Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Eksekusi


__ADS_3

"Selamat datang tuan Jean. Senang bisa bertemu dengan anda lagi setelah sekian lama."


Di halaman kastil, Jean disambut oleh dua orang yang mengenakan topeng Serigala Putih dan hitam. Suasana dingin yang tadinya meliputi Jean kini menghangat. Senyum tulus muncul di bibir Jean.


"Ya, selamat datang kembali, Mar, Nina. Maaf telah merepotkan kalian dengan banyak hal. Aku senang bisa bertemu kembali dengan kalian berdua."


Dua orang yang mengenakan topeng serigala tersebut melepasnya, dan dua wajah yang sangat dikenali oleh Jean terlihat. Mar dan Nina. Sejak awal, Jean memberikan mereka tugas untuk berada di sisi Count Feldberg sebagai penasihat dan membantunya untuk memberontak pada Duke Eisen.


"Ngomong-ngomong tuan.....kenapa anda menyeret Count Feldberg seperti itu?"


Jean melihat ke belakang lalu tertawa kecil.


"Mau bagaimana lagi. Tidak ada orang yang bisa aku mintai tolong di atas. Jadi, tolong panggil seseorang dan bawa orang ini. Taruh saja dia di dalam gerobak."


Mar dan Nina saling berpandangan, lalu tertawa. Seperti yang mereka harapkan dari tuannya, dia tidak berubah sama sekali!


"Baiklah, saya akan memerintahkan seseorang untuk membawa count Feldberg. Yang lebih penting lagi tuan Jean, pasukan yang dipimpin oleh nona Rose akan tiba esok hari. Sampai saat itu tiba, kami akan menghabisi sisa-sisa perlawanan yang ada di Nebelhorn."


"Kerja bagus, Mar. Tapi itu tidak perlu. Tarik orang-orangmu dan biarkan mereka beristirahat. Aku yakin mereka kelelahan karena pengepungan kemarin. Kalian juga, istirahatlah. Aku yang akan menghancurkan mereka dengan tanganku sendiri."


Mar dan Nina berusaha untuk menolaknya. Tapi ini adalah perintah. Bukan permintaan. Tidak ada pilihan yang tersisa bagi mereka selain mematuhinya. Keduanya meminta izin untuk pergi dan meninggalkan Jean.


"Kota yang mestinya indah ini malah hancur. Memang sudah saatnya sih. Negeri ini harus menerima pemimpin baru."


Jean dengan santai berjalan keluar area kastil. Sesampainya di gerbang, ia dihadang oleh orang-orang yang tadi menyembelih para ksatria.


Jean tahu siapa mereka. Mar telah memberitahunya beberapa waktu yang lalu lewat sebuah surat. Dia mengatakan kalau ia sengaja merekrut bandit untuk bergabung dalam pasukan count Feldberg. Bukan untuk apa-apa. Mar sengaja melakukan ini untuk menambah dosa Count Feldberg.

__ADS_1


Dan memang seperti itu. Pada dasarnya, orang-orang yang mengacau di kota ini adalah para bandit. Tentu saja, semua kesalahan akan dilimpahkan pada count Feldberg.


"Lihat-lihat! Sepertinya masih ada satu anak buah Eisen yang tersisa! Hahaha!"


"Pakaiannya terlihat sangat mahal! Pastilah dia anak orang kaya! Eh, mungkinkah dia anak haram Duke Eisen!?"


"Kelihatannya seperti itu!"


Rusuh sekali. Mulut-mulut busuk mereka mengeluarkan kalimat yang menjijikan. Dianggap sebagai anak haram Duke Eisen membuat ia muak. Jean punya keluarga yang bahagia meskipun sekarang telah berpisah.


Suara tawa mereka juga buruk. Makhluk seperti ini memang tidak pantas untuk hidup. Jadi, Jean memutuskan untuk membinasakan mereka semua di sini.


Jean mengompres energi yang ada di sekitarnya, mengubah energi alam yang berada di sekelilingnya menjadi sangat tajam. Menjetikan jarinya, energi yang telah ia proses itu ditembakan, membuat tubuh para bandit itu tercincang layaknya daging yang dipotong-potong oleh pisau besar.


"Aneh, membunuh mereka tidak membuatku senang. Yah, itu berarti mereka pantas mati jadi tidak ada masalah."


