Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Gladiator (1)


__ADS_3

Lagi-lagi hal seperti ini terjadi. Jean hanya menatap dengan dingin kejadian yang ada di depannya. Pertunjukan manusia. Tapi kali ini bukan sirkus. Ini adalah gladiator.


Setiap tamu yang datang ke pesta ini setidaknya membawa satu pengawal. Entah itu ksatria pribadi milik keluarga mereka ataupun tentara bayaran seperti yang disewa oleh paman Hull.


Para pengawal inilah yang akan menjadi target permainan. Mereka akan dipanggil satu persatu lalu diadu satu sama lain. Mereka harus bertarung hingga salah satu diantara mereka benar-benar tidak bisa bertarung lagi. Dengan kata lain, ini adalah pertarungan sampai mati.


"Nona Charlotte, Selena, nona Natasha, mari kita pergi dari sini. Sesuatu seperti itu sama sekali bukan tontonan yang layak."


Jean tidak akan membiarkan ketiganya melihat pemandangan seperti ini. Suatu hari nanti, mungkin mereka harus menerima pemandangan seperti ini. Tapi tidak sekarang. Semua ada waktunya.


Atau, itulah yang Jean pikirkan ketika.....


"Oya, rupanya ada Natasha di sini. Kau membawa pengawal tetapi tidak mengikuti tradisi keluarga Baldric? Betapa tidak sopannya."


Jean mendengar suara tidak menyenangkan dari belakangnya. Ketika dia melihat orang itu, Jean mendecakan lidahnya.


Dia adalah anak pertama dari Earl Baldric, Hansen Baldric. Seorang lelaki manja penerus keluarga Baldric tetapi tidak bisa melakukan apapun kecuali meminjam nama ayahnya.


"Ini bukan urusanmu, Baldric! Pergi dari pandangan kami dan jangan menghalangi!"


Natasha berusaha menghindari Hansen, tapi lelaki itu keras kepala. Dia malah menghadang Natasha dengan senyum yang menjijikan di bibirnya.


"Mau kemana kau, Natasha? Ingat kalau keluargaku berada di derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan keluargamu. Apa kau masih berani macam-macam denganku?"


Natasha menggertakan giginya. Jean bisa merasakan dengan jelas amarah gadis itu sedang sangat meluap. Setelah puas mengganggu Natasha, Hansen menoleh ke arah Jean dengan ekspresi wajah yang tidak senang.


"Aku tidak peduli dengan itu, Baldric! Bahkan jika ini rumahmu sekalipun, bahkan jika keluargamu adalah Earl sekalipun, aku tidak peduli!"

__ADS_1


Natasha menarik tangan Charlotte dan Selena untuk pergi dari hadapan Hansen. Charlotte dan Selena juga sangat tidak senang dengan kedatangan pengacau itu.


Tapi Hansen sudah kehilangan rasa sabarnya. Dengan ekspresi marah yang dengan jelas terpampang di wajahnya, tangannya bergerak untuk mencengkeram kerah baju Natasha. Tapi itu tidak pernah terjadi karena tangannya telah digenggam oleh Jean dengan keras.


"Argghh!! Bangsat! Lepaskan tanganmu, pelayan rendahan! Tidakkah kau tahu siapa aku!? Aku adalah....Ummmpphh!!"


Jean menutup mulut Hansen sebelum dia mengatakan hal lain. Bajingan ini sangat menyebalkan!


"Aku akan menerima tantangan mu. Demi menghormati tradisi yang telah dilakukan turun menurun, aku akan melakukannya."


Dengan nada yang dingin, Jean mengatakan itu pada Hansen. Kali ini dia tidak hanya melepas tekanan intimidasinya, Jean juga melepaskan hawa membunuh yang sangat kuat. Padahal, dia jelas hanya menuangkan sedikit kekuatannya pada hawa membunuh itu.


"Ba-baji....Hiii!!!"


Hansen terlalu takut untuk mencaci-maki Jean. Kalau ada orang lain yang melihat selain ketiga gadisnya, mereka jelas akan menganggap Hansen sebagai pengecut. Hei! Jean lebih muda lima tahun dibandingkan Hansen!


