
Menempuh perjalanan selama dua minggu, Jeanne dan Hanna kembali dengan selamat. Szymon juga. Hanya saja kondisinya berbeda jauh dengan kedua gadis itu.
Kondisi mentalnya sangat buruk. Setelah ia sadarkan diri, dia terus berteriak ketakutan, mengklaim bahwa seseorang berencana untuk menghancurkan hidupnya.
Viscoun Konarski yang ikut ke ibukota merasa stres melihatnya kondisi penerus keluarga Krzys itu. Dia tidak yakin apakah kesehatan mentalnya akan membaik atau malah semakin memburuk.
Rekan-rekannya juga tidak memedulikan nasib Szymon. Mereka hanya menutup telinga dan mata. Mereka sama sekali tidak simpatik.
Begitu sampai di ibukota, Viscount Konarski dan ksatria yang ia bawa memisahkan diri untuk berkunjung ke kediaman Count Krzys. Sekalian mengembalikan putra mereka yang berada di ambang kegilaan.
Hanna dan Jeanne beranjak ke markas mereka. Di siang hari, para ksatria masih berlatih. Ada beberapa senior yang sedang bersantai. Tetapi begitu mereka melihat Jeanne dan Hanna yang kembali hanya berdua, banyak dari mereka yang menghentikannya aktivitasnya.
Semua mata memandang ke arah Hanna dan Jeanne. Sebagian bertanya-tanya kemana perginya rekan-rekan mereka. Sebagian lagi sudah menduga apa yang terjadi.
Meski misi ini dirahasiakan oleh para petinggi, banyak dari para ksatria yang telah mendengarnya. Empat kapten ksatria dikirim untuk menjalankan misi di hutan perbatasan. Tugas mereka adalah menyelidiki anomali yang terjadi di hutan dekat Krakov city yang diduga adalah ulah musuh.
Meski rumor tersebut telah dicampur oleh banyak kebohongan, intinya tetap sama. Mereka dikirim untuk menjalani misi yang sangat berbahaya.
Pada faktanya, ada campur tangan Duke Cetner dan fraksinya dalam misi investigasi ke hutan perbatasan. Fraksi Duke sedikit beruntung karena adanya anomali di hutan yang pada dasarnya diciptakan oleh Jean. Mereka memiliki alasan untuk menjalani strategi mereka. Namun itu adalah cerita untuk lain waktu.
Jeanne dan Hanna bergegas ke ruang tempat kepala Ksatria berada. Pria tua itu sedang duduk dan membaca beberapa dokumen. Setelah menyadari kehadiran anak buahnya, ia menghentikan aktivitasnya.
__ADS_1
Tidak perlu bagi kepala Ksatria untuk mengetahui apa yang sedang terjadi saat ia melihat wajah kedua bawahannya. Dia hanya membaca laporan tertulis yang diberikan oleh Hanna untuk mengetahui detailnya.
Kepala Ksatria berkali-kali mengernyitkan dahinya ketika membaca laporan tersebut. Bukan karena isinya janggal. Laporan yang ditulis dengan sudut pandang Hanna itu bisa dibilang cukup detail.
Yang paling membuat ia terkejut adalah keterangan Jeanne mengenai monster yang ia temui. Selama 40 tahun dia menjadi seorang ksatria, kepala ksatria belum pernah melihat atau mendengar serlok monster humanoid dengan tubuh berwarna abu-abu dan memiliki satu mata.
Dia tidak menganggap Jeanne berbohong. Dalam perspektifnya, Jeanne tidak mendapatkan keuntungan dengan memanipulasi kesaksiannya.
Yang paling membuatnya sedih adalah kematian Karina. Mau bagaimana pun, Karina adalah muridnya. Dia yang melatih ilmu berpedang Karina.
"Terimakasih Jeanne, Hanna. Berkat kalian, kami mendapatkan informasi penting. Untuk Karina... Biar aku sendiri yang mengirim jenazahnya kepada keluarga Lesko.
"Aku juga akan memproses kompeni untuk keluarga korban. Jadi kalian tidak perlu khawatir. Dan untuk hukuman.... Yah, kalian aku skors selama 2 Minggu. Kalian tidak perlu datang ke markas mau pun menjalankannya misi."
Sebagai seorang ksatria yang sudah mengabdikan hidupnya dan lolos berkali-kali dari kematian, kepala ksatria menyadari bahwa kelelahan mental membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pulih.
Jeanne dan Hanna hanya mengangguk lalu meninggalkan ruang kepala ksatria. Sebelum berpisah, keduanya saling bertatapan dan berpelukan. Kematian Karina pada dasarnya masih menyisakan kesedihan yang mendalam di hati mereka.
"Sampai bertemu dua Minggu lagi, Jeanne."
"Ya, sampai bertemu lagi, Hanna."
__ADS_1
Seperti yang dijanjikan, keduanya akan bertemu kembali dalam 14 hari. Sayangnya, tidak sebagai sahabat. Melainkan sebagai pihak yang saling bertikai.
***
"Aku pulang, Elyse, Elsie!"
Sudah tiga hari Jean meninggalkan rumah. Bukan waktu yang lama. Tetapi bagi Elyse dan Elsie, mereka merindukan Jean selama tiga hari itu. Sebelumnya, mereka belum pernah terpisah selama ini. Paling-paling hanya satu hari.
""Selamat datang, kakak!!""
Menyadari bahwa Jean kembali, si kembar langsung berlari dan melompat ke pelukan Jean. Raut mereka yang awalnya murung kini kembali cerah.
"Oh... Selamat datang kembali nak. Anak-anak sangat kangen denganmu. Setiap hari mereka bertanya, 'kapan kakak akan pulang?' setiap saat. Ya ampun, mereka berdua benar-benar rewel. Hahaha."
Nenek Alija menghampiri Jean. Jean berterima kasih karena nenek Alija menjaga si kembar untuknya. Nenek Alija menjawab ia tidak keberatan sama sekali. Toh, dia sudah menganggap kalau Elyse dan Elsie sebagai cucunya sendiri.
"Sekarang, biarkan kakak kalian beristirahat."
Tetapi mereka tidak melepaskan Jean. Tidak masalah, Jean menggendong si kembar ke kamar mereka dan bermain bersama keduanya selama beberapa saat. Setelah itu, Jean pergi ke kamarnya sendiri.
"Dalam waktu yang dekat, Duke Cetner akan memulai aksinya bersama dengan fraksinya. Yah, semuanya akan bereskalasi menjadi konflik yang sangat besar."
__ADS_1
Pada akhirnya, Jean telah memainkan salah satu kartunya untuk membuat api semakin besar. Kali ini, keseimbangan akan mengarah ke pihak Duke Cetner.