Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Kemajuan Dan Peningkatan


__ADS_3

Jean memicingkan matanya dalam kemarahan. Ini terjadi di siang hari setelah dirinya menemui Harden Baldric tadi pagi. Itu karena di halaman belakang tempat para pelayan biasa menjemur, dia melihat Samuel, kakak Cahrlotte, sedang memaksa Selena untuk ikut dengannya.


"Tuan Samuel, saya pikir anda sudah keterlaluan. Saya yakin tuan Hull sudah pernah menasihati anda untuk tidak memaksakan kehendak anda pada orang lain. Lepaskan Selena sekarang."


Samuel berhenti memaksa Selena. Tapi cengkeramannya belum lepas. Dipenuhi kebencian serta kemarahan, dia memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Jean.


"Sampah sepertimu tidak layak untuk berbicara denganku seperti itu! KAU HANYA PELAYAN RENDAHAN, SAMPAH!"


wajah Samuel benar-benar berada di dekat wajah Jean ketika dia berteriak. Jean merasakan air liur Samuel bermuncratan di wajahnya. Itu sangat bau.


Tapi Jean tetap bersikap tenang. Dia hanya mengambil lap tangan dari saku baju pelayannya dan mengelap wajahnya. Ah, kotorannya akan sangat sulit untuk dihilangkan bahkan jika dia mencucinya dengan air surga sekalipun.


Untungnya bagi Jean, Cahrlotte mendatanginya. Gadis cantik itu lalu bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan Jean memberitahukan semuanya. Setelah mendengar semuanya, Charlotte memandangi Samuel dengan jijik.


"Samuel, sudahi perilaku kekanakanmu yang menjijikan! Kau adalah pewaris perusahaan dagang milik ayah tetapi sikap dan perilakumu sama sekali tidak pantas untuk itu!"


Sejujurnya Jean cukup kaget. Charlotte adalah gadis periang dan lembut. Tetapi melihat dia begitu kasar pada kakaknya, Jean ingin sekali tertawa.


Samuel yang mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya dipenuhi kemarahan. Emosinya memuncak. Dia dengan sembrono menampar pipi Charlotte hingga gadis itu terpental.

__ADS_1


Jean yang melihat itu langsung membeku. Samuel, bajingan itu, dia menampar pipi gadis yang menjadi miliknya!?


Dengan gerakan yang tidak bisa diikuti oleh mata, tinju Jean menghantam wajah Samuel. Darah keluar dari lubang hidung dan mulut Samuel. Begitu dia terpental, terlihat bahwa hidungnya remuk dan bibirnya robek.


Tapi Jean tidak puas hanya dengan itu. Begitu dia melihat Samuel berusaha bangkit, Jean langsung menendang wajah Samuel bertubi-tubi. Satu persatu gigi Samuel rontok. Wajahnya lebam dan dari mulutnya mengalir darah hitam.


Sementara itu Samuel tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya menjerit-jerit dan menangis kesakitan sembari memohon ampun. Tapi Jean hanya menatapnya dengan dingin dan tersenyum keji. Ah, sudah lama dirinya tidak merasakan kesenangan semacam ini.


Kesenangan ketika menghabisi orang-orang yang angkuh. Kesenangan ketika melihat orang yang selalu berdiri di atas orang lain kini berlutut di bawahnya sambil meminta ampun.


Jean terlalu terbawa dalam kesenangannya. Tidak hanya menendangi wajah Samuel, dia juga menendang perut, dada, dan ************ Samuel. Dia baru berhenti ketika akhirnya Selena dan Charlotte memeluk dirinya dari belakang.


Ketika dia melihat kondisi Samuel, Jean sendiri hanya bisa menghela nafas pasrah. Wajah Samuel benar-benar tidak terbentuk lagi. Yang bisa dia lihat hanyalah wajah yang penuh bengkak lebam. Bagian tubuh yang lainnya juga buruk, terutama bagian internal tubuh Samuel.


