Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Battle, Begin (2)


__ADS_3

Pagi hari akhirnya tiba. Jean yang selalu bangun lebih awal dari keluarganya telah selesai bersiap-siap. Mengenakan kemeja dan celana panjang serba hitam dengan bordiran emas di sisi kanannya. Sebelum pergi, dia telah menyiapkan sarapan untuk si kembar Elyse dan Elssie, Jeanne, dan Svetlana.


Dengan sedikit sentuhan sihirnya, makanan yang ia siapkan akan tetap hangat dan terjaga sampai mereka terbangun dan menyantapnya. Tidak lupa, dia meninggalkan catatan dan mencium dahi mereka sebelum akhirnya meninggalkan rumah Svetlana.


"Apakah tujuan kita adalah 'tempat itu' tuan?"


Di luar rumah, seorang pelayan bertopeng putih polos menyambutnya. Dengan senyum tipis, dia mengangguk. Tapi sebelum itu, Jean memiliki tujuan lain.


"Sebelum kesana, ada tempat yang ingin aku kunjungi terlebih dahulu. Bisakah kau siapkan tempatnya untuk aku, nona pelayan?"


Pelayannya mengangguk. Sekejap kemudian sebuah portal muncul dihadapan keduanya. Jean mengangguk dan tersenyum puas. Penguasaan pelayannya pada sihir ruang telah meningkat pesat. Jean telah memilih tangan kanan yang tepat. Berbakat dan setia.


"Ayo. Tujuan kita adalah garis depan, perkemahan duke Cetner."


Keduanya memasuki portal tersebut. Menuju tempat pertama mereka.


...****...


Duke Cetner tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan berada di situasi yang ia alami sekarang. Luka yang ia derita akibat tebasan penguasa kota tidak kunjung sembuh. Pemulihannya berjalan lambat. Bahkan ketika dia melibatkan mage penyembuh terbaik dalam proses pemulihannya, itu tidak mengubah banyak hal.


Sekarang, yang bisa ia lakukan hanyalah mengontrol pasukannya dari belakang tanpa dapat memberikan sentuhan akhir. Sangat disesalkan tetapi duke Cetner harus tetap menjaga egonya. Jika ia maju ke medan laga dengan kondisinya yang sekarang, kemungkinan besar dia akan mati dan membuat komando pasukannya menjadi sangat kacau.

__ADS_1


Ketika sedang fokus mengawasi jalannya pertempuran, duke Cetner merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Sontak, dirinya mengambil pedang dan mengayunkannya ke arah kanan, tempat kehadiran tersebut ia rasakan. Namun diluar perkiraannya, Seseorang telah duduk di sampingnya.


"Engaku tidak bisa mengawasi jalannya pertempuran tanpa kudapan kan? Duduklah bersama saya, yang mulia adipati (jika diartikan ke dalam bahasa Indo, Duke artinya adipati) Cetner."


Tentu dia tidak menghiraukan kata kata seseorang yang tiba-tiba menyusup ke dalam tendanya tanpa izin. Dengan gesit, duke Cetner melayangkan serangan pedangnya yang kini dilapisi oleh aura, membuatnya serangannya menjadi sangat mematikan.


Begitu bilah pedangnya menyentuh bumi, tanah tempat ia berpijak terbelah menjadi dua sejauh 500 Meter. Tentu ia menahan diri. Jika tidak, dia tidak akan tahu berapa orang yang akan mati karena serangan tidak langsungnya yang mengenai mereka. Luka yang ia derita juga membuat dirinya tidak dapat memanfaatkan kekuatan miliknya dengan maksimal.


"Oh ayolah. Tidak perlu terburu-buru kan? Pasukanmu pasti akan menang. Yah, mungkin sih."


Tanpa banyak basa-basi, duke Cetner dengan lincah memutar badan besarnya dan melayangkan tinju pada pengacau yang berani masuk sembarangan ke dalam tendanya. Tinju itu telah ia perkuat dengan mananya, cukup untuk membuat pengacau itu menjadi bubur manusia.


"Sudah kuduga akan begini hasilnya. Baiklah, kalau begitu..... Duduk!!"


Kuh!! duke Cetner kehilangan kendali atas tubuhnya. Seolah gaya gravitasi menekannya dengan kuat, dia terjatuh ke tanah dalam posisi terduduk. Si pengacau segera duduk di sampingnya dengan suasana hati yang riang.


"Bajingan! Siapa kau sebenarnya!? Apa maumu!? Apa yang terjadi pada para pengawalku!?"


"Wow, wow. Tiga pertanyaan dalam satu kali nafas! Jangan terburu-buru yang mulia. Bersantai lah dengan saya terlebih dahulu. Ah, mau teh dan camilan?"


Si pengacau itu menjentikan jarinya dan dua cangkir, satu teko keramik dengan uap mengepul, dan dua kudapan muncul begitu saja di hadapan mereka. Dengan elegan, si pengacau menuangkan teh ke dalam cangkir milik duke Cetner dan miliknya. Aroma harum tercium dari sana.

__ADS_1


"Anda tahu yang mulia.... Hasil dari pertempuran sudah dapat ditentukan sejak awal. Anda akan menang. Itu pasti. Keluarga Ankwicz dan Meitzsko tidak akan memiliki kesempatan untuk melakukan serangan balik."


Si pengacau itu berhenti sejenak. Entah bagaimana, dia tetap bisa menyeruput tehnya tanpa melepas topeng yang ia pakai.


"Tapi anda belum memenangkan perang, yang mulia. Sementara pasukan anda dan pasukan bertahan sedang membunuh satu sama lain, seluruh keluarga Mietzsko sedang dalam pelarian mereka. Begitu juga dengan keluarga Ankwicz.


"Mereka akan tiba di tempat pelarian dengan selamat dan akan menghimpun kekuatan untuk kembali mengambil tahta yang anda rebut. Jadi, sekalipun anda bisa menaklukkan Krakov dan menduduki istana, anda akan masih dibayang-bayangi kehadiran mereka. Anda tidak akan tidur dengan nyenyak. Sebaliknya, langkah yang anda ambil hari ini akan membawa kehancuran bagi bangsa anda."


Meskipun murka dengan apa yang pengacau ini katakan, duke Cetner menahan diri untuk tidak berteriak dan memaki. Sebaliknya, dia menenangkan diri dengan menghirup nafas dalam-dalam.


"Lalu, apa poin yang ingin kusampaikan? Jangan-jangan kau datang ke sini hanya untuk menakutiku? Lucu sekali! Orang lemah sepertimu tidak akan pernah bisa menggertakku!"


"Well, kata orang yang dapat dengan mudah ditundukkan. By the way, Aku tidak sedang menakutimu. Kalau tidak percaya buktikan saja sendiri. Iya kan?


"Anda tahu, saya hanya ingin melihat kerajaan ini hancur bersama dengan anda dan musuh-musuh anda. Sembari membuka mata anda bahwa semakin kencang anda mengejar impian anda, semakin dekat juga kehancuran akan tiba. Selangkah demi selangkah."


Si penagacau itu berdiri. Menepuk pakaian hitamnya yang agak kotor karena debu, dia bersiap untuk pergi.


"Ah aku hampir lupa. Kerajaan Riga-Dnipro telah melintasi perbatasan wilayah kerajaan Warsawa dan menaklukkan wilayah-wilayah di sekitarnya dengan cepat. Kurang dari seminggu mereka akan tiba di Krakov. Jadi, persiapkan diri anda. Sampai jumpa."


Secara tiba-tiba, Pikiran duke Cetner menjadi kosong.

__ADS_1


__ADS_2