Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Malam Istimewa


__ADS_3

Jean merasa resah ketika Natasha dan Charlotte menatapnya. Pancaran kilat seolah keluar dari mata keduanya ketika saling bertatapan. Jean dapat melihat aura berwarna ungu keluar dari kedua gadis itu.


'Seram! Kenapa ini bisa terjadi!?'


Jean ingin berteriak sambil mengatakan itu tapi dia menelan lagi kata-katanya. Percuma. Kalau dia mengatakan sesuatu seperti itu sekarang, situasinya akan lebih Chaos!


"Aku mengucapkan selamat untukmu Charlotte. Kamu pasti sangat beruntung memiliki suami yang luar biasa seperti Jean."


"Terimakasih Natasha. Aku senang mendengar itu darimu. Ah, kami belum menikah, kau tahu?"


Charlotte dan Natasha saling tersenyum. Tapi di mata Jean, mereka terlihat seperti seekor serigala dan elang yang saling bertatapan satu sama lain. Bahkan mana mereka bocor!


Jean menghela nafas. Dia mengepalkan tangannya dan meninju kepala dua gadis itu dengan pelan. Tapi, sekalipun Jean menahan diri, keduanya terlihat kesakitan sembari memegangi kepala mereka.


"Jadi Natasha, ada perlu apa kau kemari?"


Jean memutuskan untuk to the point. Bukan karena dia tidak suka dengan kehadiran Natasha. Sebaliknya, dia ingin menahan Natasha lebih lama. Well, Natasha adalah miliknya.


Tapi Jean merasakan kesedihan menggantungi Natasha. Usaha yang bagus untuk memendamnya, tapi kau tidak bisa menutupi itu dari hadapan Jean.


"Aku......aku hanya ingin mengabarkan kepada kalian kalau aku telah bertunangan dengan penerus keluarga Earl Baldric, Hansen Baldric."


Natasha dengan keras berusaha untuk menahan nada pahit agar tidak keluar dari mulutnya. Ekspresi Charlotte berubah. Tetapi anehnya, Jean malah tersenyum dengan santai seolah tidak mempermasalahkan hal itu.


"Aku dan Charlotte mengucapakan selamat pada kalian, Natasha dan tuan muda Hansen. Hubungan kalian mungkin tidak terlalu baik di awal, tetapi kami berharap, hubungan kalian mulai membaik seiring berjalannya waktu."


Natasha terkejut atas respon Jean. Dia bahkan tidak bisa menutupinya lagi. Charlotte mencubit pinggang Jean dengan kencang. Rasanya geli tapi Jean tidak menarik kata-katanya.


"Te-terimakasih untuk ucapan selamatnya. Kalau begitu....aku pergi dulu."


Natasha sama sekali tidak menyembunyikan dukanya kali ini. Dia ingin segera meninggalkan tempat ini dan pergi ke rumahnya lalu masuk ke kamarnya. Di sana, dia bisa menangis sepuasnya.


Tapi Jean menahan Natasha dengan mencengkeramkan lengannya.


"Ini sudah malam, Natasha. Akan berbahaya bagimu untuk pergi mengingat kerusuhan tujuh hari yang lalu. Kami akan menyiapkan kamar untukmu."

__ADS_1


Natasha tidak menoleh ke arah Jean. Air mata hampir saja jatuh. Tetapi Natasha setuju untuk menginap di kediaman mereka. Jean akan mengirimkan surat kepada keluarga Lostov untuk mengonfirmasi hal ini.


Selena mengantar Natasha ke kamar. Sebelum pergi, Charlotte meminta Selena untuk menghibur sahabat baik mereka. Selena yang sejak awal mendengar pembicaraan mereka dengan senang hati menghibur Natasha nanti.


Begitu Natasha dan Selena pergi, Charlotte langsung meninju perut Jean.


"Apa maksudnya itu, Jean!? Kenapa kau malah tersenyum dan terlihat biasa saja!? Seharusnya kau...Mpphh!"


Jean mencium bibir Charlotte dengan ganas sebelum gadis itu bisa menyelasaikan kalimatnya. Nafas gadis berambut pink itu menjadi kasar ketika bibir mereka berpisah.


"Kita sedang di awasi, Charl. Akan lebih baik jika kita bertindak hati-hati. Tenang saja, aku tidak akan membiarkan Natasha jatuh ke tangan siapapun. Seperti kau dan Selena, Natasha adalah milikku."


Charlotte tersenyum dan memeluk Jean. Dia akan mengikuti rencana dari kekasihnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Terimakasih Selena. Seperti biasa, kamu sangat telaten dan baik, ya."


