
Selina dan Natasha tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. Jean yang muncul di layar segera tertawa, membuat kedua gadis tersebut merasa semakin malu.
"Hai Selina, Natasha. Senang bisa kembali melihat kalian berdua. Kalian semakin cantik sejak terakhir kali kita bersama. Aku tidak sabar untuk melihat kalian berdua secara langsung."
Pipi Natasha dan Selina terasa panas. Wajah mereka merah padam. Mungkin karena terlalu terkejut, mereka belum bisa berkata-kata saat melihat Jean.
Natasha dan Selina juga berpikiran sama. Jean menjadi sangat tampan sejak terakhir kali mereka bersama. Tatapannya menjadi jauh lebih kuat dan tajam meskipun wajahnya agak kekanakan. Matanya yang hitam sekelam malam seolah menyimpan misteri yang tidak berdasar.
"Selina, Natasha, kalian baik-baik saja kan? Kalian masih di sana kan?"
Natasha dan Selina akhirnya tersadar. Mereka terlalu terpukau dengan Jean sampai-sampai terbawa suasana. Keduanya menjadi kikuk dan gugup saat Jean memanggil mereka.
"J-jean.... I-ini benar-benar dirimu kan? Dan juga..... Mengapa wajahmu muncul begitu saja di depan kami?"
Natasha bingung. Selina juga sama. Keduanya belum pernah mendengar hal seperti ini terjadi. Namun Jean hanya tersenyum tipis dan menjelaskannya dengan rancu. Sepertinya, ia tidak berniat untuk menjelaskannya dengan rinci.
"Apapun itu, kami merindukanmu Jean. Kapan kamu akan kembali? Kami semua ingin bertemu denganmu."
Kali ini Selina yang berbicara dari lubuk hatinya yang terdalam. Natasha mengangguk. Dari seberang sana, Jean lagi-lagi tertawa kecil. Itu membuat Selina dan Natasha sedikit kesal. Mereka berdua serius!
"Masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan di kawasan tengah benua Akkadia. Tentu saja, aku akan kembali dalam waktu dekat. Aku juga tidak sabar bersua kembali dengan kalian."
Natasha menggembungkan pipinya. Memangnya pekerjaan macam apa!? Itulah yang dikatakan oleh ekspresinya.
"Hahaha. Aku serius, Natasha. Tenang saja, aku akan memastikan bahwa kekuatan dominan di kawasan tengah Akkadia tidak teralihkan ke arah barat dan tidak mencampuri urusan kalian.
"Dengan begitu, kau bisa dengan tenang mencaplok negeri-negeri kecil yang berada di sebelah timur. Bagaimana? Tidak terdengar buruk kan?"
Natasha membelakan matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar. Dia memang berniat untuk menjadikan banyak negeri-negeri kecil di sebelah timur kerajaan Dublin sebagai wilayah kekuasaannya.
Tetapi jika ia melakukannya terlalu jauh, Natasha khawatir kalau kerajaan Warsawa, Pirncipality of Danzig, dan negeri lainnya yang berbatasan langsung dengan kawasan barat benua Akkadia akan mengendus niatnya dan melaksanakan intervensi.
Selain itu, beberapa negeri yang ia taklukan sebelumnya juga belum terlalu stabil. Meskipun Natasha dan Rose menaklukan tanpa melakukan pembantaian, penjarahan massal, pemerkosaan kepada penduduk sipil, dan tindakan yang tak manusiawi lainnya, beberapa pemberontakan masih terjadi.
__ADS_1
Bahkan ketika Natasha dan Prisicllia memberikan hak istimewa kepada bangsawan dan kelompok berpengaruh lainnya selama mereka menyerah dan tidak melakukan perlawanan, tetap saja banyak dari mereka yang menghasut penduduk untuk melakukan perlawanan pada kerajaan Dublin.
Maka ketika Jean membuat kekuatan besar di kawasan tengah benua Akkadia tetap pada tempatnya, itu akan memudahkan Natasha dalam banyak hal.
Tapi yang lebih penting lagi.... Darimana Jean mengetahui niat dan tindakan Natasha serta yang lainnya? Seolah membaca pikiran Natasha, Jean menjawab pertanyaan yang ada di pikiran Natasha.
"Rahasia."
Jean mengatakan itu sambil tersenyum mengejek Natasha! Urat nadi timbul di dahi Natasha. Kalau Jean sekarang berada di sini, ia pasti akan memukul kepalanya! Melihat Natasha yang kesal dan kehilangan ketenangannya, Selina tertawa kecil.
"Hahaha! Aku hanya bercanda. Tapi aku serius soal pekerjaanku. Jangan khawatir, lakukan apa yang menurutmu harus kau lakukan, Natasha."
