Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Misi Jeanne (2)


__ADS_3

Jeanne dan Hanna memacu kudanya dengan cepat. Menunggangi kuda di dalam kota dengan kecepatan tinggi berbahaya. Tapi keduanya bukanlah amatiran. Mereka dengan lihai memilih jalan yang tidak begitu ramai. Kalaupun ada halangan, mereka pasti melewatinya dengan handal.


Kota Krakov adalah ibukota dari kerajaan Warsawa, negeri yang kini menjadi tempat tinggal Jeanne dan Svetlana. Meskipun tidak Semaju kota-kota yang berada di timur Akkadia, kota ini sendiri masih lebih maju jika dibandingkan dengan yang ada di bagian barat. Apalagi ketimpangannya cukup jauh.


Kerajaan Warsawa adalah salah satu kerajaan yang memiliki kekuatan dominan di bagian tengah Akkadia. Luas keseluruhan wilayahnya tiga kali lipat lebih besar dari kerajaan Dublin, kerajaan Bucharest, dan Principality of Eisen jika mereka disatukan. Populasi penduduknya adalah terbanyak ke tiga di bagian tengah benua Akkadia. Begitu juga dengan kemampuan militer dan ekonomi mereka.


Hanna dan Jeanne sampai di markas Ksatria. Keduanya turun dari kuda masing-masing dan dengan cepat berjalan menuju ruang tempat mereka biasa berkumpul. Begitu sampai di sana, sembilan orang sudah berkumpul.


"Selamat datang, Hanna, Jeanne. Silahkan duduk. Kita akan mulai rapatnya sekarang."


Hanna dan Jeanne duduk bersebelahan di bangku yang kosong. Dari 11 orang yang ada di sana, hanya Jeanne dan Hanna lah yang wanita. Sisanya adalah laki-laki. Tak bisa diragukan lagi kalau mereka adalah bunga di tengah padang pasir nan tandus.


"Ehem! Baiklah, kita akan mulai sekarang."


Yang memimpin rapat adalah seorang pria yang kurang lebih berusia 55 tahun. Meski cukup tua untuk seorang ksatria, kemampuannya dalam berpedang dan mengatur bawahannya membuat ia bisa mempertahankan posisinya sebagai kepala ksatria kerajaan Warsawa.

__ADS_1


Kepala Ksatria menunjuk ke sebuah peta besar yang tertempel di sebuah papan. Ada tanda silang merah yang cukup mencolok di sana.


"Tempat ini adalah sarang bajak laut. Setidaknya itu adalah informasi yang diberikan oleh mata-mata kerajaan. Pada dasarnya, ini adalah kampung nelayan yang sudah terbengkalai."


Begitu kepala ksatria selesai berbicara, salah satu kapten ksatria mengangkat tangannya. Dia adalah orang yang sama dengan yang waktu itu menemani Jeanne memberantas beberapa monster di dalam hutan.


"Berapa jumlah para bajak laut di sana?"


"Mata-mata kerajaan tidak memberikan informasi yang akurat mengenai jumlah mereka. Namun, ini hanya perkiraan kasar saja, jumlah mereka mungkin berada di angka 300 sampai 400 orang."


Pria yang tadi bertanya tersenyum angkuh. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi yang ia duduki sambil sedikit mendengus.


Kapten Ksatria yang lain terlihat cukup kesal dengan tingkahnya. Begitu juga sang kepala ksatria. Hanya Jeanne yang tetap memasang ekspresi poker facenya.


"Kau terlalu meremehkan mereka, Simon. Setiap kapten ksatria hanya membawahi paling banyak 100 ksatria. Tidak peduli sehebat apapun dirimu, kau masih kalah jumlah."

__ADS_1


Kepala ksatria tidak menyembunyikan kekesalannya pada pria bernama asli Szymon itu. Szymon berasal dari salah satu bangsawan berperingkat Count terkemuka di kerajaan Warsawa. Keluarga Krzys. Keluarga mereka telah banyak melahirkan ksatria dan prajurit yang luar biasa. Alhasil, mereka memiliki pengaruh yang cukup kuat di tubuh militer kerajaan Warsawa.


"Tidak juga. Para bajak laut mungkin penguasa laut. Tapi di darat, mereka jauh lebih rendah daripada kita. Entah itu martabat ataupun kemampuan bertarung mereka. Tidak ada yang harus dikhawatirkan."


Begitulah pendapatnya. Logika yang dia pakai sederhana saja. Mereka hanya dilatih untuk bertarung di laut. Bukan di daratan. Mereka juga tidak disiplin dan tidak memiliki nilai-nilai etik layaknya ksatria. Dalam pertarungan satu lawan satu, Syzmon 100 persen yakin kalau dirinya dan anak buahnya pasti akan menang.


Sementara Szymon membual tentang kemampuannya, kepala ksatrianya hanya menghela nafas dan menepuk dahinya dengan telapak tangannya.


"Kau mungkin benar tentang satu lawan satu. Tapi aku tidak yakin dengan sisanya. Mereka memiliki pengetahuan tentang wilayah sekitar mereka. Itu artinya begitu mereka menyadari kehadiranmu, para bajak laut bisa menyergap kalian dari mana saja.


"Selain itu, ini bukan tentang pertarungan satu lawan satu. Para bajak laut itu tidak memiliki etika dan pengetahuan mengenai bagaimana seorang ksatria harus bertarung. Mereka akan memakai segala cara untuk menang."


Sebagai respon atas apa yang telah kepala Ksatria katakan, Syzmon hanya mendengus kesal. Upayanya untuk menambah prestasi pribadi gagal. Sang kepala yang melihat ini hanya menggelengkan kepala. Ambisi tanpa akal berbahaya.


"Baiklah, mari kita lanjutkan. Hanna dan Jeanne, aku menugaskan kalian dan Simon untuk menyelidiki hal ini. Kalau memang informasi yang diberikan benar, habisi para bajak laut itu."

__ADS_1


Hanna dan Jeanne mengangguk bersamaan. Kepala Ksatria mengangguk puas. Dia lalu membahas beberapa teknis lainnya. Menurut penuturannya, butuh waktu 10-14 hari untuk mencapai titik yang dituju. Jeanne dan Hanna diperintahkan untuk menyiapkan perbekalan yang cukup sementara Szymon, kepala Ksatria tidak memiliki tugas apapun untuknya.


Tiga hari kemudian, Jeanne, Hanna, dan Szymon beserta 300 ksatria lainnya berangkat menuju ke markas bajak laut (?)


__ADS_2