Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Selamat Datang Di Bar Milikku


__ADS_3

Lonceng di katedral berbunyi tiga kali. Suasana duka menyelimuti seluruh katedral. Semua yang hadir mengenakan pakaian berwarna hitam. Isak tangis juga terdengar di dalam katedral.


Siang itu, paman Hull meninggal dunia dengan senyum bahagia menyungging di bibirnya. Jean yang menjadi saksinya. (meskipun dia adalah penyebab utama meninggalnya Hull. Well, itu bukan salahnya karena Hull sendiri yang meminta)


Seketika, ketika Jean memberikan kabar itu, Cahrlotte dan Cassie berlarian ke kamar paman Hull. Mereka menangis histeris. Jerit tangis keduanya mungkin bisa terdengar hingga luar.


Jean juga ingin menangis! Tapi dia tidak boleh. Ini adalah jalan yang dipilih oleh paman Hull untuk kebaikan anak dan istrinya.


Prosesi pemakaman langsung diadakan siang itu juga. Jenazah paman Hull dibawa ke satu-satunya katedral yang ada di Saint Georgia City. Pendeta membacakan doa untuknya dan beberapa biarawati menyanyikan lagu duka.


Di tengah hujan yang deras, peti kayu yang berisi tubuh paman Hull diturunkan ke dalam tanah. Hujan membuat tanah menjadi basah dan becek namun prosesi tetap dilakukan. Charlotte dan Cassie belum berhenti menangis. Keduanya saling berpelukan, saling menguatkan satu sama lain.


Pendeta juga masih melantunkan doanya. Jean tersenyum miris. Apakah dia pikir Dewi atau siapapun itu akan mendengarnya?


Tapi fokus Jean segera teralihkan. Ketika hampir semua orang yang ada di area pemakaman ini menangis, atau setidaknya murung, Jean dapat melihat beberapa orang yang merasa bahagia dengan kematian paman Hull.


Tidak peduli sepintar apapun mereka menyembunyikan senyum bahagia, mata Jean yang tajam bisa menangkap itu. Seperti yang Jean pikirkan, mereka adalah orang-orang yang akan mengambil kesempatan untuk mengambil keuntungan ketika paman Hull telah tiada.


Dalam tubuh HuCas, orang-orang seperti mereka adalah benalu. Hidup dari inangnya dan di saat yang sama, membunuh inang mereka ketika para benalu itu telah puas menyerap seluruh nutrisi dari inangnya.


Tekad paman Hull akan sia-sia kalau benalu seperti mereka tetap dibiarkan hidup. Well, setelah prosesi ini selesai, Jean akan segera memberikan 'hadiah' kepada mereka.


Upacara pemakaman selesai ketika sore hari tiba. Hujan sudah berhenti dan perlahan, matahari menyembul dari baik gumpalan awan yang gelap.

__ADS_1


Charlotte dan Cassie sudah berhenti menangis. Ah, mereka tertidur. Mungkin karena tangisan mereka menguras tenaga?


Dibantu oleh pelayan lainnya, Jean membopong Charlotte dan Cassie ke kereta kuda dan membiarkan mereka pulang terlebih dahulu untuk istirahat. Dia juga mengirimkan lima anggota Serigala Putih yang bersembunyi di balik bayangan untuk mengawal kereta kuda yang membawa keduanya secara diam-diam.


"Kalian semua, kembalilah terlebih dahulu. Tolong urus semua kebutuhan nona Cahrlotte dan nyonya Cassie. Ada hal lain yang ingin aku selesaikan."


Pelayan yang lain mengangguk dan segera pergi dari area pemakaman. Setelah memastikan semuanya bubar, Jean mengaktifkan teknik [World Wide] miliknya. Setelah itu, Jean tersenyum dan pergi dari area pemakaman setelah menumpahkan sebotol alkohol ke makam paman Hull sebagai bentuk penghormatan.


Di tengah cahaya matahari yang kembali menyinari bumi, Jean berjalan menuju tempat selanjutnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bersulang!!"


"Akhirnya orang itu telah mati!"


"Hahaha! Benar! Dengan begitu kita bisa mengambil semua aset yang dia miliki!"


"Dia pasti mewarisi semua hartanya pada putranya kan? Hah! Lelaki itu sangat bodoh dan tidak bisa diandalkan!"


"Benar sekali! Kita hanya tinggal merebutnya dari dia, hahahaha!!"


Suara tawa mereka menggelar lagi. Mereka tidak mempedulikan situasi di sekitar mereka. Wajar, karena bar ini sedang sepi.

__ADS_1


Saking asyiknya, mereka tidak sadar kalau seseorang yang bukan dari kelompok mereka telah duduk bersama mereka. Dia yang sedari tadi memperhatikan obrolan dan menyimak pembicaraan mereka.


"Hohh....jadi kalian semua berencana membodohi Samuel ya? Memang sih, itu rencana yang menarik."


"Hahaha! Benarkan! Itu memang ide yang bri....tunggu! K-kau kan..."


"Yaa....halo paman. Lama tidak bertemu."


Seketika mereka terdiam. Semuanya memandangi pendatang baru yang tidak diundang. Mereka semua akrab dengan wajah orang ini. Jean. Tangan kanan Hull.


"Cih! Apa yang kau lakukan di sini bocah!? Pergi dari pandangan kami sekarang!"


Tapi anak itu, Jean, hanya tersenyum santai. Dia bahkan juga sempat memesan minuman pada pelayan yang sedang lewat. Mereka semua sadar kalau anak ini telah mendengar semua pembicaraan mereka. Karena itulah, satu-satunya jalan yang bisa mereka lakukan untuk membungkam anak ini dan memastikan pembicaraan yang terjadi di bar ini keluar adalah dengan membunuhnya!


"Hmmm? Ada apa? Ingin membunuhku?"


"Mau bagaimana lagi kan! Karena kau telah mendengar semua pembicaraan kami, maka kami harus.....Eh? ARGGGGHHH!!"


Bahkan sebelum dia sempat menusukan pisaunya pada Jean, salah satu dari mereka tewas karena punggungnya tertusuk. Seketika itu juga mereka langsung tersadar. Mereka sudah terkepung.


"Selamat datang di barku, tuan-tuan. Aku merasa terhormat dengan kunjungan kalian. Pelayan, bawa mereka semua ke ruang 'istimewa' dan suguhkan hidangan 'spesial' untuk mereka. Ah, tolong buang bangkai ini. Baunya sangat menjijikkan."


Para pelayan bar telah mengepung mereka! Semua pelayan menggunakan tombak dan pedang untuk menodong mereka. Kelima orang yang tersisa itu, pegawai Hull, menatap Jean dengan pandangan penuh kebencian sebelum pada akhirnya pasrah dan mengikuti para pelayan bar.

__ADS_1


Jean tersenyum lagi. Tenang saja, hidangan pembuka baru saja akan diberikan.


__ADS_2