
Perkiraan Goln tepat sasaran. Keesokan harinya, ketika sore tiba, pasukan yang dipimpin oleh count Feldberg telah sampai di luar tembok Nebelhorn. Alih-alih beristirahat, mereka justru langsung melancarkan serangan.
Entah bagaimana ceritanya, mereka bisa mendapatkan catapult besar yang digunakan untuk menghantam tembok dengan lemparan batu besar. Bahkan mereka memiliki tiga. Itu bukan harga yang murah mengingat proses pembuatannya yang rumit dan mahal.
Pasukan bertahan dan pasukan penyerang bentrok satu sama lain. Pasukan bertahan mencoba untuk membakar catapult yang musuh gunakan dengan anak panah yang matanya telah dibakar oleh api. Sementara lawannya berusaha untuk melindunginya dengan menembakan panah balik.
Tangga-tangga besar berdiri dan disenderkan ke tembok. Pasukan penyerang mendaki satu persatu anak tangga dibawah tembakan panah yang sangat gencar. Satu demi satu prajurit yang terkena langsung jatuh ke tanah. Kalaupun mereka tidak mati karena serangan anak panah, mereka akan tewas karena jatuh dari ketinggian.
"Aku tidak menyangka kalau tentara milik Duke Eisen lebih gigih daripada yang kita bayangkan."
"Ya, kau benar. Meskipun kebanyakan dari mereka adalah milisi-milisi yang direkrut dari penduduk kota, perlawan yang mereka berikan cukup kuat."
Dua orang bertopeng serigala yang masing-masing berwarna hitam dan putih serta mengenakan jubah lusuh berdiri di kejauhan, sebisa mungkin menjauh dari Medan perang. Karenanya, mereka berdiri di atas sebuah pohon yang cukup tinggi agar bisa jangkauan penglihatannya lebih luas.
"Yah, ini karena count bodoh itu meminta hasil yang instan. Moral pasukan memang meningkat tapi kelelahan fisik menghantui mereka. Kalau dia sedikit lebih sabar, Nebelhorn City mungkin sudah jatuh sejak tadi."
Mendengar keluhan dari orang bertopeng serigala putih, rekannya tertawa kecil. Itu sudah terlihat meski ia mengenakan topeng serigala berwarna hitam.
"Mau bagaimana lagi kan? Kita tidak mengharapkan apapun darinya. Astaga.....kalau bukan karena tuntutan 'darinya', aku tidak akan sudi bekerja dibawah orang tolol itu."
Keduanya menghela nafas. Mereka memiliki keluhan yang sama. Atasan yang tidak kompeten adalah bencana bagi bawahannya. Betapa mengerikan. Juga menyebalkan.
"Menurutmu, kenapa pasukan Duke Eisen memberikan perlawanan yang hebat? Dan juga....butuh berapa lama bagi pasukan Count Feldberg untuk merangsek ke dalam kota?"
Mendengar pertanyaan dari rekannya yang bertopeng serigala putih, ia berpikir sejenak. Dia sendiri juga bingung. Ini agak aneh. Namun, ada dua hal yang terpikirkan olehnya.
__ADS_1
"Biasanya ada dua hal. Pertama karena hadiah yang dijanjikan pada mereka dan yang kedua karena hukuman yang mungkin akan menimpa mereka. Namun, mengingat perangai Duke Eisen, pastilah itu karena yang kedua."
Tebakan dia cukup akurat. Faktanya, Duke Eisen telah mengancam para laki-laki yang menjadi kepala keluarga kalau ia akan mengeksekusi seluruh keluarga mereka jika para lelaki yang direkrut sebagai milisi ini kabur.
"Aku rasa kau benar. Ingatkah kau ketika pemimpin kita mengatakan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang bisa menggunakan 'tongkat'dan 'wortel' di waktu dan situasi yang tepat? Duke Eisen terlalu banyak menggunakan 'tongkat'. Pada akhirnya, dia tidak lebih dari bajingan beruntung yang kebetulan berkuasa. Begitu juga dengan Count Feldberg."
