Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Anti-klimaks


__ADS_3

Semoga Chapter ini tidak membosankan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jean tersenyum licik sambil memandangi dua orang lagi yang tersisa. Dia sudah membunuh tiga orang. Tahap kultivasi mereka ada yang berada di akhir [Earth Realm] dan awal [Sky Realm], sama seperti kakaknya. Meski begitu, mereka kurang pengalaman tempur yang membuat mereka mati dengan cepat.


"Ayo, waktu semakin berjalan. Aku akan memberikanmu 30 detik lagi dari sekarang. Pikirkan matang-matang apa yang akan kalian lakukan."


Jean mengetuk-ngetuk kakinya ke tanah. Sebuah kursi muncul dari ruang kosong dan ia segera duduk di atasnya. Tidak hanya itu, sekantung popcorn juga muncul dari ruang kosong tersebut.


Sang tetua dan rekannya yang tersisa terlihat sangat terkejut dengan hal tersebut. Jean menjadikannya sebagai ajang hiburan. Mirip seperti audiens ketika mereka melihat sebuah pertunjukan sulap untuk pertama kalinya.


"Ayo, waktu semakin berjalan. Kalian tidak berniat mati tanpa melakukan perlwanan kan?"


Sang tetua dan rekannya yang masih muda menggertakan gigi mereka. Meski yang lebih muda belum sadar, sang tetua memahami bahwa ia tidak memiliki peluang untuk menang sejak awal.


Namun, masih ada satu hal lagi yang bisa ia lakukan.


"Nak, pergilah menuju markas kita. Sampaikan kepada tuan kita bahwa misi telah berhasil. Sampaikan juga padanya kalau kita bertemu seorang 'monster' berkulit manusia di sini. Aku akan mengulur waktu untukmu."


Anak muda itu ingin meneriakan sesuatu tetapi ia menahannya. Apa yang tetua katakan tidak salah. Dia tak lagi punya banyak waktu. Informasi ini harus segera sampai ke telinga pemimpin mereka.


"Baiklah, tetua. Tolong, kembalilah dengan selamat!"

__ADS_1


Tetua mengangguk dan anak muda itu pergi. Jean yang mendengar percakapan mereka tertawa kecil. Drama yang cukup menarik.


"Mengulur waktu ya? Keputusan yang bagus."


Jean bangkit dari kursinya. Bangku dan popcorn yang tadi ia pakai tiba-tiba menghilang lagi ke ruang kosong tempat mereka berasal. Sang tetua akhirnya berdiri setelah memastikan anak buahnya pergi dengan selamat.


"Kau tidak terlihat ingin mengejarnya, anak muda?"


Jean menggeleng sambil tersenyum. Hal semacam itu sama sekali tidak diperlukan.


"Untuk apa? Anak buahmu itu baru berada di tahap [earth realm] rank 7 kan? Dan lagi, dia juga impulsif dan kurang pengalaman. Kau pikir ia bisa lolos dari hutan ini dengan selamat?"


Ekspresi tetua menjadi pahit. Mau bagaimana pun, yang Jean katakan benar. Hutan ini sendiri merupakan penuh dengan bahaya bahkan tanpa memanggil monster dari alam lain. Kesempatan anak muda itu untuk keluar dengan selamat memang kecil. Tapi apakah ada pilihan lain?


Tetua tidak ingin menghabiskan banyak waktu. Dia segera merapalkan mantranya dan puluhan tombak cahaya muncul mengelilinginya.


Ledakan terjadi ketika tombak cahaya yang ia buat membentur tubuh lawannya. Ledakan tersebut sangat kuat. Bahkan orang yang tahap kultivasinya berada di atasnya tidak akan selamat tanpa tergores.


Namun, begitu asap dan debu dari ledakan tersebut hilang, orang yang menjadi targetnya sama sekali tidak terluka. Bahkan pakaian yang ia kenakan tetap bersih dan tidak sobek. Tidak ada debu dan kotoran lainnya yang menempel di sana.


Sang tetua mengeluarkan pedang yang dilapisi oleh cahaya. Dia memutuskan untuk bertarung jarak dekat dengan Jean! Tetua menganggap bahwa Jean adalah seorang Mage dan karena itu, ia tidak memiliki keunggulan dengan pedang dan teknik bertarung jarak dekat lainnya.


Sang tetua menutup jarak dengan Jean dan segera membebaskan pedangnya ke leher Jean. Dengan lihai, Jean berhasil menghindarinya. Namun tetua tidak berhenti. Dia menyerang musuhnya dengan bertubi-tubi tanpa memberikan kesempatan sama sekali untuk melawan.

__ADS_1


Ia mengayun-ayunkan pedangnya ke atas dan kebawa, ke kanan dan ke kiri. Bahkan jika seseorang tidak mengenai bilahnya dan hanya terkena efek cahayanya saja, itu sudah cukup untuk membuat orang tersebut terluka parah.


Namun sayang, lawannya kali ini adalah Jean. Jangankan terluka, kesulitan saja tidak. Dia bahkan tidak melangkah dari tempat berdirinya sama sekali.


"Apa yang kau lakukan daritadi pak tua? Memperlihatkan kemampuan berpedangmu padaku? Maaf, tapi aku tidak tertarik untuk menjadi muridmu."


Mendengar ejekan Jean, tetua menjadi sangat emosi. Dia mengambil jarak dari Jean dan mempersiapkan serangan pamungkasnya.


"[Thousand Lightning Sword]!"


Bersamaan denga teriakan tetua, pedang yang terbuat dari cahaya nan tak terhitung jumlahnya muncul di atas Jean. Ribuan pedang tersebar menghujaninya, membuat tanah dan pepohonan di sekitarnya menjadi hancur dan terbakar.


Bahkan tetua yang mengeluarkan teknik tersebut juga menjauh dari radius serangannya.


Nafas tetua tersengal-sengal. Dia sudah menghabiskan banyak mana untuk mengeluarkan teknik yang menjadi kartu AS-nya. Peredaran energi dal tubuhnya menjadi tidak stabil. Dia bahkan terbatuk berkali-kali dan mengeluarkan banyak darah.


"Kau tidak akan bisa membunuhku jika hanya dengan serangan serangan seperti itu, kau sudah tidak berdaya. Biar aku perlihatkan bagaimana serangan yang sesungguhnya."


Suara Jean terdengar dari balik kepulan asap dan puing-puing yang berterbangan. Seketika itu juga, tetua langsung merasakam tekanan dahsyat dari langit. Saat ia menoleh ke atas, ribuan pedang, tombak, dan panah yang terbuat dari cahaya telah melayang di atasnya.


Itu adalah tekniknya! Selain itu, kekuatannya jauh melampaui dari yang ia miliki. Untuk yang terakhir kalinya, dia melihat senyum dari musuhnya. Kebencian terpampang jelas di wajah tetua.


Ribuan pedang, tombak, dan panah yang ada di langit menerjang dirinya. Kurang dari satu detik, seluruh tubuh dan jiwanya telah dihancurkan oleh mereka. Tak menyisakan satu pun bekas-bekas kehidupan.

__ADS_1


"Terlalu lemah, huh."


Jean menghela nafas bosan. Pertarungan berakhir dengan anti-*******.


__ADS_2