Natasha menghela nafasnya. Ketenangan yang sebelumnya hilang telah kembali. Jean benar. Natasha tidak boleh terdistraksi oleh kekhawatirannya.
"Aku punya satu nasihat untukmu, Natasha. Jangan ambil melebihi yang kau bisa genggam. Itu saja. Ah, satu lagi. Aku akan mengirim hadiah untuk Kalian. Kiriman itu akan datang besok. Aku menitipkannya padamu, oke?"
Hadiah? Natasha dan Selina jadi penasaran. Tapi mereka juga bahagia dan antusias! Siapa yang tidak senang ketika orang yang kau cintai memberimu hadiah?
"Kamu memberikan pekerjaan yang terlalu berat padaku, Jean. Baiklah, kamu tidak perlu khawatir. Serahkan semuanya padaku."
Jean tersenyum. Sebelum memutus sambungannya, Jean memasang senyum termanis yang bisa ia bentuk di bibirnya.
"Terimakasih, kalian berdua. Aku mencintai kalian."
Dan sambungan terputus.
Natasha dan Selina diam sejenak. Ada rasa bahagia dan sedih di hati mereka. Bahagia karena akhirnya mereka bisa kembali menatap wajah Jean. Sedih karena pada akhirnya dia harus pergi lagi. Kalau bisa, mereka ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan kekasih mereka.
"Ayo kita istirahat, Selina. Besok, semuanya akan lebih berat. Selamat malam."
"Selamat malam, Natasha."
Meskipun Natasha mengatakan besok akan lebih berat, keduanya sama-sama menyadarkan bahwa hati mereka terasa jauh lebih ringan sekarang. Bahkan ketika tertidur, senyuman tidak terhapus dari bibir mereka.
__ADS_1
***
Di saat yang sama ketika Natasha, Selina, dan Jean sedang berkomunikasi, seorang pria berusia pertengahan 40-an sedang duduk di atas singgasananya.
Di hadapannya, lima orang berlutut. Mereka mengenakan pakaian serba hitam yang dapat menyembunyikan keberadaan mereka dan menyamarkan wajah mereka.
"Kami menghadap anda untuk melaporkan keberhasilan misi yang anda berikan pada kami, yang mulia."
Ekspresi sumringah terbit di wajah pria tersebut setelah mendengar hal itu. Dengan bersemangat, dia memerintahkan salah satu dari mereka untuk melapor.
"Kami berhasil mereduksi kekuatan para ksatria kerajaan, yang mulia. Kami juga sudah menghapus jejak sehingga tidak akan timbul kecurigaan dari pihak lawan. Dengan begitu, satu-satunya yang bisa disalahkan atas tragedi tersebut hanyalah Duke Ankwicz dan keluarga Mietzsko."
"Bagus! Bagus! Kerja bagus, kalian semua! Baiklah, kalian boleh pergi! Ambil bonus kalian di luar! Buttlerku sudah menunggu."
Dengan hormat, mereka mengundurkan diri dari hadapan pria tersebut. Setelah mereka pergi, pria itu tersenyum lebar. Tidak lama kemudian, ia tertawa.
"Akhirnya langkah pertama untuk menyingkirkan mereka sudah terwujud! Tidak lama lagi, keluarga Cetner lah yang akan menjadi monarki selanjutnya! Dengan begitu, Warsawa akan menjadi kerajaan terkuat di seluruh kawasan tengah Akkadia! Aku tidak sabar untuk menunggu dan melihat ketika saat itu tiba."
Pria itu, Benas Cetner, kepala keluarga Cetner yang sekarang, tertawa puas. Pada akhirnya, ia akan menyingkirkan keluarga Mietzsko dan pendukungnya, keluarga Ankwicz. Setelah ia menyingkir semua lawan yang mengotori jalannya, tidak ada satupun yang dapat menghalanginya untuk menjadi monarki dan membawa Warsawa ke era kejayaannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Author;
Akhirnya, setelah sekian lama, Jean kembali bertemu dengan dua kekasihnya, Natasha dan Selina, meski tidak secara langsung. Sejujurnya, saya sangat antusias ketika menulis ini. Semoga para pembaca bisa berbagi perasaan yang sama dengan saya.
Duke Cetner yang berambisi untuk menjadi keluarga monarki selanjutnya sudah mulai bergerak, saya rasa tidak lama lagi, badai akan terjadi di kawasan tengah benua Akkadia. Saya tidak sabar untuk menulisnya!
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komentar jika pembaca yang budiman menyukai cerita ini. Seperti biasa, selamat membaca dan selamat menikmati!
Best Regard
mawangsyah
__ADS_1