
Pada akhirnya, Nebelhorn city tidak pernah pulih. Tragedi 'malam serigala' telah membuat banyak orang trauma. Satu persatu, masyarakat yang ada di sana mulai mempertanyakan kecakapan Duke Eisen dalam memimpin.
Selama ini mereka dipaksa untuk melakukan hal yang tidak ingin mereka kerjakan dengan alasan pengabdian untuk yang mulia. Dengan jaminan rasa aman dan perut kenyang, mereka melakukan apapun yang Duke Eisen katakan. Hal itu telah terjadi selama puluhan tahun, bahkan semenjak Principality of Eisen didirikan.
Tapi, untuk apa sebenarnya mereka bekerja? Puluhan tahun mereka hidup dan mengabdi untuknya, tidak ada satupun yang berubah. Kualitas hidup sama sekali tidak meningkat. Mereka semua tetap terjebak dalam kemiskinan.
Jangankan untuk berfoya-foya. Bahkan untuk membeli makanan saja, mereka harus mengambil yang kualitasnya paling rendah. Itupun harganya sangat mahal.
Ditambah tragedi yang kemarin dan keputusan Duke Eisen untuk melarang perdagangan dengan Dublin, masyarakat semakin tidak puas.
Obrolan tentang hal ini semakin merebak kemana-mana. Dari pasar, tempat makan, bar, bahkan rumah. Tentu saja, Duke Eisen telah mengetahui ini semua meskipun cukup terlambat.
Responnya, seperti yang diharapkan, represif. Duke Brandon Eisen segera mengirimkan para ksatrianya ke berbagai tempat untuk menangkap dan menyiksa siapapun yang menjelekkan namanya di depan umum. Dia juga tidak ragu mengeksekusi siapapun yang ia anggap berpotensi untuk mengganggu kuasanya.
Di tengah Krisis yang terjadi, Jean hanya melihat itu semua sambil tersenyum tipis. Tujuannya di sini sebentar lagi akan tercapai. Hanya perlu sedikit pantikan lagi untuk menyalakan apinya.
"Baguslah ketika upaya yang aku lakukan sama sekali tidak sia-sia."
__ADS_1
Jean mengatakan hal itu pada dirinya sendiri. Dia bukan tipikal orang yang mudah berpuas diri ketika telah meraih sesuatu. Tapi akan lebih baik jika semua Rencananya berjalan sempurna. Kalaupun gagal, maka ya sudah.
Penyebab utama dari ketidakmampuan masyarakat pada Duke Eisen memang berasal dari ketidak kompetenan sang pemimpin. Tetapi tanpa campur tangan Jean, gerakan ketidak puasan tersebut tidak bisa semasif sekarang.
Selama ini, Jean telah menyebarkan berbagai rumor ke seluruh penjuru Principality of Eisen. Dari kota ke kota dan desa ke desa. Lewat berbagai saluran yang ia miliki, Jean berhasil mengguncang pondasi kekuasaan Duke Eisen yang bercokol lebih dari 50 tahun.
Secara diam-diam, dia juga mendanai dan mendorong beberapa fraksi anti Eisen untuk melancarkan pemberontakan. Dia menyediakan uang, pelatihan, dan perlengkapan untuk berhadapan dengan Ksatria tangguh milik Duke Eisen.
Tentu saja, kegiatannya tidak terbatas di Nebelhorn dan sekitarnya. Jean juga memerintahkan para agen 'mawar hitam' yang ada di Dublin, Utah, dan sekitarnya untuk melakukan kegiatan kontra intelejen. Semua mata-mata Duke Eisen dihabisi. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Jean mengirimkan informasi palsu dan membuat seolah-olah semua mata-mata yang Duke Eisen kirim ke sana masih hidup dan baik-baik saja.
Sekarang, ia sedang duduk di rumahnya yang ada di Nebelhorn. Sebuah rumah sederhana tanpa banyak aksesoris yang mahal. Tidak ada ruang bawah tanah ataupun tempat rahasia lainnya. Benar-benar hanya sebuah rumah biasa tanpa hal mencurigakan.
Dia diam sejenak sembari memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian, dia membuka matanya lagi dan berbicara pada dirinya sendiri.
"Hmm.... sepertinya memang sudah saatnya."
Jean lalu berdiri dari kursinya. Memakai mantel lusuhnya, dia pergi meninggalkan rumah sederhananya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sekitar 30 menit setelah Jean meninggalkan rumahnya, sekelompok Ksatria berpakaian zirah mendatangi kediamannya. Tujuan mereka jelas-jelas bukan bertamu. Tidak ada ceritanya sekelompok orang membawa pedang tajam bertamu ke rumah orang di tengah malam, kan?
Mereka segera merangsek masuk ke dalam rumahnya. Pintu rumah sederhana yang reot itu didobrak hingga rubuh. Mereka masuk dan langsung mengacak-acak seluruh benda dan perabot yang ada di sana.
Lemari, kasur, meja, kursi, dan lainnya. Mereka juga memukuli dinding dan menginjaki lantai. Untuk sekedar memastikan apakah ada sesuatu dibaliknya.
"Kapten, kami menemukan ini di kamarnya."
Seorang ksatria yang kelihatannya rekrutan baru memberikan beberapa lembar kertas lusuh dan lecak. Sementara itu, sang kapten menerimanya dengan tatapan dingin. Dia membuka sekilas lipatannya, membacanya, lalu memasukkannya ke saku yang tersembunyi di balik zirahnya.
"Sisir terus tempat ini. Kita tidak bisa membiarkan satupun barang bukti terbuang sia-sia. Begitu kalian selesai, bakar rumah ini."
Ksatria itu ragu dengan instruksi yang diberikan oleh atasannya. Kawasan ini adalah kawasan padat penduduk. Jika satu rumah terbakar, Api pasti akan merembet ke rumah lain. Tapi mau bagaimana lagi. Perintah adalah perintah.
Begitu mereka selesai mengecek seluruh isi rumah, minyak dituangkan dan obor dilempar. Si jago merah mulai menjilati seluruh bangunan. Awalnya hanya rumah yang Jean tempati, lama kelamaan, api mulai menjalar dan menghanguskan rumah-rumah yang lain.
__ADS_1
Mereka yang selamat hanyalah mereka yang beruntung. Namun, jauh Lebih banyak yang tewas dalam peristiwa ini.
Lagi-lagi, Duke Eisen telah menambah catatan hitamnya di hati orang-orang. Kejatuhannya tidak lagi terhindarkan.