Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Pertarungan Di Hutan


__ADS_3

Suara dentingan yang berasal dari pedang yang saling beradu terdengar dimana-mana. Para tentara bayaran yang sedang mengawal paman Hull berusaha menghalau penyergap yang secara tiba-tiba menyerang konvoi mereka.


Namun, dilihat dari situasinya, para tentara bayaran jelas kalah jumlah.


"Pak! Musuh berjumlah dua kali lipat daripada kita! Apa yang harus kita lakukan sekarang!?"


"Terus halangi musuh! Jangan sampai mereka berhasil menerobos ke kereta kuda milik tuan Hull!"


Pemimpin tentara bayaran itu berusaha memberikan instruksi kepada anak buahnya sambil bertarung melawan musuhnya di saat yang bersamaan. Dia tidak boleh membiarkan para penyerang ini menerobos ke kereta kuda paman Hull!


Dia berhasil membunuh tiga musuhnya. Tapi anak buahnya tidak seberuntung itu. Beberapa dari mereka telah tewas karena tidak sempat bereaksi atas serangan mendadak yang musuh lancarkan.


'Sial! Kalau begini terus, mereka akan mencapai tuan Hull dan lainny!'


Doanya mungkin dikabulkan oleh Dewi. Tidak, lebih tepatnya Dewi sedang mempermainkan dirinya. Salah satu penyerang berhasil menerobos anak buahnya dan bertengger di atas kereta kuda milik paman Hull.


Dengan penuh kebanggaan, dia mengangkat pedang panjangnya tinggi-tinggi. Pedang yang panjang dan tajam hingga mampu menembus kereta kuda milik paman Hull dan membunuh orang yang ada di dalamnya.


Tapi betapa terkejutnya mereka, musuh ataupun para tentara bayaran, ketika sebilah pedang lebih dahulu menembus kereta kuda dari dalam. Bilah pedang itu mengoyak dada sang musuh dan menikam jantungnya sehingga dia tewas di tempat.


Melihat musuh yang gagal membunuh targetnya membuat moral para tentara bayaran menjadi naik. Dengan semangat yang tinggi, mereka berhasil mendorong balik gerombolan musuh.


Namun momentum hanya terjadi sebentar, ketika wajah sebenarnya musuh mereka datang. Empat orang dengan kultivasi yang berada di tingkatan keempat. Pemimpin tentara bayaran itu mendecakan lidahnya.


'Bangsat! Aku sendiri berada di tingkat keempat! Tetapi paling banyak aku hanya bisa melawan dua orang di tingkat yang sama! Tapi untuk empat orang....'


Keraguan mulai muncul di hati sang pemimpin. Haruskah dia mundur dengan anak buahnya? Tapi paman Hull telah memberikan bayaran yang sangat bagus. Jika dia mundur sekarang, reputasi yang selama ini dia dan anak buahnya bangun akan runtuh!


Namun dia juga tidak ingin anak buahnya dalam posisi yang berbahaya! Di tengah kebimbangannya, dia mendengar suara kekanak-kanakan yang datang dari belakangnya.


"Apakah kau ragu-ragu paman? Ingat, paman telah membayarmu dengan harga yang sangat baik. Jika kau lari sekarang, namamu dan nama anak buahmu akan ternoda. Tidak ada lagi orang yang akan memakai jasa kalian."


Siapa dia!? Sejak kapan dia berdiri di belakangku!?


Sang pemimpin tentara bayaran langsung menebas dua kepala musuh yang datang menghampirinya. Dia lalu menoleh ke belakang dan melihat seorang anak berusia sekitar 13 tahun sedang berdiri dengan santai.


Sudut matanya menangkap seorang musuh yang melesat ke arah anak ini! Tapi di depan dia ada seorang musuh yang juga melesat ke arahnya. Dalam hitungan sepersekian detik, dia kembali bimbang, tapi pada saat itu juga, suara anak kecil itu membuatnya menjadi yakin.


"Jangan lengah paman! Hadapi musuh yang ada depanmu!"


Karena itu dia berbalik ke arah musuhnya dan mengayunkan pedangnya. Tubuh musuhnya terbelah menjadi dua.

__ADS_1


Di sisi lain, anak kecil itu telah membunuh musuhnya juga. Dia mengubah posisi pedangnya dan menusuk leher orang itu tanpa menoleh ke belakang sedikitpun."


"Terimakasih nak, berkat kau.... tunggu dulu! Bukan itu yang aku maksud! Cepat masuk ke dalam kereta kuda, bocah nakal! Ini bukan tempat bermain!"


Tapi anak itu tidak mengindahkan peringatan darinya. Sebaliknya, dia malah tersenyum seolah menemukan sesuatu yang menarik.


"Dua orang berada ditingkat keempat datang dari sisi depan kereta dan dua orang di tingkat yang sama datang dari sisi belakang. Benar kan?