"Umu, kau benar. Hanya 'dia' lah satu-satunya yang cocok untuk menjadi seorang penguasa."
"Dan karena itu, kehadiran kita di sini adalah untuk memuluskan jalannya."
Keduanya tertawa kecil. Padangan mereka kembali teralihkan kepada aliran perang. Perlawanan dari pasukan Duke Eisen telah melemah dan pasukan count Feldberg mulai berada di atas angin. Saatnya sudah tiba.
Kembali ke Medan perang......
Atas usaha mereka, para pemberontak yang berada di bawah kepemimpinan Count Feldberg berhasil merangsek ke dalam Nebelhorn City setelah salah satu bagian temboknya berhasil dijebol.
Tentu, para pemberontak tidak berhenti. Begitu mereka berhasil memasuki kota, kekacauan terjadi. Mereka menghancurkan rumah-rumah yang ada di sana. Pintu mereka didobrak dan semua barang yang ada di dalam rumah digasak.
Tidak hanya menjarah, mereka juga memper***a para wanita yang mereka temui. Sementara para laki-laki, entah itu anak-anak dan orang tuan, akan langsung mereka bunuh.
Nebelhorn City telah jatuh di malam hari itu. Seluruh penjuru kota dilahap oleh si jago merah, bersama dengan jerit tangis para penduduk yang tidak bersalah atas apapun.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
BUAKKKKK!!
__ADS_1
BUAGHHH!!
BRUKKKK!!
Di kastil Duke Eisen, count Feldberg sedang asyik menghajar lawan politiknya, Duke Eisen. Pria yang awalnya seorang penguasa itu kini terikat oleh rantai di sebuah kursi.
Banyak memar muncul di tubuhnya. Wajahnya babak belur. Sedari tadi ia menjerit kesakitan. Saat Count Feldberg menghajarnya, Duke Eisen mengutuk habis-habisan mantan bawahannya yang tidak tahu malu ini.
Tentu saja Count Feldberg marah. Namun dia bisa melampiaskan semua kedengkian dan kemarahannya pada Duke Eisen. Kesenangan dia untuk mempermainkan hidup orang lain pada dasarnya tidak begitu berbeda dengan Duke Eisen. Hanya saja, dia tidak memiliki banyak kesempatan untuk melampiaskannya.
Tapi hari ini berbeda. Ia telah menang. Count Dan Feldberg akan menjadi penguasa baru di tanah ini. Semuanya akan berada di bawah kakinya. Siapapun yang menentangnya tidak akan mendapatkan apapun kecuali penderitaan.
"Lihat Eisen! Aku telah menang! Mulai hari ini, semua yang ada di tanah ini akan menjadi kuasaku. Tidak ada yang bisa menghalangiku lagi! Bahkan jika itu adalah dirimu!"
Tawa keluar dari mulut Count Dan Feldberg. Sementara Duke Brandon Eisen menggertakan giginya. Tubuhnya bergetar karena murka dan benci.
"Bajingan! Bajingan! Bajingan! Bajingan! Dasar Feldberg tak tahu malu!"
BRRUAAAGHH!!
Count Feldberg memberikan tendangan lagi sebagai hadiah untuk Duke Eisen atas apa yang telah ia katakan. Setelahnya, ia membuang ludah ke tubuh kaku milik Goln yang sudah tidak bernyawa.
Dia baru saja ingin menyiksa Duke Eisen lagi ketika salah seorang bawahannya menghampirinya dengan terburu-buru. Wajahnya terlihat pucat dan sangat panik. Dengan wajah masam, Count Feldberg menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Pa-pasukan kerajaan Dublin telah menduduki kota Feldberg! Jumlah mereka lebih dari 5000 orang!"
__ADS_1
Berita ini membuat Count Feldberg dan Duke Eisen hampir mati saking terkejutnya.