
"Jean..... Apa kau benar-benar yakin kalau posisi kita tidak akan tertukar?"
Jeanne dan Svetlana sedang berdiri di atas sebuah lingkaran sihir yang terdiri dari aksara dan angka yang sangat rumit namun indah. Lingkaran tersebut berwarna keemasan.
Jean menggeleng. Dia menjamin kalau posisi mereka berdua tidak akan tertukar. Rencananya, Jeanne akan terkirim ke pinggiran hutan perbatasan dan berjalan menuju kota sementara Svetlana akan langsung kembali ke Krakov City.
Kenapa Jeanne tidak langsung pergi ke kota saja? Ini semata-mata untuk menghindari kecurigaan. Ngomong-ngomong, Jean sudah punya cara tetapi Jeanne berinisiatif untuk meminta agar ia dikirim ke pinggiran hutan.
"Baiklah, aku harap kalian siap. Sampai jumpa, kakak, bunda. Mari kita bertemu lagi Minggu depan."
TAP!
Jean menepuk tangannya. Jeanne dan Svetlana langsung pergi dari pandangannya saat itu juga.
Sekarang, mari kita lakukan hal lain. Setelah mengatakan itu, seekor burung masuk dan terbang ke arahnya melalui sebuah jendela yang terbuka. Itu adalah burung merpati berwarna putih bersih. Tidak ada satupun noda di bulu merpati itu.
"Anak pintar. Mari kita lihat apa yang sudah kau dapatkan."
Merpati yang hinggap di pundak Jean mengepakan sayapnya. Dia bahagia karena dipuji oleh tuannya. Merpati tersebut membuka paruhnya dan sebuah amplop keluar dari sana.
Jean membuka amplop tersebut. Sebuah surat yang ditulis oleh tangan Natasha beserta cap resmi dari kerajaan Dublin. Surat itu menyatakan bahwa Jean adalah bangsawan resmi dari kerajaan Dublin. Di dalam amplop tersebut juga ada bukti kebangsawanan Jean.
__ADS_1
Natasha sudah mempersiapkan semuanya. Jean diizinkan untuk mengambil tindakan berdasarkan keputusannya sendiri tanpa memerlukan izin khusus dari Natasha. Sejujurnya, ini memudahkan Jean dalam banyak hal.
"Kalau dipikir-pikir lagi, Natasha memberikanku gelar Count. Berarti wewenangku cukup besar."
Jean memasukan surat-surat tersebut ke dalam saku bajunya, yang terhubung ke [Spacial Storage]. Kalau merpati ini sudah kembali, berarti hadiah dari Jean juga sudah sampai kepada mereka.
"Baiklah, sekarang saatnya melakukan hal lain."
Ruang di sekitar Jean menjadi terdistraksi. Sebuah retakan muncul di lantai rumahnya, beberapa langkah darinya. Dari retakan tersebut muncul sebuah lubang dan dari lubang tersebut, seorang wanita berpakaian pelayan dan mengenakan topeng putih polos keluar dari sana.
Rambut pelayan tersebut berwarna hitam panjang mengular hingga punggungnya. Meskipun dia memakai topeng, Jean dengan mudah mengetahui kalau pelayan itu sedang kebingungan dengan apa yang terjadi.
Wanita tersebut menoleh ke arah Jean yang daritadi memperhatikannya. Ada senyum yang terbentuk di bibirnya. Alih-alih merasa tenang, wanita itu justru terlihat terkejut dan gelisah. Ah, lebih tepatnya dia sedang ketakutan.
Ups, aku berlebihan. Jean pura-pura menepuk dahinya. Dia berjalan ke sofa dan duduk di atasnya. Dengan isyarat, Jean menyuruh wanita pelayan tersebut mendatanginya tanpa perlu takut.
Wanita itu berjalan menuju Jean dan duduk di sampingnya. Dia masih kelimpungan. Meski begitu, Jean tidak melakukan apapun kepadanya.
Siang itu, Jean mengobrol dengan pelayan tersebut. Nampaknya, mulai dari sekarang ia akan menjadi pelayan Jean selama dirinya berada di kawasan tengah Akkadia. Mungkin.
***
__ADS_1
Dalam kedipan mata, Jeanne telah tiba di pinggiran hutan. Matahari nan terik langsung menyambutnya. Lokasi ini tidak begitu jauh dari kota.
Sebelum Jeanne pergi ke kota, dia berusaha melukai dirinya sendiri. Tentu saja untuk menghindari kecurigaan. Akan sangat aneh dia kembali dengan sehat tanpa luka ketika dirinya habis-habisan melawan monster keji.
Tidak, bahkan ketika ia bisa selamat saja sudah aneh. Karena itu, ini adalah usahanya untuk meredam kecurigaan.
Dengan sedikit kesulitan karena melukai kakinya, Jeanne berjalan ke luar hutan. Begitu ia berhasil mencapai batas antara hutan dan kota, beberapa ksatria yang berjaga di sana langsung menghampirinya.
Mereka melakukan pertolongan pertama untuk menyembuhkan luka yang Jeanne derita. Salah satu dari mereka bergegas untuk memanggil Hanna.
"Jeanne! Syukurlah kau selamat!"
Begitu Hanna melihat Jeanne, dia menangis dan melompat ke arah Jeanne. Untunglah luka yang ia derita sudah sembuh. Pasti sakit kalau lukanya masih terbuka.
"Hanna! Oh terimakasih Dewi! Kau lolos dengan selamat.".
Hanna tidak mengatakan apapun dan tetap memeluk Jeanne. Dia menangis sampai-sampai bahu Jeanne basah dengan air matanya. Ada yang tidak beres. Itu yang Jeanne pikirkan.
"Hanna.... Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana Karina?"
Hanna melepas pelukannya dan mengusap air matanya. Dia menceritakan semuanya, termasuk kematian Karina. Berita yang membuat hati Jeanne remuk.
__ADS_1