
Di bawah hujan anak panah, pasukan count Lombard merangsek ke dalam barisan musuh. Meski jumlahnya banyak, serangan anak panah tersebut tidak menimbulkan banyak korban. Count Lombard dan pasukan kavalerinya berhasil memporandakan musuh.
Tetapi pertarungan tidak pernah berhenti sampai di sana. Segera setelah count Lombard menghancurkan banyak tentara musuh, tentara kerajaan Silesia mulai melakukan serangan balik.
Count Lombard belum menyadari kesalahannya. Sebagian besar yang ia hancurkan adalah milisi yang direkrut dengan paksa dimana keseluruhan dari mereka adalah petani maupun rakyat jelata lainnya.
Bergitu mereka habis, prajurit yang terlatih lah yang tersisa. Mereka segera melakukan pengaturan ulang dan melancarkan serangan balasan ke count Lombard.
Count Lombard sendiri belum pernah turun secara langsung ke Medan perang. Karena itu, ketika dirinya menjadi target serangan balik, ia menjadi panik. Dia segera memerintahkan kavaleri dan pasukannya yang lain untuk menerobos kerumunan musuh.
Dia masuk terlalu jauh ke barisan lawan. Akibatnya, ketika lawan melakukan reorganisasi, dirinya dan lainnya terkepung. Membuat count Lombard dan pasukan yang ia bawa menjadi sasaran empuk tombak panjang dan pedang lawan.
"Count Lombard berada dalam kesulitan, huh. Haruskah aku mengirimkan bantuan?"
Rose berpikir sejenak. Setelah itu, ia menggeleng. Rose sudah mengubah penilaiannya. Kali ini ia harus sangat berhati-hati menghadapi kerajaan Silesia.
Lagipula.... Unit kavaleri yang ia kirim untuk menghancurkan kavaleri lawan yang bersembunyi dalam hutan juga sedang bertempur dengan sengit. Mereka harus menghancurkan musuh tanpa tersisa satupun.
Tidak ada yang bisa ia kirim ke count Lombard sebagai bantuan. Sebagai konsekuensi dari ambisi dan keteledorannya, count Lombard harus menyelesaikan masalahnya sendiri.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, count Lombard dan para ksatrianya berhasil dihabisi oleh pasukan kerajaan Silesia. Mereka segera mengubah formasi. Dari defensif menjadi ofensif.
"Huh? Mereka mengubah formasi? Ini bisa berbahaya. Tapi untungnya aku mengetahui ini dari awal."
Rose segera memberikan perintah. Dia memerintahkan barisan penembak untuk berdiri di depan. Segera, regu penembak berbaris dengan formasi yang rapih. Mereka semua adalah prajurit yang disiplin.
Pasukan kerajaan Silesia mulai bergerak maju. Melewati celah hutan yang cukup sempit, mereka berjalan dengan rapih dan teratur. Jujur, ini lah yang mengubah penilaian Rose terhadap mereka.
Bumi bergetar karena ribuan orang bergerak di saat yang bersamaan. Taktik mereka dengan cepat berubah. Tapi itu berarti kavaleri yang mereka letakan di dalam hutan tidak begitu berguna.
"Hahh.... Kalau begitu kenapa mereka meletakan unit pasukan berkuda di sana dari awal? Kalau begitu ceritanya, aku tidak perlu mengerahkan unit kavaleri untuk menghabisi mereka."
Semakin lama, musuh semakin mendekat. Jarak mereka ke pasukan utama tinggal beberapa ratus meter lagi. Atas perintah Rose, panah-panah mulai dilepaskan dari busurnya, menghujani musuh dengan panah-panah tersebut.
Gerakan mereka memang melambat namun tidak berhenti. Dengan perisai yang menaungi kepala, mereka terus-menerus maju. Rose sengaja membiarkannya. Komandan musuh terlihat senang.
Namun saat itu juga.......
BOOOMMMM!!!
__ADS_1
BOOOMMMM!!!
BOOOMMMM!!!
Sepuluh meriam menyalak. Bola-bola besi berterbangan di atas kepala pasukan Rose dan mendarat tepat di kerumunan pasukan musuh. Berbeda dengan yang tadi, kali ini jumlah korban jiwa yang berjatuhan di pihak mereka berlipat.
Meriam-meriam tersebut menembak sebanyak lima kali. Setelah itu, mereka di bawa ke barisan belakang. Kini giliran grup penembak. Mereka mengarahkan moncong musket matchlok mereka dan ketika aba-aba sudah dikeluarkan, mereka menembak.
DOOORRR!!!
DOOORRR!!
DOOORRR!!
Suara ratusan musket yang ditembakan secara bersamaan membuat telinga peka. Namun kepekaan semacam itu hanya di rasakan oleh pasukan Rose. Karena yang musuh rasakan hanyalah kengerian dan kematian.
Penembak yang berada di baris pertama mundur dan digantikan oleh penembak yang ada di baris kedua. Belum juga pulih, rentetan tembakan kembali diterima oleh pasukan kerajaan Silesia.
Ratusan hingga ribuan prajurit di pihak lawan berjatuhan. Kepala dan jantung mereka di hantam oleh bola besi kecil yang sangat mematikan. Mereka yang terkena proyektil meriam dan pecahannya langsung menjadi bubur daging. Darah dan anggota tubuh mereka tercecer di mana-mana.
__ADS_1
Perang masih berlangsung dan semakin sengit.