Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Transaksi


__ADS_3

Sementara itu, keesokan hari setelah pertemuan antara raja dan bawahannya di kastil milik Jean dan pertemuan duke Cetner dengan bawahannya di istana ibukota, marquis Fredro memimpin pasukannya untuk menghadang gerak laju pasukan kerajaan Riga-Dnipro. Hal itu karena wilayah-wilayah bangsawan lainnya telah ditundukkan oleh musuh.


Sebenarnya dia telah membantu bangsawan sekitarnya dengan mengirimkan pasukan miliknya. Termasuk suplai senjata, pakaian perang, dan makanan. Namun karena besarnya jumlah pasukan musuh, bantuan yang dia berikan tidak bekerja dengan baik.


Dirinya menimpakan sebagian besar kesalahan pada bangsawan sekitarnya, yang juga sekutunya. Dirinya menganggap mereka tidak becus dalam mengelola bantuan yang telah ia berikan pada mereka. Pada kesimpulannya, dia menilai bahwa sekutunya hanyalah sekelompok pecundang yang pengecut, bodoh, dan tidak dapat diandalkan.


Kesimpulannya tidak salah. Jika mereka melakukan perannya dengan baik, Kerajaan Riga-Dnipro tidak akan mendapatkan keuntungan yang signifikan. Laju mereka akan melambat dan hal tersebut akan memberi waktu bagi marquis Fredro untuk melakukan serangan balik dan memberikan pukulan telak pada lawan.


"Seandainya orang-orang bodoh di ibukota itu juga tidak bertengkar sama sekali. Hahh..."


Marquis Fredro menghembuskan nafas frustasi. Jika bukan karena perebutan kekuasaan, kondisinya tidak akan menjadi runyam. Meskipun kerajaan Riga-Dnipro telah memasang mata pada kerajaan Warsawa, setidaknya mereka tidak akan mengambil tindakan jika situasinya stabil.


Tetapi bukan berarti tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh marquis Fredro. Sekitar dua bulan sebelumnya, seorang pria telah mengingatkan bahwa kerajaan Riga-Dnipro akan menginvasi kerajaan Warsawa. Dia bahkan memberikan informasi berupa posisi penempatan pasukan kerajaan Riga-Dnipro beserta jumlah mereka.


Namun marquis Fredro tidak mengindahkan hal tersebut. Bahkan ketika informasi itu telah dikonfirmasi kebenarannya oleh para mata-mata miliknya, marquis Fredro juga tidak menanggapi dengan baik. Dan inilah yang terjadi sekarang.

__ADS_1


"Aku harap kau tidak mengecewakanku dengan informasi dan janjimu, tuan pedagang."


Gumam marquis Fredro tidak di dengar oleh bawahannya. Mereka fokus mengatur barisan dan formasi pasukan. Memastikan agar kedisiplinan tentara tetap terjaga. Pada saat itulah, seekor burung gagak terbang di atas kepalanya dan mendarat di pundaknya. Awalnya marquis Fredro merasa terganggu. Tapi perhatiannya dengan cepat teralihkan dengan sebuah kertas yang terikat di kaki burung tersebut.


Dengan hati-hati, dia membuka kertas yang mengikat gagak tersebut dan membaca isi dari kertas itu. Sesaat kemudian, senyum terbentuk di bibirnya. Dengan mood yang baik, dia melepas gagak tersebut dan membakar surat itu dengan sihirnya. Meskipun agak terlambat, setidaknya masih ada kabar baik untuknya.


Marquis Fredro akhirnya memutuskan untuk mengistirahatkan pasukannya di sebuah kota kecil yang telah terbengkalai. Meskipun masih banyak rumah yang berdiri, namun para pemiliknya telah meninggalkan tempat ini.


Di era ini, ada banyak penyebab sebuah kota atau desa terbengkalai. Yang paling sering adalah karena serangan kelompok bandit. Mereka menjarah rumah-rumah, mengambil perempuan dan anak-anak untuk dijual sebagai budak, dan dalam banyak kasus membantah seluruh laki-laki yang ada di lokasi tersebut.


Sebagian kecil pasukannya ditempatkan di rumah-rumah yang masih cukup layak untuk ditinggali. Sementara sisanya, harus beristirahat di tenda lapangan. Ketika malam tiba, ia mengajak beberapa bawahannya untuk ikut bersamanya ke sebuah tempat tertentu. Pinggiran kota yang terletak di tepi sungai.


Atas pertanyaan bawahannya, marquis Fredro menggeleng. Dengan menyebarkan energinya, dia telah memastikan tidak ada seorang pun yang berada di tempat ini kecuali mereka. Bahkan marquis Fredro menjadi sedikit was-was. Dia tidak merasakan satupun keberadaan hewan maupun monster. Hanya ada pepohonan, angin malam, cahaya bulan, dan mereka.


"Selamat malam, yang mulia marquis Fredro. Saya sudah menunggu kehadiran anda."

__ADS_1


SHHRRRRIIINGGG!!!!


Marquis Fredro dan bawahannya mengacungkan pedang mereka dengan cepat. Mereka berpikir suara itu datang dari arah belakang mereka. Ternyata tidak. Suara itu datang dari arah sungai. Seorang berpakaian hitam, mulai dari atas kepala hingga ujung kakinya. Dia menaiki sebuah perahu nelayan yang berukuran cukup besar.


Beberapa bawahan marquis Fredro ingin menyerang orang itu, namun ia menahannya. Meskipun dia tidak tahu darimana asalnya orang itu, kemungkinan besar pria itulah yang ia cari.


"Selamat malam.... Tuan. Benarkah kau orang yang dimaksud dalam surat itu?"


Pria itu mengangguk. Dari kapal nelanyannya, dia menaiki daratan. Meskipun para bawahan marquis masih mengacungkan bilah pedang mereka padanya, dia tetap terlihat tenang. Tanpa memedulikan mereka, ia mulai menurunkan muatan dari kapal.


"Seperti yang dijanjikan dalam surat. Ini adalah barang-barang yang anda inginkan. Saya harap anda memberikan sesuai dengan nominal yang telah kita sepakati di awal."


Marquis Fredro mendengus. Dia mengeluarkan sesuatu dari kantung di sadel kudanya dan melemparkannya pada orang itu. Sebuah karung besar yang berisi ratusan bahkan ribuan koin emas.


"Ambil itu. Aku bahkan melebihkannya. Ku harap kau tidak berbohong padaku."

__ADS_1


"Saya selalu memegang janji saya, yang mulia. Tidak usah khawatir, kami juga telah menambahkan bonus untuk anda. Kalau begitu, saya pamit. Salam."


Orang itu kembali menaiki perahunya dan menelusuri aliran sungai. Sementara itu, marquis Fredro menyuruh bawahannya untuk mengangkut semua kargo yang telah sampai di tangannya. Isi dari kargo ini akan menentukan jalannya pertempuran.


__ADS_2