Jean melanjutkan perjalanannya. Setiap kali ia melihat pasukan count Feldberg yang sedang mengacau, ia langsung membunuhnya tanpa ampun dan tanpa berbicara apapun.


Tentu saja, dia tidak membunuh semuanya. Mereka adalah calon tenaga kerja gratis. Membunuh mereka tanpa alasan adalah hal yang sia-sia. Akan lebih berguna mengurung mereka di kamp penahanan lalu memaksa mereka untuk bekerja tanpa dibayar.


Hanya dalam satu hari, Jean seorang diri berhasil melumpuhkan seluruh pasukan count Feldberg. Besok, ketika Rose datang, dia tidak perlu susah-susah untuk menerobos kota. Pintu untuknya telah terbuka lebar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Remang-remang. Kesadaran Count Feldberg belum sepenuhnya terkumpul. Matanya masih mengerjap dan tubuhnya terasa sangat lemas. Udara terasa dingin. Hidungnya dapat mencium bau yang sangat tidak sedap.


Ketika kesadarannya telah pulih, count Feldberg menyadari kalau tubuhnya tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Perlahan, rasa sakit mulai menyerang sekujur tubuhnya, bersamaan dengan udara yang semakin dingin.

__ADS_1


"Di mana...aku?"


Tangan dan kakinya terikat. Dia tidak bisa menggerakan tubuhnya secara leluasa.


"Kau sudah bangun, count Feldberg. Selamat datang, inilah tempat dimana kau biasa menyiksa orang-orang demi kepuasan pribadi. Rantai yang mengikat kaki dan tanganmu adalah rantai yang sama dengan yang kau gunakan untuk mengikat targetmu."


Dari belakangnya, seorang pemuda tiba-tiba saja membuka mulutnya. Tidak butuh waktu lama untuk mengenali siapa orang ini. Jean. Dialah yang membuat dirinya tidak sadarkan diri dan akhirnya sampai di tempat ini.


Dia ingin mengutuk Jean, tapi mulutnya terkunci. Seolah lidahnya tidak diizinkan untuk mengatakan apapun. Yang bisa ia lakukan hanyalah mendengarkan semua yang Jean katakan.


"Seperti yang telah aku janjikan, aku akan memberikan dirimu pada rakyatmu. Dan kini, beberapa orang yang merelakan diri sebagai perwakilan telah datang. Oi, kalian boleh masuk!"


Saat itu juga, lima orang memasuki ruangan. Count Feldberg sama sekali tidak mengenali mereka, namun kelima orang itu memancarkan kebencian yang kuat padanya. Dulu, ia bisa menghabisi mereka dengan mudah. Tapi kondisinya yang sekarang membuat ia tidak bisa melakukan apapun.


"Mereka adalah orang-orang yang kau sakiti, count Feldberg. Kau mengambil anak dan istri mereka lalu memperkos* dan membunuhnya setelah kau puas. Tidak hanya itu, kau bahkan mengusir mereka dari rumahnya dan mengambil semua harta benda yang telah mereka perjuangkan. Oh, betapa zalimnya."


Jean tersenyum licik. Dia memanggil ke lima orang itu dan memberikan mereka masing-masing satu belati. Dia membisikan sesuatu pada mereka. Count Feldberg tidak tahu apa yang Jean bicarakan.


Tapi kelima orang itu tidak peduli dengan kebingungan count Feldberg. Mereka hanya menghampiri dia dan....mulai mengulitinya. Ya, count Feldberg dikuliti hidup-hidup.


Menyadari apa yang sedang terjadi padanya, count Feldberg menjerit dan meronta. Rasa sakit yang amat sangat mengular ke seluruh tubuhnya.


"ARGGGHHHH.....TIDAK! TIDAAAAKKK!! TOLONG HENTIKAAANN!! SAKIT! SAKKIIITT!!! AAAAARRGHHHH!!"


Meskipun ia menjerit dan meronta, tidak ada yang peduli dengannya. Kelima orang tadi tetap mengulitinya sementara Jean tertawa layaknya sedang menonton pertunjukan komedi.


Setelah ia mati, Jean menggatung mayatnya di pusat kota Feldberg dan membiarkan seluruh penduduk untuk meludahi, memukul, dan menginjaknya. Barulah tiga hari kemudian, mayatnya yang telah membusuk diturunkan dan dibakar hingga menjadi abu.

__ADS_1


Abu itu lalu dicampur dengan makanan busuk dan diberikan ke babi-babi yang kelaparan.


__ADS_2