Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Follow The Game


__ADS_3

Jean berada di ruang belajar milik Kalina. Tentu bersama dengannya, dan hanya berdua. Canggung, itulah yang sedang terjadi. Jean menunggu Kalina untuk mengatakan sesuatu tetapi gadis ini tidak mengatakan apapun.


Sementara Kalina, dia jelas tidak ingin membuka mulutnya sama sekali. Apalagi dengan rakyat jelata yang secara tiba-tiba ingin menjadi tutornya. Memangnya siapa dia? Hanya rakyat jelata yang lahir di pinggiran selokan.


Jean bahkan tidak perlu masuk ke dalam kepala Kalina untuk melihat apa yang dipikirkan olehnya. Gadis ini tidak bisa menyembunyikan ekspresi dan raut wajahnya.


"Hahhh.... Izinkan saya untuk memperkenalkan diri, nona muda. Nama saya Ulrich dan mulai sekarang, sayalah yang akan menjadi tutor pribadi anda. Mohon bantuannya."


Kalina tetap bungkam. Ekspresi jijik terpampang jelas di wajahnya. 'Jangan berbicara denganku, sampah!' itu yang ingin ia katakan. Jean hanya bisa menggeleng sambil tertawa, dalam hati.


'Betapa keras kepalanya. Tapi.... Keinginanku untuk untuk menaklukannya justru muncul.'


Jean mengambil sesuatu dari balik bajunya. Itu adalah sebuah buku yang ditulis dengan aksara dunia ini. Ia lalu meletakkannya di atas meja Kalina.


"Nona muda, buku ini berisi berbagai penjelasan mengenai aritmatika. Saya juga sudah menuliskan penjelasan tersebut dalam tulisan yang sederhana dan mudah dipahami."


Kali ini Kalina terkejut. Dari mana pemuda jelata ini mengetahui kelemahannya!? Kalina tidak memiliki masalah dengan membaca atau menulis. Dia bisa menyelesaikan itu semua dengan baik.


Tetapi hitung-hitungan adalah kelemahan terbesarnya! Dan pemuda ini datang lalu memberikan sesuatu yang berupa solusi untuk kelemahannya!? Siapa dia sebenarnya!?

__ADS_1


Kalina tentu saja menjadi lebih waspada. Tapi pada akhirnya, Jean menerangkan sesuatu.


"Nona muda, sebagai putri dari keluarga yang berpengaruh, kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung sangat dibutuhkan. Saya yakin nona muda dapat menguasai dua yang pertama, tetapi untuk yang terakhir, kelihatannya nona agak kesulitan. Sama seperti anak-anak lainnya."


Mendengar apa yang Jean katakan, Kalina memicingkan matanya. Tatapannya semakin tajam. Selain ekspresi jijik, kali ini Jean bisa melihat kemurkaan di wajahnya. Auranya juga membuat hal itu semakin jelas.


"Kau menyamakanku dengan anak-anak lain!? Dengarkan ini sampah, aku adalah anak yang istimewa! Bahkan di antara bangsawan lainnya pun, aku berbeda! Jangan samakan aku dengan sampah yang ada di luar sana!"


'Ah sial, seharusnya aku memperbaiki bahasaku. Sekarang gengsi gadis ini tergores dengan mudahnya.'


"Ma-maafkan saya! Bukan itu yang saya maksud, no-nona muda! Sa-saya hanya ingin mengatakan kalau hal semacam itu adalah fenomena umum! Aritmatika memang sesuatu yang sulit dipelajari dan ha-hampir semua orang pada awalnya kesulitan untuk mempelajarinya! I-itulah yang saya simpulkan sebagai seorang guru!"


Jean berhenti sebentar dan menyesuaikan nafasnya.


Jean tidak lupa untuk memuji Kalina, yang membuat gadis itu terlihat melunak dan puas. Jean tercengang dengan fakta bahwa meredam amarah Kalina bukan sesuatu yang sulit. Gadis ini terlalu mudah untuk jatuh!


"Baiklah, mulai sekarang, kau adalah tutor belajarku. Merasa terhormat lah karena aku menerima sampah sepertimu sebagai guruku."


Jean menunduk dan mengucapkan terimakasih berkali-kali.

__ADS_1


'Kalau memang seperti itu, maka mari ikuti permainannya hingga berakhir.'


***


Jeanne dengan lelah melemparkannya dirinya ke sofa. Dia terlihat stres. Svetlana yang melihat hal itu menghidangkan minuman segar padanya. Hari masih siang, tetapi Jeanne sudah terlihat tidak bersemangat.


"Ada apa denganmu, Jeanne? Kamu terlihat sangat lelah dan tertekan. Tidak seperti dirimu yang biasanya. Adakah yang bisa mama lakukan untukmu?"


Jeanne tidak mengatakan apapun. Dia hanya bergerak ke Svetlana yang duduk di sampingnya dan menenggelamkan wajahnya ke dada ibunya yang besar! Jeanne sedang berada dalam mode manjanya!


Svetlana hanya tertawa kecil dan mengelus rambut putih Jeanne. Dia juga memeluk gadis kecilnya dengan erat. Keduanya saling menikmati kehangatan yang tertransmisikan satu sama lain sampai Jeanne mengatakan sesuatu.


"Mama, sepuluh hari lagi, aku dan squad ksatria akan pergi ke luar kota untuk menjalankan ekspedisi. Ini adalah instruksi langsung dari istana dan tidak ada yang boleh menolaknya."


Sudah beberapa hari semenjak kejadian yang tidak wajar di hutan. Jeanne, Hannah, dan anak buahnya mundur lalu melaporkan keanehan yang terjadi di sana. Para petinggi kerajaan lalu menyimpulkan bahwa ketidakwajaran itu mungkin di sebabkan oleh negeri tetangga kerajaan Warsawa, Principality of Danzig.


Karenanya, Jeanne dan beberapa ketua squad ksatria lainnya diperintahkan untuk menyusup ke perbatasan antara Danzig dan Warsawa dan mengawasi gerak-gerik mereka.


Tentu saja ini tidak wajar. Jarak dari Krakov dan perbatasan itu jauh. Kalau memang benar Danzig yang melakukan hal ini, itu artinya mereka berhasil menembus kemanan kerajaan Warsawa jauh ke garis belakang.

__ADS_1


Meski begitu, perintah adalah perintah. Jeanne akan jauh dari ibunya untuk waktu yang lumayan lama. Karenanya, dua wanita ini menghabiskan waktu berharga mereka sepuas mungkin.


Hasil tangan Jean akan membuat negeri ini dan sekitarnya bergejolak.


__ADS_2