"Kau tidak perlu khawatir paman. Kau ambil yang depan dan aku yang belakang. Bagaimana dengan itu?"


Pemimpin tentara bayaran itu berpikir sejenak. Tapi dia langsung menggeleng. Ini bukan saatnya untuk pilih-pilih. Dia memutuskan untuk percaya pada bocah ini.


Anak itu hanya tersenyum. Dia lalu pergi ke sisi belakang kereta kuda sembari membunuh musuh yang menghalangi jalannya dengan sangat santai.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah mengatakan kalau dia akan mengurus musuh yang menyerang sisi belakang, Jean langsung bergegas menuju tempat dimana pasukan musuh terkonsentrasi.


Dia membunuh beberapa musuh yang menghalangi jalannya dengan mengoyak jantung mereka dan memenggal kepala mereka.


Jean juga membantu tentara bayaran yang kesulitan dalam menumpas musuh mereka. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, Jean berhasil menewaskan lima orang.


Entah kenapa semua tentara bayaran tergerak untuk mematuhi perintah Jean. Mereka yang tadinya terpecah menjadi terorganisir kembali dan membentuk lingkaran.


Ini memudahkan Jean untuk bergerak. Dia menebaskan pedangnya dan tiga orang tewas. Lalu dua orang melompati dirinya. Jean mengambil dua mayat musuhnya dan melemparkannya pada mereka sehingga keduanya jatuh dengan leher yang mendarat terlebih dahulu.


Dan kini, Jean menghadapi dua musuh utamanya. Dua orang dengan tingkat kultivasi di tingkat keempat!


Jean sama sekali tidak ragu. Meskipun keduanya melepaskan hawa membunuh yang cukup kuat, bagi Jean itu hanyalah mainan anak-anak.


"MINGGIR, BOCAH!!"


Diiringi dengan teriakan yang keras, salah satu musuhnya maju dengan pedang yang teracung ke arahnya. Dia menebaskan pedangnya ke segala penjuru. Tebasannya sangat cepat.


Tapi Jean dengan santai menghindarinya. Sesekali juga menangkis dan menyerang balik. Dentingan pedang mereka yang beradu terdengar. Percikan apinya terbang kemana-mana. Tidak di sangka kalau musuhnya justru berada di posisi yang terdesak sekarang.


Melihat hal ini terjadi, rekannya tidak bisa diam saja. Dia lalu ikut campur dalam pertarungan antara Jean dan rekannya. Dia pergi ke bagian belakang Jean dan menyerang dirinya dari dua arah.


Tapi Jean sudah menduga itu. Dia menangkis serangan keduanya dengan elegan. Dia mencari celah diantara serangan mereka yang bertubi-tubi dan berhasil melukai beberapa bagian tubuh seperti bahu, pinggang, dan lengan.


"Bajingan! Siapa kau sebenarnya, bocah!?"

__ADS_1


"Jangan lengah! Gerakan dia lebih cepat daripada kita!"


Hahh....keduanya mulai frustasi. Membosankan. Jean menganggap kalau pertarungan ini sudah tidak diperlukan lagi. Dia memfokuskan titik energinya di kaki lalu melompat ke arah lawan yang berada di depannya.


Berkat serangan itu, kepala lawannya terpenggal dan jatuh ke tanah. Tanpa memberikan kesempatan untuk rekannya, Jean memutar tubuhnya dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata dan membelah tubuh orang itu menjadi dua secara horizontal.


"Ternyata segini saja kekuatan seseorang yang telah mencapai tingkat empat. Apa yang harus aku katakan? Lemah mungkin?"


Jean menendang dan meludahi mayat mereka lalu pergi sambil membantai sisa-sisa musuh yang masih tersebar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan Author:


Sebagai pengingat, Dalam cerita ini, kekuatan dibagi ke dalam sepuluh tingkatan atau Grade. Adapun tingkatannya adalah seperti ini;


Tingkat satu


Tingkat Dua


Tingkat Tiga


Tingkat Empat


Tingkat Lima


Tingkat Enam


Tingkat Tujuh


Tingkat Delapan


Tingkat Sembilan


Tingkat Sepuluh


Bagi seseorang yang telah grade empat, dia sudah bisa dipertimbangkan sebagai orang yang kuat. Dan begitu seseorang telah mencapai tingkat Lima, akan sangat sulit untuk menerobos ke tingkat enam dan selanjutnya.


Adapun Jean, tingkat kultivasinya sudah mencapai tingkat Lima. Selangkah lagi, dia akan menerobos tingkat enam.


Konsep kultivasi yang ada dalam cerita ini sedikit berbeda dengan cerita lain dan tidak begitu detail. Karena cerita ini memang tidak berfokus pada kultivasi.

__ADS_1


__ADS_2