Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Hari Keberangkatan Ekspedisi


__ADS_3

Kalina dan Ulrich sedang berada di taman yang ada di luar tembok kota. Taman ini aman karena dijaga oleh banyak ksatria. Wajar saja mengingat taman ini adalah tempat rekreasi para bangsawan dan orang-orang kaya.


Sulit untuk mendapatkan izin count Lesko agar Kalina dapat belajar di luar. Namun dia berhasil meyakinkan count Lesko setelah tiga hari mencobanya. Pada hari ini juga, Karina Lesko, kakak Kalina, akan berangkat menjalankan misi.


Hari masih pagi, karenanya taman masih sepi. Walupun Ulrich mengatakan belajar, sebenarnya ia hanya ingin Kalina bersenang-senang. Otomatis, tidak ada pelajaran hari ini.


Kalina berlarian kesana dan kemari. Mengejar kupu-kupu berbagai warna yang sempat hinggap di hidungnya. Angin sepoi berhembus dengan lembut, membuat rambut lavendernya melambai-lambai.


Bunga-bunga yang ada di taman bergoyang, menarik perhatian para lebah untuk menghisap nektar mereka.


Semua ketenangan ini akhirnya teralihkan ketika suara kuda yang sedang berlari terdengar. Para ksatria yang ada di sana tidak mencoba untuk menghalanginya. Itu karena seorang ksatria dengan zirah nan elegan menunggangi kuda tersebut.


Begitu sampai di taman, kuda itu berhenti dan penunggangnya turun. Kalina yang penasaran mencoba untuk mengetahui siapa penunggang tersebut, yang membuat matanya terbelalak bahagia.


"Kakak Karina!! Selamat datang!"


Kalina berlari ke arah Karina Lesko, Kakak perempuannya. Dia lalu melemparkan dirinya ke pelukan Karina, yang dengan senang hati disambut olehnya.


"Karina, selamat datang kembali. Kakak minta maaf karena jarang bermain denganmu. Bagaimana kabarmu?"


Kalina mengusap kepalanya ke dada Karina dengan bahagia. Selama ini, Karina lah satu-satunya kakak yang perhatian padanya. Dia merasa kesepian ketika Karina mulai jarang bermain dengannya.


"Umm! Aku baik-baik saja! Terimakasih karena telah datang ke sini! Ayo, temani aku bermain!"


Kalina tersenyum lembut sembari mengusap kepala adik kecilnya yang manis. Ia lalu merasakan kehadiran seseorang di belakang Kalina. Ternyata orang itu adalah Ulrich, guru pembimbing Kalina. Pemuda itu dengan tenang menundukan badannya untuk memberikan salam dan hormat.


Karina lalu balas tersenyum. Setelah itu, ia menghabiskan waktu bersama Kalina untuk bermain. Mereka bermain kejar-kejaran. Karina mengejar Kalina yang tertawa gembira dan menangkapnya. Terkadang sebaliknya. Kalina yang mengejar Karina.

__ADS_1


Mereka bermain sampai puas hingga Kalina kelelahan dan jatuh tertidur. Melihat adiknya yang tertidur, Karina tertawa kecil dan menggendongnya ke tempat Ulrich duduk.


"Ulrich, kan? Aku ingin mengucapkan terimakasih kepadamu karena telah menemani Kalina. Terimakasih banyak. Sebagai seorang kakak, aku sangat senang ketika ada seseorang yang membimbingnya."


Karina menjulurkan tangan untuk berjabat tangan. Ulrich terlihat kaget. Perlakuan yang ia terima sangat berbeda dengan perlakuan yang ia terima dari count Lesko.


Karina tersenyum. Dia menjelaskan kalau dirinya telah bekerja bersama rakyat jelata sejak lama. Karena itu, perlakuannya dengan Ulrich agak berbeda. Berkat hal itu, Ulrich tidak ragu untuk berjabat tangan dengannya.


"Anda tidak perlu berterimakasih, nona Karina. Saya justru merasa terhormat ketika nona muda menerima saya sebagai tutornya. Dia adalah gadis yang istimewa. Cerdas, antusias, dan sangat mudah menyerap ilmu-ilmu baru."


"Begitu? Syukurlah kalau memang seperti itu. Kalina adalah gadis yang kesepian. Meskipun ia mendapatkan apapun yang ia mau, ayah, ibu, dan kakaknya jarang hadir bersamanya ketika ia membutuhkan kasih sayang.


