketika Jean mulai berjalan ke arah mereka. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Ini seperti mereka terkurung di dalam sebuah kotak yang tidak memiliki jalan keluar sama sekali.
[A-APA YANG INGIN K-KAU LAKUKAN PADA KAMI!?]
[Sudah kubilang untuk tidak membuat ekspresi seperti itu kan? Yang monster itu kalian, bukan aku. Ya sudah, lupakan saja]
Jean memetik jarinya dan sebuah lingkaran sihir muncul di bawah kaki para monster yang tersisa. Jumlah mereka 35. Para monster kebingungan. Mereka tidak bisa bergerak sama sekali!
[Karena kau dan kaummu mempermainkannya ibu dan kakakku, kali ini aku yang akan membuat permainan untuk kalian]
Jean berhenti sejenak. Lingkaran sihir yang ada di bawah mereka mulai menyala.
__ADS_1
[Syaratnya mudah saja. Siapapun yang berhasil bertahan dari nyala api yang aku buat selama 40 detik, maka kalian boleh pergi dengan selamat. Tidak hanya itu, kalian juga akan kupulangkan ke alam kalian.]
Sebuah api berwarna putih berkobar dari lingkaran sihir yang ada di bawah mereka. Seketika itu juga para monster langsung berteriak kesakitan dan penuh derita.
Ada yang tubuhnya langsung meleleh hanya dalam waktu tiga sampai lima detik ketika apinya menyala. Ada yang bertahan sampai 10 detik, 15 detik, tetapi tidak ada yang bertahan lebih dari 20 detik.
Meski hanya dalam hitungan detik, itu adalah kematian yang sangat menyakitkan. Mereka akan merasakan bahwa tubuh mereka seolah telah dibakar dalam waktu yang sangat, sangat lama.
Pada akhirnya, tidak ada satupun yang bertahan. Mereka semua habis terbakar dan meleleh dalam waktu 20 detik. Mereka adalah monster yang sangat powerful. Jangan bayangkan ketika manusia terbakar oleh api yang diciptakan oleh Jean. Bahkan percikan saja sudah cukup untuk menghapus keberadaan mereka dari dunia.
Jean mengangguk setelah memastikan semua monster telah mati dan tak tersisa satupun yang masih hidup. Dia menjentikan jarinya dan semua yang hancur di dalam hutan seperti pohon, tanah, dan batu kembali seperti semula. Mayat-mayat monster maupun manusia yang terbunuh telah sirna, seolah mereka memang tidak pernah ada sebelumnya.
Jean menghela nafas. Setelah membereskan semuanya, Jean membocorkan aura membunuhnya yang sangat kuat. Aura tersebut bumi dan langit berguncang. Hewan-hewan liar dalam hutan berlarian dan burung-burung berterbangan.
"Kenapa kalian tidak keluar sekarang, wahai bajingan pengecut yang sejak kemarin mengawasi dari atas sana!?"
Jean mengadahkan wajahnya ke langit. Dari sana, lima orang dengan jubah hitam sepenuhnya turun dari langit. Begitu mereka menapak di tanah, Jean dapat merasakan ketakutan dan kebingungan dari kelimanya.
Nafas mereka tersengal-sengal parah dan tubuh mereka gemetar hebat. Bahkan tiga di antara mereka ada yang jatuh berlutut dan tidak mampu berdiri. Jean masih belum menekan aura membunuhnya.
"Saatnya hidangan utama, bajingan."
Jean tersenyum keji. Saatnya bersenang-senang dengan para keparat ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Author;
untuk teman-teman pembaca setia, jangan lupa untuk tinggalkan like dan komentar kalian untuk chapter ini ya! jika merasa chapter ini terlalu bertele-tele, jangan ragu untuk menulisnya di kolom komentar.
Terimakasih banyak 😁
best regard
mawangsyah
__ADS_1