
Pada akhirnya, Duke Cassilas tidak bisa melakukan apapun. Dia dan sekutunya benar-benar terlambat. Tembok kota sedang digempur sementara Ksatria yang dia miliki terpecah di berbagai tempat. Pasukannya yang ada di wilayahnya juga sudah dibantai habis. Tidak akan ada bantuan yang datang dari luar.
Kekuatan yang Jean miliki jauh lebih besar daripada yang bisa Duke Cassilas dan sekutunya bayangkan. Selama ini, dia telah bermain di atas telapak tangan Jean, sembari ditertawakan oleh bocah itu.
Meski begitu, Duke Cassilas dan lainnya tidak menyerah. Mereka mengumpulkan sebanyak orang yang bisa dihimpun dan melakukan perlawanan yang cukup sengit.
Mereka menggunakan rakyat jelata sebagai tameng manusia untuk menahan laju pasukan Jean. Anak-anak, orang tua, dan wanita dipaksa untuk berbaris.
"Hahh.... itulah kenapa aku membenci para bangsawan sombong itu. Jelas tidak menganggap orang-orang yang statusnya lebih rendah dari mereka sebagai manusia."
Jean tidak mengharapkan apapun dari bangsawan. Termasuk kesetiaan. Apalagi kemanusiaan. Tatapannya yang tajam terarah pada barisan orang-orang yang ketakutan di atas tembok.
"Mungkin aku harus jadi pahlawan sebentar."
Jean turun dari kuda yang dia tunggangi. Dirinya berlari ke arah sebuah catapult yang sedang me-reload sebongkah batu besar. Jean menghentikan prajuritnya yang sedang mengangkut batu. Sebaliknya, Jean meminta mereka untuk melempar dirinya ke atas tembok menggunakan ketapel raksasa itu.
"Tuan Jean!! Apa yang sebenarnya anda lakukan!? Saya mohon turun dari sana secepatnya!!"
Rose yang menyadari ulah Jean berteriak seperti seorang ibu yang meneriaki anaknya ketika memanjat pohon yang terlalu tinggi! Jean ingin tertawa melihat hal itu. Namun sekarang bukan saat yang tepat.
"Tenang! Aku akan baik-baik saja!"
Setelah mengatakan itu pada Rose yang panik, Jean memerintahkan prajuritnya yang mengoperasikan catapult untuk segera melontarkan dirinya ke atas benteng.
Tentu mereka ragu. Tapi karena ini perintah, mereka tidak punya pilihan.
__ADS_1
Begitu talinya di lepas, Jean langsung terlontar menuju atas benteng. Dia dengan mulus mendarat di atas tembok dan menebas 10 lawan yang ada di depannya.
"Amankan para penduduk dari sini! Pastikan mereka kembali dengan selamat!"
Sudah cukup banyak pasukan Jean yang mencapai bagian atas tembok. Beberapa dari mereka yang telah selesai bertarung dengan musuh langsung melaksanakan perintah Jean.
"Baiklah, aku akan bersenang-senang dulu dengan semua musuh yang ada di sini."
Berdasarkan perhitungan Jean, ada 200 Ksatria yang masih tersisa. Setelah memastikan kalau tidak ada sekutu dan penduduk sipil di dekatnya, dia langsung mengeluarkan pedang dari sarungnya dan melesat ke arah musuh-musuhnya.
Para musuhnya tidak menyangka kalau bocah yang berlari ke arah mereka adalah seseorang yang kuat. Jadi mereka dengan santai meremehkannya.
Tidak ada yang menyangka kalau bocah itu akan menjadi dewa kematian untuk mereka. Karenanya, mereka membayar kecerobohan dengan harga yang sangat besar.
"Eh, mereka lemah. Jadi ini ksatria terbaik milik Duke Cassilas."
Jean tidak lagi tertarik dengan mereka. Dia tidak mendapatkan kesenangan apapun. Jadi dia membiarkan sisanya lari. Toh, prajurit yang dia miliki pasti akan membunuhnya.
Tiba-tiba, suara gemuruh datang dari arah lain. Jean menoleh ke sumber suara lalu tersenyum.
Salah satu dari bagian tembok telah runtuh karena hantaman batu besar nan bertubi-tubi. Gerbang tembok juga telah berhasil dijebol. Pasukannya mengalir bagai air bah. Memasuki Saint Georgia City tanpa ada yang bisa membendungnya.
"Hari penghakiman untuk Duke Cassilas dan sekutunya telah tiba. Aku jadi tidak sabar melihat reaksi mereka ketika semua yang telah dicita-citakan hancur begitu saja."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Duke Cassilas membuka matanya. Tubuhnya terasa sangat sakit. Tulang-tulangnya berderak. Sedikit gerakan membuat rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dia sadar kalau tangannya sedang digantung. Kakinya tidak menapak ke tanah. Lagi-lagi, rasa nyeri menyerang tubuhnya hingga dia mengerang kesakitan.
Dalam pandangannya yang masih sayup-sayup, dia melihat seseorang mendatanginya. Awalnya samar-samar karena ruangan cukup gelap. Namun, saat Duke Cassilas tahu siapa yang mendatanginya, kebencian memenuhi seluruh tubuhnya.
"Bagaimana perasaanmu, tuan Duke? Kau senang semua rencanamu berhasil?"
Jean mendatanginya sembari tersenyum. Duke Cassilas langsung mengingat semuanya. Dia sedang berusaha melarikan diri bersama keluarganya saat itu. Namun puluhan orang mencegat mereka.
Tentu dia berusaha melakukan perlawanan. Namun dia bukan tandingan 20 orang yang menjadi lawannya. Alhasil, dia dihajar hingga tidak sadarkan diri. Bangun-bangun, dia sudah ada di tempat yang gulita ini.
"Kau.....bajingan! Jelata rendahan! Hina! Kau hanyalah hewan melata yang ada di jalanan! Seorang bocah yang tidak diberkati oleh Dewi!"
Duke Cassilas mungkin mengharapkan kalau Jean akan marah dengan semua serapah yang dia keluarkan. Tapi berkebalikan dari yang dia harapkan, Jean malah tertawa.
"Hahaha. Kau boleh menghinaku sepuasnya. Tapi fakta kalau kau dan sekutu-sekutumu telah kalah tidak akan berubah, tuan Duke."
Duke Cassilas menggertakan giginya. Dia ingin berteriak, dia ingin maju lalu menghantam Jean. Memukulinya hingga babak belur dan menghancurkan tubuhnya.
Jean tahu apa yang dirasakan oleh Duke Cassilas. Dan disitulah bagian yang paling menariknya.
Jean akan memberikan hukuman paling menyakitkan pada mereka. Dia akan membuat mereka tersungkur dalam kehinaan dan binasa dalam rasa pengkhianatan.
Besok, mereka akan menghadapi hari penghakiman yang sesungguhnya.
__ADS_1