
Di Hari Yang Sama Pada Saat Jeanne Dan Hanna Menyelesaikan Tugasnya
Jean terduduk di pinggir sebuah sungai kecil. Airnya yang bening memantulkan cahaya bulan yang cukup cerah. Suara alirannya membuat tenang siapapun yang mendengarnya. Sesekali, lolongan serigala dan anjing liar bersahut-sahutan.
Jean memegang sebuah pedang. Sama seperti belati yang dia bawa, pedang ini juga istimewa. Sebuah pedang dengan bilah yang tidak umum di benua ini. Kelak, Jean akan mengetahui kalau pedang yang ia genggam disebut sebagai katana.
Pedang ini dia ambil dari alam lain. Pada saat itu, dirinya baru saja berhasil membunuh monster naga raksasa berkepala tujuh. Itu adalah pertarungan yang sangat panjang. Dia butuh waktu tiga bulan di alam itu untuk membuat monster yang ia lawan benar-benar tewas.
Bilah pedangnya yang indah memantulkan cahaya bulan. Atau begitulah seharusnya. Nyatanya, pedang yang ia genggam justru berlumuran dengan darah segar. Begitu juga sekujur tubuhnya. Sungai yang mengalir di depannya memang membuat tenang, tapi air yang awalnya bening, kini berubah menjadi merah darah.
Tidak jauh dari tempat ia bersandar, 50 bandit tanpa nyawa tertumpuk seperti karung. Entah Jean yang beruntung atau para bandit yang apes, mereka saling bertemu ketika Jean mencoba berhenti sejenak untuk bersantai.
__ADS_1
Dari awal, Jean menyadari kehadiran mereka. Namun dia pikir itu hanya penduduk lokal. Kalau bisa, Jean bahkan ingin bertanya satu atau dua hal pada mereka. Siapa yang menyangka kalau yang Jean temui ternyata adalah sekelompok bandit uang membuat sarang di sebuah gua dekat sungai.
Awalnya dia tidak ingin membuat masalah begitu tahu siapa mereka. Sampai pada akhirnya salah seorang dari mereka menyadari kehadiran Jean dan menyerangnya. Gerakan orang itu cukup cepat. Jean yang tidak sempat mengeluarkan pedangnya memutuskan untuk menghancurkan kepala si penyerang menggunakan tinjunya.
Selama beberapa detik, bandit yang menyerangnya merasa superior, hanya untuk mengetahui harapannya hancur bersamaan dengan kepalanya saat terkena tinju Jean.
Kegaduhan yang terjadi di luar membuat bandit yang lain bergegas ke luar gua. Melihat teman mereka yang tewas dengan kondisi yang mengenaskan, para bandit mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka dengan cepat mengepung Jean. Dia bisa merasakan bahwa bandit-bandit ini sangat kuat. Kemungkinan besar mereka adalah veteran yang sangat berpengalaman dan terlatih.
Tanpa tahu apa yang terjadi, mereka kebingungan. Pada saat itu jugalah kepala para Mage terpenggal oleh sebuah pedang yang amat tajam. Saking tajamnya sampai-sampai mereka menyadari bahwa kepala mereka telah terpenggal dan jatuh ke tanah. Mereka merasakan sakit yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya hingga pada akhirnya tewas.
__ADS_1
Para bandit tidak bisa menahan murka mereka ketika melihat rekan Mage mereka mati begitu saja. Seketika, mereka langsung mengeroyok Jean dengan ganas. Namun sayang, bahkan sebelum mereka berhasil mendekati Jean, tubuh para bandit itu terbelah menjadi dua secara horizontal. Gerakan tangan Jean dalam mengayunkan pedangnya jauh lebih cepat dari yang mereka bisa bayangkan.
Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari 30 detik.
"Pada akhirnya, ini semua membosankan."
Mengingat apa yang terjadi tadi, Jean merasa cukup jenuh. Dia berharap kalau pertarungannya dengan para bandit akan sedikit menantang mengingat tingkat kultivasi mereka bahkan telah menyentuh peringkat empat. Bahkan lima.
Jean memutuskan untuk mandi sejenak dan mencuci bajunya yang penuh darah. Ia berjalan menyusuri aliran sungai dan menemukan tempat yang jernih dan tidak ternoda oleh darah. Jean mandi di sana dan sedikit berenang.
Rasa segar memenuhi tubuhnya. Darah yang tertempel di sekujur tubuh dan pakaiannya terangkat dan luruh bersama air yang mengalir. Setelah merasa cukup, dia keluar dari sungai dan melakukan peregangan sejenak. Menggunakan kekuatannya, ia memanipulasi panas dengan mudah dan mengeringkan bajunya.
__ADS_1
"Kalau ada bandit di sini, kemungkinan sepanjang jalur ini adalah jalan utama. Mungkin saja ada beberapa desa dan kota kecil. Aku beruntung jika mengunjunginya salah satunya."
Jean dapat merasakan energi kehidupan manusia yang cukup padat. Analisisnya tidak salah. Setelah menyelesaikan semua urusannya, Jean melanjutkan perjalanannya.