Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Di Hutan


__ADS_3

"Nona Charlotte, nona Natasha, tolong jangan kencang-kencang! Berbahaya jika anda mengendarai kuda sekencang itu! Kalian bisa terjatuh!"


Jean yang biasanya tenang terpaksa teriak ketika melihat dua bunga yang cantik dan indah menunggang kuda dengan kecepatan yang cukup tinggi. Masalahnya mereka sedang berada di dalam hutan yang dipenuhi dengan rimbunnya pepohonan. Ada banyak akar yang menonjol dari tanah dan banyak ranting dan dahan pohon yang rendah.


Dan di belakang Jean, yang juga sedang menunggang seekor kuda, sebuah bunga yang lain juga sedang memeluknya dengan panik. Baju maidnya berkibar karena angin yang berhembus bertabrakan dengan kecepatan sang pengendara kuda.


Dia adalah Selena, pelayan wanita Charlotte. Jean tidak bisa melihat ekspresi Selena. Tapi yang jelas, dari cara gadis cantik itu memeluknya dan menenggelamkan wajahnya di punggung Jean, dia yakin kalau Selena sedang ketakutan sekarang.


"Maaf Selena, aku terpaksa harus seperti ini karena dua nona kita sedang mengendarai kuda mereka dengan kecepatan yang tidak masuk akal."


Selena hanya meng-hum kecil dan memeluk Jean makin erat. Ah, dadanya yang besar menempel di punggung Jean. Itu membuat Jean menjadi terangsang.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di tempat yang cocok untuk menjadi base mereka. Sebuah tanah lapang dan datar dengan pepohonan di sekelilingnya. Ada sungai kecil di sana yang mengalir.


Ini adalah acara berburu yang diikuti oleh putra dan putri kelas atas. Ada pedagang kaya dan bangsawan. Mereka semua menjadikan berburu sebagai ajang untuk bersenang-senang dan adu gengsi. Yah, tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja jangan terlalu ceroboh dan berlebihan.


"Selena, tolong ambilkan kain yang ada di sana. Ah, tolong ambilkan tongkat yang itu juga."


Sebagai pelayan, Jean tentu tidak ikut berburu. Dia punya kewajiban untuk menjaga semua barang bawaan milik Charlotte. Seharusnya barang bawaan Natasha dijaga oleh pelayan yang dia bawa tetapi gadis berambut ungu itu malah memercayakan semua barangnya pada Jean.


Tugasnya sekarang adalah membangun semacam shelter untuk tempat berteduh dan beristirahat. Tidak butuh waktu lama, Jean sudah selesai. Bingung mau melakukan apa, Jean menarik Selena yang sedang merebus sesuatu ke pangkuannya.


"J-jean! A-apa yang sedang kamu lakukan!?"


"Hmmm? Apa kurang jelas? Aku sedang memangku gadis cantik sekarang. Apakah kamu keberatan?"


Selena menelan ludahnya. Dia sangat malu sampai-sampai wajahnya menjadi sangat merah hingga ke telinganya. Ah, dia sangat manis. Hanya Jean yang bisa melihat ekspresi Selena seperti ini.

__ADS_1


"Mmmmm....aku tidak keberatan."


Jean tersenyum. Dia melakukan beberapa hal mesum pada Selena seperti menciumi bagian belakang leher Selena, mengigit dan menjilati daun telinganya, dan menggelitiki daerah perut Selena. Awalnya gadis itu mengerang tertahan tetapi lama-lama, nafas Selena menjadi berat dan terengah-engah.


"Jean....aku..."


Kini wajah mereka saling berhadapan. Selena sangat merah. Di matanya, ada afeksi yang hanya ia tunjukan untuk Jean. Ya, karena Selena adalah milik Jean dan selalu seperti itu. Bagi Selena, dia adalah pemilik dan penyelamat hidupnya.


Jean juga memandangi wajah Selena. Cantik dan imut. Dia adalah miliknya dan tidak peduli siapapun itu, tidak ada yang bisa mengambil Selena darinya.


Keduanya saling mendekatkan wajah. Seketika, bibir keduanya saling bersentuhan. Awalnya hanya sentuhan, namun Jean bergerak dengan instingnya. Dia memaksa lidahnya untuk masuk ke mulut Selena. Awalnya dia melawan, tetapi karena mendapat rangsangan yang kuat, Selena pasrah dan membiarkan lidah Jean menjelajahi mulutnya.


