
Tidak hanya kerajaan Dublin yang berada dalam pusaran konflik. Kerajaan Bucharest yang sempat menjadi target penaklukan juga tertiup badai internal mereka sendiri.
Dia memang berhasil memukul mundur pasukan kerajaan Dublin dan menghancurkan kekuatan utama mereka. Seharusnya itu cukup. Namun ternyata, tidak.
Jauh seperti yang kerajaan Bucharest harapkan, tidak semua pasukan kerajaan Dublin mundur. Sebagian kecil dari mereka ternyata tetap tinggal di desa yang menjadi sumber makanan mereka, bahkan membangun benteng di sana!
Seolah ingin membuat mereka lebih menderita, kerajaan Dublin juga mengontrol aliran sungai lewat pembangunan kanal dan saluran irigasi. Air dari salah satu anak sungai Yalta yang seharusnya mengalir ke ibukota kerajaan Bucharest kini tersendat.
Sialnya, benteng itu terhubung langsung dengan jalan raya yang mengarah ke utara. Konvoi dagang dari kerajaan Bucharest harus membayar tol agar bisa melewati jalan yang ada di area perbentengan.
Selama tiga bulan ke belakang, kerajaan Bucharest telah berkali-kali mengirimkan serangan beruntun untuk menaklukan tembok baru ini. Hasilnya, sia-sia. Bukannya untung, mereka hanya buntung.
Karena itulah, krisis akhirnya terjadi. Sebagian bangsawan di kerajaan Bucharest menginginkan operasi ofensif secara besar-besaran untuk merebut kembali tiga desa tersebut.
Namun, ada bangsawan yang tidak setuju. Pasukan mereka terlalu kecil. Untuk merebut kembali tiga desa itu, mereka membutuhkan bantuan dari kerajaan Vilnius dan kalau itu terjadi, mereka harus menundukan lagi kepala mereka pada kerajaan Vilnius. Sebuah hal yang sangat memalukan bagi mereka.
"Sepertinya dampak yang mereka terima jauh lebih memukul daripada yang kita perkirakan ya, tuan Jean."
Rose berdiri di samping Jean yang sedang terduduk di kursinya sembari membaca beberapa dokumen. Semenjak perang berakhir dan kontraknya dengan Jean telah selesai, Rose memutuskan untuk menjadi Vassal Jean secara sukarela.
"Lumayan. Tapi ini masih belum seberapa. Meskipun perekonomian mereka terpukul, bangsawan dan keluarga kerajaan sepertinya masih akur dan solid."
Jean telah mengirimkan mata-mata ke ibukota kerajaan Bucharest. Selain untuk menggali informasi, mereka juga menjalankan misi tertentu untuk Jean.
__ADS_1
"Tidak perlu menguras tenaga kita untuk menekan mereka. Biarkan orang-orang itu saling menghancurkan diri sendiri. Ketika momennya tiba, datanglah sebagai penyelamat."
Jean hanya mengatakan itu pada Rose tanpa membeberkan niat aslinya. Kini, Rose mengetahuinya ketika efek dari pekerjaan Jean mulai terlihat.
"Rose, buatkan aku surat kepada petinggi kerajaan Bucharest. Katakan padanya kalau aku, Baron Jean De Ruhr, ingin mengadakan pembicaraan damai dengan mereka."
"Eh? Tunggu tuan, apakah saya tidak salah dengar?"
Jean menggeleng. Rose menelan ludahnya. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan tuannya kali ini.
"Jangan bingung seperti itu. Aku bisa menjamin kalau ini akan berhasil. Itu karena aku bisa memberikan apa yang mereka tidak miliki. Kerajaan Dublin? Tidak usah pedulikan dia. Kekuatannya telah dilucuti dan perlu waktu untuk membuatnya pulih kembali."
Jean denga mudah menebak dan menjawab semua yang ada di pikiran Rose. Tidak peduli seberapa kuat usaha Rose untuk menyembunyikan apa yang ada di dalam kepalanya, Jean membongkar itu semua dengan mudah.
"Baiklah tuan, saya akan segera menuliskannya."
Rose dengan berbakti melaksanakan instruksi Jean. Dia mengambil kertas dan pena lalu menulis semua yang didikte kan oleh Jean.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu, di Saint Georgia City, seorang gadis berambut merah muda sedang asyik menyesap minumanku sembari menikmati langit yang telah berwarna kemerahan.
Dia perlu refreshing untuk menyegarkan kembali pikirannya yang disibukan oleh urusan pekerjaan. Untuk saat ini saja, dia ingin istirahat sejenak dari tumpukan dokumen dan pertemuan dengan orang-orang yang menyebalkan.
__ADS_1
"Selamat sore nona. Sepucuk surat datang untuk anda."
Seorang pelayan wanita mendatanginya. Biasanya dia akan sedikit sebal ketika waktu istirahatnya diganggu. Tapi khusus untuk yang ini, sang gadis sama sekali tidak keberatan.
"Silahkan, nona Charl."
"Ya, terimakasih Selena."
Kedua wanita itu saling tersenyum manis. Benar, mereka adalah Charlotte dan Selena, kekasih Jean.
"Mari kita lihat dari siapa surat ini...oh, ternyata dari Jean si bodoh! Isinya....dia meminta kita berdua untuk ke sana?"
"Nona Charl, bukankan mengatakan tuan bodoh itu sedikit....aneh?"
"Itu karena dia tidak pulang! Orang itu malah tinggal di wilayah barunya dan meninggalkan kita selama tiga bulan! Bukannya itu keterlaluan!?"
Selena hanya tertawa kecil mendengar nonanya yang cemberut. Mau bagaimana lagi kan? Habisnya itu perintah raja sih.
"Tapi terlepas dari itu....ayo kita siap-siap, Selena. Kita akan berangkat malam ini juga."
Selena terkejut namun dirinya juga ingin bertemu dengan Jean secepatnya. Dia ingin melihat orang itu, memeluknya, menciumnya, dan tidur bersamanya.
Ketika Charlotte pergi, Cassie akan mengambil alih pekerjaannya. Ibu itu sama kompetennya dengan anak gadisnya.
__ADS_1
Malam itu, keduanya berangkat Menuju wilayah De Ruhr.