Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Entah Apa Yang Ada Dalam Pikirannya


__ADS_3

Lima orang berpakaian serba hitam turun dari langit. Begitu kaki mereka menapak di tanah, mereka mendapatkan tatapan yang sangat tajam dari seorang pemuda yang entah dari mana muncul di depan mereka.


Awalnya mereka berlima sedang mengamati pertarungan antara para ksatria dan para monster dari atas langit. Mereka tidak ikut campur. Bahkan ketika rencana mereka hampir hancur karena seorang wanita yang tiba-tiba ikut campur, mereka juga tetap diam di atas langit.


Tetapi secara tiba-tiba, pandangan mereka terblokir. Ketika kelimanya melihat ke bawah, tidak ada yang bisa melihat apapun kecuali hitam. Ya, benar-benar hitam.


Tidak berlangsung lama, pandangan mereka kembali seperti semula. Tetapi, semuanya kembali seperti semula. Tidak ada tanda-tanda terjadi pertarungan. Tidak ada mayat dan anggota tubuh monster dan manusia yang berceceran. Tidak ada pohon-pohon yang tumbang.


'Apa yang terjadi!?'


Saat mereka semua dilanda kebingungan, tiba-tiba aura membunuh yang sangat kuat menyerang. Sangat kuat sampai-sampai rasa takut menghantui diri mereka. Gambaran akan ribuan kematian dan penderitaan memenuhi pikiran dan mempengaruhi penglihatan kelima orang ini.


Mereka terpaksa mendarat ke daratan karena serangan tadi. Dan pada saat itu jugalah, seorang pemuda berdiri di sana dengan tatapan dingin. Melihat matanya cukup untuk mengirimkan rasa takut pada mereka. Aura membunuhnya juga bocor. Pemuda inilah di balik serangan tadi!


"Keparat! Siapa dan apa tujuanmu!?"


Salah satu yang tertua di antara mereka, atau biasa dipanggil tetua, menekan rasa takutnya yang masih bercokol dan memberi gertakan pada pemuda yang berdiri di depannya dengan angkuh.


Dia juga membocorkan aura membunuh miliknya. Namu pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh. Dia bahkan mengeluarkan seringai mengejek.


"Aku tidak mengizinkanmu untuk berbicara. Jadi DIAMLAH di sana dan JANGAN BERGERAK."


Sekedar itu juga tubuh mereka lumpuh dan lidah mereka kelu. Mana dan energi yang ada di dalam tubuh mereka bergerak secara sporadis dan menjadi tidak stabil.

__ADS_1


Dua kata DIAMLAH dan JANGAN BERGERAK yang diucapkan pemuda itu berdampak sangat buruk pada tubuh mereka. Terutama sang tetua. Dia tidak memilih pemahaman yang menyeluruh mengenai kemampuan si pemuda.


"Baiklah, aku akan memberikan kalian kesempatan untuk melawan sekarang. Aku tidak mau orang-orang berpikir kalau akulah yang memulai perkelahian."


Pemuda itu menyeringai lagi. Omong kosong, dia hanya ingin bertarung dengan dirinya dan rekan-rekannya.


"BAJINGAAANNN!!"


Tanpa di duga, salah satu rekan mereka mengangkat pedangnya dan melompat ke arah sang pemuda untuk menghujamkan pedang yang ia pegang ke jantung lawannya.


"JANGAN!!"


Tetua memang tidak memilih pemahaman sempurna mengenai kekuatan yang pemuda itu miliki. Tapi ada satu kesimpulan yang bisa ia tarik. Pemuda ini sangat kuat!


Dia juga berhasil menangkap dan mencengkeram lengan lawannya dengan sangat keras.


"Menggunakan elemen angin untuk mempercepat gerakanmu.... Bukan teknik yang buruk. Tapi hanya dengan seperti itu..... Belum cukup untuk membunuhku."


Dia mematahkan lengan sang penyerang. Suara tulang yang patah diiringi dengan jerit kesakitan terdengar kencang ke seluruh hutan.


Tidak hanya sampai di sana, pemuda itu juga mencengkeram leher rekan mereka dan menghancurkannya seperti meremas daun yang telah kering.


"ERGGAAAAA!!! BAJINGAAANNN!"

__ADS_1


orang yang dibunuh oleh pemuda itu bernama Erga. Melihat Erga yang mati mengenaskan, rekannya yang lain tidak bisa membiarkan hal itu. Dia juga ingin bergerak, namun tetua menahannya.


"Jangan gegabah nak. Kau lihat sendiri bagaimana dia membunuh Erga. Kau lebih lemah daripada Erga. Jadi diamlah di sini."


Meskipun masih merasa takut, tetua masih berpikir jernih. Tubuhnya sudah bisa bergerak kembali. Dia mencari cara terbaik untuk menghabisi anak muda yang telah mengejeknya dan membunuh tekanan.


"Ayo pak tua. Waktuku tidak banyak. Jika kau tidak bisa memanfaatkan kesempatan yang aku berikan, maka...."


Pemuda itu membentuk jempol dan telunjuknya seperti pistol lalu mengarahkannya pada orang yang berada di sebelah tetua. Pose aneh itu membuat tetua agak kebingungan.


Namun, darah bermuncratan ke wajahnya. Tetua langsung tersadar bahwa orang yang berada di sampingnya sudah tewas dengan lubang besar di dahinya. Darahnya menyembur kemana-mana. Otaknya telah hancur.


"Lihat. Aku akan membunuh kalian satu persatu dengan sangat menyakitkan."


Sang tetua menengok ke rekannya yang barusan mati. Meski kematian itu terlihat instan, nyatanya dia mati dengan wajah penuh penderitaan seolah telah melewati penyiksaan yang sangat dahsyat.


Dua rekannya sudah mati. Kini tersisa tiga orang. Dengan cepat dia memutar kepalanya untuk mencari cara agar bisa mengalahkan pemuda sialan itu. Namun waktu terus berjalan.


Pemuda itu mengayunkan jari telunjuknya. Saat itu juga, rekannya yang lain mati dengan seluruh tubuhnya terpelintir.


Sisa dua orang. Dirinya dan rekannya yang hampir menyerang pemuda itu.


"Mari kita lanjutkan permainannya, pak tua."

__ADS_1


Pemuda itu tersenyum picik. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


__ADS_2