Selena tersenyum mendengar pujian Natasha.


Selena membungkukan badannya kepada Natasha dan keluar dari kamar.


Begitu Selena pergi, Natasha langsung lompat ke kasur dan membenamkan wajahnya di dalam bantal. Akhirnya, air mata yang sedari tadi tertahan kini mengalihkan deras.


"Tidak adil, tidak adil, tidak adil! Kenapa hanya Charlotte yang bisa mendapatkan laki-laki yang dia cintai!? Kenapa aku tidak bisa!? Kenapa aku yang harus ditunangkan oleh bajingan itu!!?"


Natasha menangis sepuasnya. Dia merasa ini semua tidak adil. Dia mencintai Jean setelah menghabiskan waktu bersama selama lebih dari dua tahun.


Dia bahkan telah mencium Natasha berkali-kali dan bermain dengan tubuhnya, meskipun tidak sampai bercinta. Tetapi tetap saja, itu semua adalah momen yang sangat Natasha nikmati.


Di tengah ratapannya, pintu kamar yang dia tempati terbuka. Natasha buru-buru menghentikan tangisnya dan mengelap air matanya. Saat ia menoleh ke arah pintu, Selena dan Charlotte masuk ke kamarnya.


Keduanya masuk dengan memakai gaun malam yang sangat erotis dan sangat cocok dengan belahan tubuh yang mereka miliki.


Selena meletakan nampan yang dia bawa di meja dan menuju ke kasur bersama Charlotte. Kedua gadis itu duduk di depan dan belakang Natasha lalu memeluknya dari dua arah.

__ADS_1


Awalnya Natasha bingung dengan apa yang keduanya lakukan. Tetapi setelah kehangatan dari tubuh mereka tertransmisikan ke tubuhnya, Natasha menangis lagi.


Ketiganya adalah teman dan sahabat. Terlepas dari status Selena yang hanya seorang pelayan dan Charlotte yang merupakan gadis pedagang, hubungan Natasha dan keduanya sangat-sangat bersahabat. Mereka adalah trio yang tidak terpisahkan.


"Natasha...tolong jangan pikirkan apa yang tadi Jean katakan padamu."


Charlotte yang memeluk Natasha dari belakang meletakan dagunya di pundak sebelah kiri Natasha. Sementara itu, Selena meletakan dagunya di sebelah kanan Natasha.


"Charl benar. Tolong, maafkan tuan Jean."


Keduanya membisikan itu di telinga Natasha, membuat gadis itu merasa gelisah dengan sensasi yang dia rasakan.


"Ba-baiklah! A-aku akan memaafkan Jean. Te-tetapi.... tolong lepaskan aku! Aku merasa aneh!"


Bukannya, menuruti Natasha, keduanya justru bersikap semakin aneh. Selena meraba perutnya. Perlahan tangannya turun menuju bagian tulang selangka Natasha, membuat gadis itu menggelinjang.


Sementara Charlotte, dia mencium dan menjilati tengkuk Natasha.


"Ahhh...ahnn.... tunggu! Ch-charl, S-selena! Apa yang kalian sedang lakukan!? Eh, tidak, jangan di jilat! Tidaaaakkkk!!"


Selena menjilati gua suci milik Natasha dan Charlotte memainkan dada Natasha. Natasha sendiri merasa sangat keenakan. Dia dengan pasrah menerima serangan dua arah dari dua sahabatnya.


Tapi dia kembali tersadar ketika pintu kamarnya terbuka dan melihat siapa yang masuk, Jean.


Saat itu juga, kepanikan dan rasa takut sekaligus kenikmatan dan rasa malu menyerang dirinya. Natasha merasakan sesuatu yang datang dari perutnya dan saat itu juga, madu berwarna putih keluar dari gua sucinya, yang dinikmati oleh Selena.


"J-jean! Ti-tidak, i-ini bukan...Ahhhhnnn!!!"


Bukannya terlihat kecewa, Jean malah antusias. Dia menindih Natasha dan memandanginya lekat-lekat.


"Natasha, kau adalah milikku. Tidak ada yang bisa merebut dirimu dariku. Siapapun itu."


Jean mencium Natasha dengan ganas. Begitu Jean merasa sudah saatnya, dia melakukan ritual yang biasa dia lakukan oleh Selena dan Charlotte.


Malam itu adalah momen Natasha menjadi wanita dan momen Jean melawan tiga wanita sekaligus.

__ADS_1


__ADS_2