Lidah mereka saling beradu. Jean menjilati lidah Selena. Gadis pelayan itu ingin membalas tetapi dirinya kalau oleh dominasi Jean.


"Chuuu...Chuuu...ahnn....chupa."


"Selena, besok malam, tidurlah di kamarku."


Undangan itu membuat tubuh Selena bergetar. Dia membayangkan apa yang Jean lakukan padanya nanti.


Ngomong-ngomong, shelter mereka terletak agak jauh dari yang lain. Jadi Jean telah memastikan bahwa tidak ada yang melihat keduanya sedang bermesraan.


Tapi kemesraan keduanya harus terpotong karena Charlotte dan Natasha sudah berdiri di hadapan mereka dengan wajah tercengang. Terutama Charlotte. Eskpresinya terlihat sangat kaget. Itu lucu tapi kalau dibiarkan terus, semuanya bisa kacau.


"I-ini tidak seperti yang kalian bayangkan, nona Charlotte, nona Natasha!"


Selena langsung loncat dari pangkuan Jean dan merapihkan pakaian maidnya yang agak berantakan. Jean hanya menggeleng dan mengatakan kalau Selena melihat ular berbisa dan panik. Untung, Jean berhasil membunuh ular itu dan membuang bangkainya ke dalam hutan. Untuk menenangkan Selena, Jean membawa gadis itu ke pangkuannya.

__ADS_1


"Hoohhh! Apakah begitu, Selena, Jean?"


Tatapan Charlotte sangat mengerikan! Matanya tajam seolah berusaha mengoyak Jean. Kalau sudah seperti ini, mau bagaimana lagi kan?


"Selena, tolong tunggu di sini. Aku akan pergi berburu dengan nona Charlotte. Nona Natasha, apakah anda tidak keberatan untuk menunggu bersama Selena di sini? Tenang saja, Selena cukup ahli dalam bela diri. Dia pasti bisa melindungi nona Natasha."


Itu adalah permintaan dan Natasha tidak harus menurutinya. Tetapi Natasha merasakan sesuatu yang tidak bisa dia bantah dalam kalimat Jean. Itu seperti dia mendominasi diri Natasha. Tubuh gadis itu bergetar. Sedikit karena rasa takut, segan, dan sisanya entah kenapa adalah kesenangan.


Jean meraih tangan Charlotte dan membawanya masuk ke dalam hutan. Charlotte menjadi sangat malu ketika Jean menggenggam tangannya dengan erat.


"Oke nona, hanya ada kita berdua sekarang. Haruskah kita berburu sesuatu untuk makan malam?"


Jean memfokuskan pandangannya ketika menarik tali busurnya. Saat dia melepaskan anak panahnya, suara hewan yang jatuh terdengar ke telinga Jean.


"Apa yang sebenarnya sedang kau incar Jean? Aku tidak melihat apapun di sana."


"Akan sangat sulit jika hanya mengandalkan penglihatanmu, Charl. Seorang pemburu harus bisa memaksimalkan semua panca indera mereka dengan baik. Penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan perasa.


"Pada tingkatan tertentu, ketika seseorang telah memanfaatkan kelima indera mereka dengan baik, maka dia akan melihat apa yang tidak bisa orang lain lihat. Mendengar apa yang orang tidak lain dengar."


Charlotte tidak tahu apa yang Jean bicarakan. Tapi itu tidak penting sekarang. Dia mengikuti Jean untuk mengambil hewan yang telah diburu. Sebuah burung yang berukuran cukup besar.


"Katakan padaku, Charl. Apakah kau cemburu ketika melihatku bermesraan dengan Selena?"


Charlotte langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Jean. Sementara itu Jean tersenyum. Kena kau. Jean langsung memeluk Charlotte dari belakang. Dia melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan pada Selena. Menggigit daun telinga Charlotte, menciumi bagian belakang lehernya, dan ketika Charlotte sudah sangat terangsang, dia mencium bibir merah Charlotte.


Nafas Charlotte menjadi sangat kasar. Matanya berkaca-kaca seolah menginginkan lebih. Jean hanya tersenyum dan meraih tangan Charlotte. Mereka mengambil hewan buruan lalu kembali ke base mereka.

__ADS_1


__ADS_2