Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Nebelhorn City


__ADS_3

Tidak ada yang menarik di kota kecil ini. Jadi, setelah dua hari transit di kota ini untuk menurunkan barang, mereka melanjutkan perjalanannya ke jantung Duchy of Eisen.


Perjalanan ke sana setidaknya membutuhkan waktu tiga hari. Untungnya, sepanjang perjalanan tidak ada halangan yang berarti. Paling-paling ada satu gerobak yang bannya lepas. Itupun sudah diperbaiki dengan cepat.


Tiga hari kemudian, mereka sampai di ibukota Dukedom Eisen, Nebelhorn.


Kota ini sama besarnya dengan Saint Georgia City, walaupun dengan gaya yang benar-benar berbeda. Mulai dari bentuk bangunan hingga budaya.


Kota ini dipenuhi oleh asap. Bukan karena kebakaran. Asap-asap itu berasal dari rumah-rumah yang mengolah hasil tambang untuk nantinya di jual ke kerajaan lain.


Kota ini ramai. Penuh dengan pedagang maupun kelompok tentara bayaran yang mendirikan markas di sini. Jalanan dipenuhi dengan orang-orang yang berlalu lalang, kebanyakan membawa bongkahan batu besar ataupun peti yang entah berisi apa. Dalam banyak hal, suasana ini begitu mirip dengan Saint Georgia City ataupun Utah.


"Tuan Jean, saya sudah menyewakan penginapan untuk anda. Silahkan, ini kuncinya. Letak penginapan di sebelah sana."


Bangunan yang akan Jean dan Priscillia tempati bisa terlihat dari tempat dia berdiri. Berdasarkan informasi dari pegawai HuCas, ini adalah penginapan terbaik di kota Nebelhorn.


Kamarnya tidak mewah, tapi besar. Ada beberapa bagian yang sudah berlubang namun telah ditambal. Sebuah kasur besar yang muat untuk tiga hingga empat orang diletakan di atas ranjang yang cukup reot. Secara keseluruhan, tempat ini tidak terlalu bagus tapi juga tidak terlalu buruk.


Jean duduk di tepi kasurnya. Priscillia juga. Mereka duduk bersampingan. Sudah beberapa hari Jean tidak 'mengisi energinya' lagi. Karena itu, dia meraih Priscillia dan memeluknya.


"Tu-tuan J-jean.... tu-tunggu dulu, saya..."


Jean mendecakan lidahnya. Sayang sekali Priscillia tidak mau bermain dengannya. Mau bagaimana lagi. Jean adalah pria yang melakukan hal semacam 'itu' atas dasar kesenangan satu sama lain. Kalau wanitanya merasa tidak nyaman, itu tidak akan seru. Jean tidak akan bisa menikmatinya.

__ADS_1


"Baiklah, mungkin aku harus mencari wanita lain malam ini."


Begitu Jean ingin bangkit, Priscillia memegangi tangannya. Saat Jean menoleh ke arahnya, dia melihat wajah gadis itu memerah seperti tomat.


"Tuan.... bukannya saya tidak mau. Hanya saja....saya belum membersihkan tubuh saya sehabis perjalanan. Saya merasa tidak layak untuk memberikan tubuh kotor kepada tuan Jean."


Jean menahan tawanya. Dasar gadis bodoh. Tentu saja Jean tidak berpikir kalau dia kotor. Sebagai buktinya, Jean menjilati leher Priscillia yang indah. Erangan kecil keluar dari mulutnya. Tapi Priscillia menikmatinya.


Lama kelamaan, keduanya saling bergumul satu sama lain. Ranjang yang reot itu mulai berderit. Keduanya mulai berciuman. Kini dengan dalam. Mereka saling menjilati lidah satu sama lain dan bertukar Saliva.


Nafas Priscillia menjadi berat. Dia tersengal-sengal. Tubuhnya menjadi panas dan wajahnya semakin memerah. Tidak salah lagi, dia sudah terangsang bahkan dari ciuman.


