Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
First Job (1)


__ADS_3

Ibukota kerajaan Warsawa, Krakov city.


Sebuah istana megah berdiri tegak di atas sebuah bukit. Di sekelilingnya terdapat empat menara dengan ujung yang dibangun lancip. Besar istana ini bahkan menghabiskan sepertiga luas area ibukota. Di sekelilingnya, terdapat perumahan megah yang menjadi komplek tempat tinggal para bangsawan.


Jean berjalan menuju area itu. Sudah dua Minggu sejak ia sampai di kota ini. Berkat jaringan yang diberi oleh nenek dan kakek yang menampungnya, Jean mendapatkan pekerjaan yang cukup layak.


Ah, ngomong-ngomong, nama nenek dan kakek yang menampung mereka adalah nenek Alija dan kakek Henryk. Ternyata, nenek Alija adalah seorang penyihir istana dan suaminya adalah ksatria istana, setidaknya dulu.


Memasuki usia 60 tahun, keduanya memutuskan untuk mundur dan tinggal di pinggiran kota nan asri. Bahkan setelah pengunduran dirinya, nenek Alija dan kakek Henryk masih mendapatkan tempat yang cukup terhormat dalam keluarga kerajaan.


"Ada seorang bangsawan yang mencari tutor untuk anaknya. Kamu bisa membaca dan menuliskan? Bagaimana jika mencoba untuk datang ke tempatnya?"


Itulah yang kakek Henryk katakan saat Jean bertanya apakah ada pekerjaan yang bisa dia dapatkan. Seorang bangsawan terkemuka di kerajaan ini sedang mencari pembimbing yang cocok untuk putrinya. Atas rekomendasi dari Henryk, Jean memanfaatkan kesempatan ini untuk mencoba.

__ADS_1


"Berhenti di sana!! Siapa kau dan apa tujuanmu ke sini!?"


Jean dihentikan oleh tiga orang ksatria berpakaian lengkap tepat di depan gerbang tempat tinggal para bangsawan. Dengan santai, dia mengangkat tangannya, membuktikan bahwa dia sama sekali tidak bersenjata dan tidak memiliki niat buruk apapun.


"Saya mendengar bahwa yang mulia Count Lesko sedang mencari guru untuk putrinya. Saya bermaksud ingin mengisi posisi tersebut."


Tanpa mendengar apa yang Jean katakan, para ksatria menggeledah tubuh Jean. namun, mereka tidak mendapatkan apapun di sana. Termasuk senjata dan uang yang mungkin saja bisa mereka rampas.


"Cih! Sial, tidak bisa mendapatkan apapun..... Kau tunggulah di sini! Jangan berani melangkah sejengkal apapun tanpa perintah dari kami!!"


Para ksatria tidak memberikan petunjuk apapun mengenai rumah count Lesko. Mereka hanya bilang kalau Jean telah ditunggu olehnya di kediamannya. Tapi bukan hal yang sulit bagi Jean untuk mencarinya karena Henryk telah memberikan beberapa petunjuk.


"Inikah, mansion tempat tinggal keluarga Lesko? Besarnya bahkan melebihi kediaman Duke Cassilas di wilayahnya sendiri. Seperti yang diharapkan dari salah satu kerajaan terbesar di central Akkadia."

__ADS_1


Rumah count Lesko berdiri di atas sebuah tanah yang luas. Mansionnya dibuat dari batu alam terbaik dan diukir oleh seniman pengukir terbaik. Mansion ini menjadi salah satu yang mencolok di kawasan ini.


Jean melihat seorang pelayan pria yang rambutnya telah memutih berdiri di depan pintu utama mansion. Dengan elegan, pria tua itu berjalan ke arahnya sembari memperhatikan Jean secara menyeluruh.


'Pria ini kuat.' itu yang ada dalam pikiran Jean. Tidak sulit untuk mengukur kekuatan pria tua itu dengan kemampuan yang Jean miliki sekarang tapi ia memutuskan untuk tidak melakukannya.


"Apakah anda orang yang dimaksud para ksatria tersebut? Kalau iya, ikut dengan saya. Yang mulia Count Lesko telah berbaik hati menunggu anda."


Nada yang digunakan pria tua itu ketika berbicara dengannya netral, tetapi Jean bisa dengan mudah mendengar ada rasa ketus dan meremehkan di baliknya. Well, tidak masalah.


Dengan tenang, Jean dan pria tua itu melangkah ke dalam rumah. Tentu saja count Lesko tidak akan sembarangan memilih tutor untuk anaknya. Jean pasti akan melewati seleksi yang berat. Tapi terlepas dari itu, dia telah siapa. Semuanya dipertaruhkan di sini.


"Tunggu di sini dan jangan bergerak sebelum aku menyuruhmu."

__ADS_1


Dinginnya. Jean menahan tawa dalam hatinya. Baiklah, waktunya ujian.


__ADS_2