Charlotte menggeleng. Dia menghampiri Samuel dan meletakan tangannya di wajah bajingan itu. Sesaat kemudian, cahaya hijau muncul dari telapak tangannya dan wajah Samuel kembali seperti sedia kala. Walaupun masih ada bekas lebam di beberapa titik.


Jean yang melihat ini terkejut. Sihir. Tapi berbeda dengan Natasha yang memiliki afinitas kuat dengan api, Charlotte terlihat memiliki spesialisasi dengan sihir cahaya.


"Nona Charlotte, anda...."

__ADS_1


"Hehehe! Bagaimana, hebat kan? Aku ternyata memiliki bakat dalam sihir. Sama seperti Natasha! Jadi ayah mencarikan guru terbaik agar aku bisa memakai kekuatan ini! Keren kan?"


Jean mengangguk. Orang yang bisa menggunakan sihir biasa disebut Mage. Jumlah mereka langka. Hanya satu dari seribu orang. Bahkan jumlahnya jauh lebih langka bagi para Mage yang benar-benar ahli dalam menggunakan sihir mereka. Perbandingannya satu diantara 100.000 orang.


Setelah bermesraan sejenak dengan Charlotte dan Selena, Jean memutuskan untuk menyeret Samuel ke kamarnya. Kalau bisa dia ingin menghajarnya Samuel sampai benar-benar puas tapi mengingat ekspresi yang Charlotte dan Selena buat saat mereka berdua melihat ekspresinya, Jean memutuskan untuk membiarkan Samuel untuk sekarang. Setidaknya, dia bisa menghabisi Samuel di lain waktu.


Benar juga, dia teringat belum berlatih hari ini. Setelah melemparkan Samuel ke atas kasurnya dengan posisi yang asal-asalan, dia kembali ke kamarnya. Jean telah menyelasaikan semua tugasnya siang ini, jadi dia punya slot waktu luang hingga sore nanti.


Dia duduk di kasurnya. Sepintas, Jean melihat bercak darah tanda keperawanan Selena yang hilang. Jean tersenyum ketika mengingat dirinya menindih Selena semalam. Ah, itu pengalaman pertama yang tidak bisa dia lupakan.


Jean kembali fokus. Dia menutup matanya dan masuk ke dalam mode meditasi. Seperti biasa, dia meskipun matanya terpejam, dia bisa melihat kondisi sekitarnya seolah dia sedang membuka matanya.


Tetapi Jean mengalami kemajuan. Tidak hanya bisa melihat kondisi di sekitarnya, dia juga bisa melihat semua yang ada di sekelilingnya dalam radius tiga hingga lima kilometer. Jean berhasil melakukan itu berkat manipulasi energi murni alam yang dia padukan dengan imajinasi, kecerdasan, dan kebutuhannya.


Memang butuh effort yang cukup berat. Jean beberapa kali gagal. Bahkan dia juga sering batuk darah. Tetapi hasilnya lebih dari cukup untuk membayar semua usahanya.


Sementara untuk kemampuan bertarung, kemampuan Jean juga meningkat cukup pesat. Ibunya pernah mengatakan kalau kekuatan seseorang terbagi menjadi sepuluh tingkatan. Lapisan dasar atau tingkat pertama, dan tingkat yang paling tinggi disebut sebagai lapisan surgawi atau tingkat sepuluh.


Jean tidak yakin dirinya ada di tingkat berapa. Dia sendiri menganggap kalau dirinya berada di tingkat tiga. Berdasarkan apa yang diajarkan oleh ibunya, ketika seseorang telah memasuki tingkatan yang kelima, maka akan sulit untuk menebus tingkat keenam hingga selanjutnya. Jadi tingkat tiga juga sudah cukup tinggi.

__ADS_1


Tapi...yah, Jean sudah berada di puncak tingkat keempat. Tapi Jean tidak tahu itu. Di masa depan, Jean akan mengetahui kalau ternyata dirinya adalah yang terkuat. Mungkin.


__ADS_2