Jean melepaskan cengkramannya dari Hansen dan membiarkan orang itu pergi dengan kaki bergetar. Ah, dia juga ngompol! Charlotte dan Selena tertawa kecil sementara Natasha bingung harus bereaksi seperti apa.


Awalnya Jean enggan untuk membiarkan mereka melihat hal-hal sadis. Tapi dia berubah pikiran. Ini jelas gengsi yang kenakan tapi Jean ingin memperlihatkan kepada mereka kalau dirinya cukup kuat untuk membuat ketiganya tetap berada di sisi Jean.


Selena, Charlotte, dan Natasha saling berpandangan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menonton Jean.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dia merasakan kepuasan. Setiap kali dia melihat lawannya menjerit dan menangis kesakitan, setiap kali dia mematahkan lengan lawannya lalu membengkokan kaki mereka, setiap kata yang keluar dari mulut lawannya ketika mereka memohon ampunan, semua itu mendatangkan kesenangan bagi dirinya.


Tapi puncak kesenangan yang sesungguhnya adalah ketika lawannya merasa tenang karena dia memberikan ampunan, tetapi hancur ketika dia membunuh lawannya yang lengah.

__ADS_1


Dialah Janson, ksatria terbaik yang dimiliki oleh Earl Baldric. Dia adalah petarung terhebat yang ditemukan oleh Earl Baldric yang sekarang. Janson adalah kebanggaan dan gengsi dari nilai-nilai yang dianut oleh keluarga Baldric.


Malam ini, dia telah membunuh lima lawannya. Perasaan bangga dan terhormat memenuhi dirinya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan Earl berikan padanya sebagai hadiah.


"Apakah ada lagi yang ingin melawan Janson!!?"


Sorak sorai dari penonton yang merupakan para bangsawan juga memenuhi ruangan. Mereka tidak peduli kalau pengawal mereka mati. Toh, mereka bisa mencari yang baru nantinya.


Janson menatap kanan dan kirinya. Masa tidak ada lagi? Kalau begitu, ini akan jadi membosankan. Dia hampir saja keluar arena ketika seseorang masuk ke dalam arena pertandingan. Seorang bocah berusia 13 atau 14 tahun. Tatapannya seperti hewan buas yang menatap mangsanya.


Tanpa alasan yang jelas, Janson merasakan emosi yang paling dia benci. Emosi yang paling tidak ingin dia rasakan saat itu juga. Takut. Ketika dia menatap anak itu, Janson seolah-olah sedang menatap ke arah sebuah jurang yang sangat dalam.


Padahal anak itu tidak melakukan apapun. Dia hanya menatap Janson dengan santai! Bahkan tersenyum! Tidak ada hawa membunuh ataupun intimidasi lainnya, tetapi dirinya merasa ketakutan!


Namun Janson memutuskan untuk mengembalikan posturnya. Dia tidak bisa membiarkan emosi yang dia miliki menguasai dirinya. Janson menatap balik bocah itu.


"Nak, aku akan memberimu kesempatan. Meyerah sekarang, maka aku akan mengampunimu hanya dengan kedua lenganmu yang patah. Tapi kalau kau bersikeras untuk melanjutkan, maka...."


Janson membunyikan jari-jari tangannya sambil memandangi Jean dengan penuh haus darah.


"Kau akan merasakan akibatnya."


Tapi tidak seperti harapannya, anak itu tidak bergeming sama sekali. Malahan, dia melepas jas pelayan dan dasi kupu-kupu miliknya lalu menggulung lengan kemejanya. Dia juga memasang kuda-kuda. Dia siap untuk bertarung.


"Tidak perlu menawari hal sebaik itu padaku, paman. Cukup bertarung denganku. Ah, apa jangan-jangan sebenarnya kau...."


Bocah itu tersenyum layaknya iblis. Senyum yang penuh dengan kepicikan dan tipu daya.

__ADS_1


"Kau...takut denganku kan?"


Seketika itu juga amarah memenuhi diri Janson. Dia menggertakan giginya dan mengencangkan ototnya. Tidak peduli meskipun dia hanya seorang bocah, tidak ada pengampunan baginya!


__ADS_2