Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Pasca Penyerangan


__ADS_3

Tidak mudah untuk membereskan bekas serangan yang terjadi semalam. Tapi itu memang tidak diperlukan. Jean tidak berusaha untuk menutupi fakta bahwa Serigala Putih yang melancarkan serangan itu. Dia bahkan juga tidak repot-repot untuk membersihkan sisa-sisa pertarungan seperti darah yang tercecer dan yang lainnya.


Sebaliknya, ini adalah peringatan dari Jean. Siapapun yang berani menyentuh atau mengganggu aktivitas kelompok Serigala Putih di wilayah kekuasaannya, maka mereka akan mengalami hal yang sama seperti kepala-kepala yang bergelimpangan begitu saja di jalan.


Pagi itu juga, para penduduk yang mendiami bagian selatan ibukota merasakan teror yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Darah menggenang di jalanan, tubuh-tubuh hangus bergelimpangan, burung-burung gagak sedang mematuki kepala-kepala yang kini telah menjadi bangkai.


Dari atas atap-atap rumah, Jean bisa melihat seorang ibu memeluk kepala putranya yang telah terpenggal. Ada juga sepasang suami-istri yang sedang menangis histeris sembari memandangi kepala anaknya. Atau, dia dapat melihat seorang adik yang sedang meratapi kematian satu-satunya kakak yang dia miliki.


Tidak ada senyum, tidak ada saling sapa-menyapa. Yang tersisa hanyalah ketakutan, dendam, kesedihan, serta tragedi. Jean sendiri tidak peduli. Ini adalah harga yang harus mereka bayar ketika mereka juga tidak menghargai kehidupan orang lain.


Pada akhirnya, rasa sakit atas kehilangan sesuatu yang kita hargai dan cintai akan menimbulkan dua keinginan dalam diri manusia. Yang pertama adalah keinginan untuk menghancurkan siapapun yang telah mengambil segala hal yang dia cintai. Sekali lagi, Jean tidak peduli.


Jean hanya menunggu keinginan yang kedua. Keinginan untuk menjaga, atau saling menjaga, apa yang tersisa di tangan mereka. Orang-orang akan lebih menghargai kehidupan dan tidak menganggap murah nyawa seorang manusia.


Mereka semua belum menyadari, bahwa darah anak-anak mereka, ayah mereka, kakak mereka, adalah awal untuk kehidupan yang lebih baik bagi mereka semua.

__ADS_1


Sekali lagi menatap ke bawah dengan senyum tipis yang muncul di wajah Jean, dia pergi dari tempat ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Jean! Jean! Hei, ayo bangun! Jangan tertidur di tengah siang seperti ini!"


Huh? Jean perlahan membuka matanya. Dia masih setengah sadar. Dan di tengah kondisi seperti itu, dia melihat tiga bidadari di sampingnya sedang berdiri.


Ah, indahnya. Mereka memang tidak memiliki sayap. Itu tidak seperti apa yang digambarkan oleh buku-buku cerita. Tetapi hal itu tidak mengurangi pesona mereka sama sekali.


Tapi sayang, mimpi indah itu harus berakhir ketika dia merasakan tinju dan tendangan mendarat di perutnya. Itu tidak sakit, tapi tetap membuatnya kaget hingga kembali sadar.


Mata Jean terbelalak. Ternyata bola besar yang mereka sentuh adalah milik Charlotte, Natasha, dan Selena! Wajah mereka menjadi merah padam karena marah sekaligus malu.


Mereka berempat sedang beristirahat di sebuah taman kecil yang terletak di bagian timur kota. Taman itu jarang dikunjungi. Karena memang hanya diperuntukan pada bangsawan dan orang kaya. Alasan Kenapa dia dan Selena bisa masuk adalah karena Charlotte dan Natasha.

__ADS_1


Sebenarnya mereka semua sedang istirahat untuk makan siang. Jean sendiri tidak lapar, tapi dia sangat mengantuk karena sejak dua malam yang lalu hingga tadi pagi, setelah melihat hasil kerjanya (pembantaian), dia belum tidur sama sekali. Karena itulah Jean memutuskan untuk tidur siang alih-alih makan.


"Maafkan saya, nona Charles, nona Natasha, dan Selena. Barusan aku mengira kalau aku sedang bermimpi bertemu dengan tiga bidadari yang sangat cantik. Tapi ternyata itu adalah kalian. Maaf atas kekurang ajaran saya."


Blushh! Ketiga gadis itu memerah lagi. Wajah mereka sangat menggemaskan! Jean ingin menindih ketiganya sekaligus tapi yah, ini bukan tempat yang tepat.


"Hmm-hmmph! Aku akan memaafkanmu! Se-sekarang, ayo bangun! Kita harus membantu Charlotte untuk mencari tempat yang bagus untuk membuat toko barunya."


Natasha berusaha untuk tidak senang. Tetapi Jean merasa gemas ketika melihat Natasha berpura-pura. Baiklah, ayo bangun dan lanjutkan tugasnya.


Ngomong-ngomong, sudah lama paman Hull merencanakan untuk memberikan semua yang dia miliki pada Charlotte sepeninggal dirinya kelak. Karena itu, dia melibatkan Charlotte dalam setiap kegiatan bisnisnya.


Tidak disangka kalau Charlotte sangat antusias. Dia juga berbakat. Karena itu, paman Hull memutuskan untuk memberikan modal kepada Charlotte agar gadis ini bisa merintis bisnisnya sendiri.


Dan kencan segitiga (?) Mereka, dimulai kembali.

__ADS_1


__ADS_2