Jean tersenyum seperti serigala yang sedang memandangi mangsanya dan merebahkan Priscillia. Satu persatu, Jean mulai melucuti pakaian Priscillia. Mulai dari baju, celana, lalu **********. Tubuh indah milik dia yang tidak ditutupi oleh sehelai benang pun terlihat sangat indah di mata Jean.


"Tolong yang lembut... tuan."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Uwahhh....ramainya...ouchh"


Keesokan harinya, Jean memutuskan untuk mengajak Priscillia jalan-jalan. Dia belum pernah ke sini. Idealnya memang harus mengajak seorang guide agar tidak tersesat. Tapi itu tidak diperlukan. Dia tidak mau ada yang mengganggu waktu berduaannya dengan Priscillia.


"Hmmm? Apakah masih sakit, Priscillia?"

__ADS_1


Kemarin Jean terlalu ganas. Rasanya dia sedikit menyesal melihat gaya jalan Priscillia yang aneh. Mungkinkah denyutan di tubuh bagian bawahnya masih terasa?


"Saya tidak merasa sakit, tuan Jean. Hanya saja....ada sensasi aneh di daerah 'milik' saya. Rasanya entah bagaimana... sedikit geli."


Jean menepuk dahinya sambil menghela nafas. Diam-diam, dia memaki dirinya sendiri dalam hati. Benar saja, dia terlalu liar kemarin. Tapi mau bagaimana lagi, perilaku Priscillia yang menggodanya semalam telah membuat Jean hilang kendali.


Jean meletakan tangannya di atas kepala Priscillia dan mengalirkan energinya ke tubuh gadis itu. Rasa tenang mengalir dari ubun-ubun Priscillia hingga ke hatinya, membuat sensasi nyaman dalam diri Priscillia.


"Apakah sudah lebih baik sekarang?"


Priscillia mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan lagi.


Kota ini istimewa. Meskipun karakteristik masyarakatnya berbeda dengan penduduk Saint Georgia City ataupun kota pesisir lainnya, mereka ramah dengan caranya sendiri.


Nicholai, ayah Jean, pernah mengajarinya kalau masyarakat yang berada di daerah pegunungan yang terisolir biasanya cenderung tertutup dengan pendatang dari luar. Namun mengingat kalau kota Nebelhorn menjadi tempat singgah banyak orang dari luar, penduduk di sini cukup terbuka.


Satu hal lagi yang menarik bagi Jean adalah kegemaran penduduk lokal akan alkohol. Mereka hanya menjual dan mengonsumsi alkohol berkualitas tinggi yang dibuat dari bahan terbaik. Itulah kenapa, banyak sekali bar yang tersebar di sini. Lebih banyak daripada di Saint Georgia City.


"Aku senang berada di sini. Meskipun mereka sedikit keras, penduduk di sini ramah dan menyenangkan. Tapi, satu-satunya yang membuatku tidak nyaman adalah....biaya hidupnya."


Priscillia mengeluarkan keluhannya pada Jean. Dia dengan senang hati mendengarkannya. Dan apa yang Priscillia katakan memang benar. Biaya hidup di sini tinggi.


Tadi, mereka memutuskan untuk membeli beberapa apel dan buah-buahan lainnya untuk mengisi perut. Namun keduanya terkejut ketika mengetahui harganya yang sangat mahal. Sepuluh kali lipat lebih mahal daripada di kota asal mereka.

__ADS_1


Sekilas memang terlihat wajar mengingat 80 persen jenis buah-buahan dan bahan makanan lainnya diimpor dari luar. Tapi tetap saja, sepuluh kali lipat sama sekali bukan jumlah yang wajar.


Sekali lagi, kota ini istimewa tapi aneh. Dia merasakan sesuatu yang pernah ia rasakan sebelumnya. Dan sesuatu ini akan menjadi pintu pembuka baginya.


__ADS_2