"Kalina memang anak yang manja dan arogan, tetapi hatinya sangat lembut. Ia mudah sekali terenyuh. Dia benar-benar anak yang baik dan hebat. Sebagai seorang kakak, aku bangga padanya.


"Ah, aku minta maaf karena terlalu banyak bicara. Intinya, aku berharap agar anda terus menemani dan membimbing anak ini. Setidaknya selama aku menjalankan misi dalam yang waktu yang panjang, dia tidak kesepian."


Ada senyum getir di bibir Karina. Ulrich yang mendengar hal ini menggeleng lalu tersenyum. Ia menatap lamat-lamat wajah Kalina yang tertidur. Setelah itu, ia mengatakan sesuatu untuk meyakinkan Karina.


Kali ini senyum tenang terbit di wajah Karina yang sangat cantik. Berterimakasih kepada Ulrich, dia membangunkan Kalina yang tertidur hingga gadis kecil itu terbangun.


"Kalina, kakak akan berangkat hari ini. Jaga dirimu dan jangan nakal, oke?"


Kalina mengangguk. Ia lalu menwarkan jari kelingkingnya pada Karina sambil menahan tangis.


"Nee~ kakak, berjanji lah padaku untuk kembali."


Karina menautkan jari kelingkingnya ke kelingking adiknya. Janji keduanya sudah terbentuk. Mengucapkan terimakasih sekali lagi, ia beranjak pergi dari taman, saatnya pergi.

__ADS_1


Ulrich dan Kalina memandangi Karina yang menjauh hingga tidak lagi terlihat oleh mata.


***


Di markas ksatria ibukota, para ksatria telah berkumpul dan berbaris. Mereka berjumlah 80 orang. Ada empat kapten yang akan diutus untuk misi ekspedisi kali ini, dimana setiap kapten membawahi 20 orang.


"Misi ekspedisi kali ini bersifat rahasia. Ksatria yang lain tidak tahu misi apa yang sebenarnya kita jalani dan apa tujuannya. Tidak akan ada bala bantuan yang datang. Setiap kalian harus menyelesaikan misi dengan berhasil, paham!?"


""""YES SIR!!"""""


suara para ksatria bergema. Hari ini markas kosong, jadi tidak ada masalah jika mereka berteriak. Setelah arahan sementara, para ksatria dibubarkan dan keempat kapten yang telah ditunjuk berkumpul di hadapan komandan ksatria.


Para kapten itu adalah Jeanne, Hanna Otylia, Karin Lesko, dan Szymon Krzys. Mereka adalah cahaya baru dalam tubuh ksatria karena kemampuannya yang tidak diragukan lagi meski usianya masih muda.


"Perjalanan dari Krakov city menuju perbatasan akan memakan waktu selama 21 hari. Bisa jadi lebih jika ada sesuatu di luar perhitungan. Tugas kalian adalah menyusup ke dalam wilayah Principality of Danzig dan mengawasi pergerakan mereka. Paham?"


Keempatnya mengangguk. Komandan ksatria hanya mengatakan itu, lalu pergi.


"Hey, Jeanne. Setelah misi ekspedisi ini selesai, persiapkan dirimu. Aku akan datang kepadamu dan menjadikanmu wanitaku."


Mendengar perkataan Szymon yang tanpa malu, Hanna dan Karina mengerutkan alis mereka. Jijik dan muak tergambar dalam ekspresi mereka. Sementara Jeanne, ia hanya memasang ekspresi poker facenya.


"Jangan dengarkan dia, Jeanne. Masih banyak lelaki lain yang lebih layak untukmu. Krzys jelas bukan salah satunya."


Karina menepuk pundak Jeanne. Yah, mereka adalah sahabat baik. Sama seperti Hanna, Karina adalah sedikit dari orang yang Jeanne anggap sebagai sahabat.


"Itu benar Jeanne. Narsisitik itu sama sekali tidak layak untukmu!"

__ADS_1


Jeanne tertawa kecil. Mungkin masih banyak lelaki yang lebih cocok untuknya. Tapi bagi Jeanne, hanya satu laki-laki yang pantas bersamanya.


'Benar. Tidak ada yang layak. Satu-satunya yang layak untukku adalah dia seorang. Bukan yang lain.'


__ADS_2