
CLANGG!!!!
TINGGGG!!!!
SLASSSHHH!!
Darah berhamburan kemana-mana. Teriakan panik, kesedihan, dan kesakitan memenuhi markas Serigala Putih. Tidak ada satupun anggota dari mereka yang menyangka bahwa sebuah markas kelompok besar akan diserang oleh kerumunan bocah kecil!
Bagai air bah, mereka terus maju. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Siapapun yang menghalangi jalan mereka, maka saat itu juga dia akan kehilangan nyawanya. Gengsi mereka tidak berguna. Dalam waktu kurang dari satu jam, markas Serigala Putih jatuh ke tangan penyerang.
"Baiklah semuanya! Pesta sudah selesai dan segera berkumpul di depanku sekarang! Ah, jangan lupa untuk membawa teman kita yang terluka!"
Jean menarik pedangnya dari salah satu mayat yang dia bunuh barusan. Secara kasar, Jean mengerti kalau dia adalah orang terkuat yang ada di gedung. Perlu sedikit effort untuk membunuhnya.
Segera, 35 orang berkumpul di depannya. Pakaian mereka berlumuran darah. Ada tiga temannya terluka tetapi tidak parah. Wajah mereka terlihat sangat puas. Umu, Jean juga puas dengan kemampuan mereka.
"Bagaimana, apakah kalian menikmati hidangan yang tersaji di depan kalian?"
"Ya! Kami puas!"
"Tapi mereka lemah!"
"Bahkan mengalahkan tuan Jean lebih sulit!"
Jean berusaha menahan tawa mendengar ucapan teman-temannya. Yah, yang menjadi lawan mereka memang cukup lemah hari ini. Ternyata selain masalah internal, kualitas orang-orang serigala putih juga menjadi alasan kenapa mereka tidak ingin terlibat dengan keributan dua kelompok lainnya.
Jean melihat Mar menyeret seorang wanita. Jean memicingkan matanya. Wanita itu masih muda. Hanya dua tahun lebih tua daripada Charlotte dan Selena. Dia memiliki rambut panjang berwarna hitam yang dia kuncir dengan gaya ponytail.
__ADS_1
Dia tidak pingsan tapi kondisinya sangat lemah. Sepertinya dia menjadi lawan bertarung bagi Mar. Dengan isyarat matanya, Jean memerintahkan Mar untuk meletakan gadis itu di tempat yang cukup aman.
"Siapa gadis itu, Mar?"
"Salah satu orang penting dalam serigala putih. Saat aku menyusup ke tempat ini beberapa waktu yang lalu, dia terlihat sedang menyuruh anak buahnya untuk melakukan sesuatu."
Jean mengangguk. Pandangannya terfokus pada gadis itu sejenak, tetapi mengalihkan lagi pandangnya kepada teman-temannya.
"Oke! Sekarang saatnya untuk bersih-bersih setelah berpesta. Kumpulkan semua mayat ke satu tempat dan bakar mereka. Setelah itu, kita akan membersihkan darah yang berceceran. Lakukan semua itu dalam satu jam."
Dengan gesit semua teman-temannya bubar. Jean lalu mengobrol dengan Mar lagi.
"Apakah semua orang yang ada di gedung ini sudah mati?"
"Tidak semuanya. Seperti yang kau perintahkan, kami tidak membunuh mereka yang menyerah."
"Bagus. Setidaknya kita membutuhkan orang-orang ini untuk mengurus kelompok Serigala Putih yang baru."
"Panggil mereka ke tempat ini. Aku ingin mengetahui kondisi kelompok ini lebih detail lagi."
Mar mengangguk dan pergi untuk memanggil mereka. Tidak lama kemudian, sepuluh orang datang ke hadapannya. Jean memperhatikan satu per satu orang yang berdiri di depannya. Semuanya. tidak memiliki kemampuan bertarung.
Seketika itu juga Jean melepaskan tekanannya kepada mereka. Rasa takut memenuhi diri mereka. Kematian seolah terbentang begitu saja. Karena itulah, mereka secara refleks langsung berlutut.
"Aku adalah tuan baru kalian di sini. Dan aku tidak menerima penolakan."
Meskipun tidak berteriak, suaranya begitu berwibawa dan dominan. Semua anggota Serigala Putih benar-benar tidak bisa berbuat apapun kecuali menuruti kemauan orang yang ada di depan mereka.
__ADS_1
"Pertama, jelaskan padaku mengenai situasi dalam kelompok ini secara mendalam."
Awalnya mereka semua ragu. Tetapi seorang lelaki tua, mungkin berusia 50-an, mulai berterus terang mengenai kondisi di tubuh Serigala Putih. Mulai dari pengkhianatan yang dilakukan oleh beberapa anggota serigala putih, meninggalnya sang pemimpin, dan lain-lain.
"Oke. Kalian boleh pergi. Mulai besok pagi kalian akan mulai bekerja. Ah, kecuali kau pak tua, diamlah di sini terlebih dahulu. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Semuanya pergi dengan perasaan lega. Mereka mungkin akan pingsan jika Jean membuat mereka menunggu lebih lama. Hanya tersisa Jean, Mar, dan pak tua.
"Sekarang pak tua. Aku ingin tahu aset apa saja yang dimiliki oleh Serigala Putih. Termasuk uang yang tersedia, jumlah anggota, bisnis yang dilakukan, dan lain-lain."
Pak tua menelan ludahnya. Dia jelas ragu dan takut. Tetapi menghadapi tekanan dari Jean dan Mar membuat dirinya terpaksa untuk membeberkan semua yang dia tahu. Mar mencatat semua yang pak tua katakan.
Berdasarkan apa yang dia katakan, Jean memahami kalau jaringan yang dimiliki oleh serigala putih sebenarnya cukup luas. Mereka memiliki tiga usaha perdagangan manusia, empat rumah bordil, tiga bar, dan satu tempat yang memperdagangkan berbagai barang antik dan magis.
'Orang-orang bodoh ini tidak tahu cara memanfaatkan bisinis mereka dengan baik. Ya ampun, pantas saja kelompok ini sekarat.'
"Baiklah pak tua, mulai malam ini, semua yang kau sebutkan tadi adalah milikku. Aku akan menerima siapa saja yang mau bersumpah setia padaku. Tapi jika ada yang menolak untuk tunduk, maka mereka harus siap untuk menerima resikonya.
"Mar, tulis surat ultimatum kepada anggota serigala putih yang ada diluar gedung ini. Dan kau pak tua, bertanggung jawab untuk menyebarkan ultimatum ini ke anggota lainnya."
Tubuh pak tua semakin bergetar. Dia benar-benar kewalahan dengan aura milik Jean. Namun di dalam hatinya, pak tua mulai menganggap kalau Jean adalah harapan dan cahaya baru bagi kelompok Serigala Putih.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Besok paginya, seluruh anggota Serigala Putih yang mendengar berita penyerangan di markas utama mereka menjadi sangat terkejut. Mereka marah dan merasa terhina. Apalagi ketika menerima ultimatum dari orang yang mengaku sebagai pemimpin baru.
Namun, pada saat mereka ingin melakukan serangan untuk merebut kembali markas Serigala Putih, kaki mereka menjadi sangat lemas. Puluhan kepala di tumpuk menjadi sebuah Piramida dengan sebuah catatan di puncaknya yang berbunyi;
__ADS_1
"Inilah nasib mereka yang memilih untuk membangkang!"
Semuanya sadar kalau tidak ada pilihan lain kecuali menyatakan kesetiaan untuk tuan baru mereka.