Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Pembunuhan Misterius


__ADS_3

Jeanne dan Hanna bertemu dengan Jean di sebuah bar yang menjadi langganan mereka. Keduanya bersenang-senang dengan Jean. Hanna yang biasanya murung karena masih belum bisa move-on dari kematian temannya, tersenyum banyak malam ini.


Hanna menceritakan kegiatan sehari-hari yang ia lakukan bersama Jeanne pada Jean. Anak itu mendengarkannya dengan antusias. Tanpa kebohongan. Terkadang, ia juga ikut tertawa bersama mereka tanpa menahan diri. Benar-benar malam yang menyenangkan.


Tetapi kesenangan itu tidak bertahan lama. Salah seorang ksatria menerobos bar dan menuju meja yang ketiganya tempati. Dengan nafas tersengal, Ksatria itu membuka mulutnya.


"No-nona Hanna, nona Jeanne! Kepala komandan Ksatria memanggil anda berdua untuk menemuinya sekarang! Ini sangat darurat!"


Hanna dengan sigap berdiri dan meminta maaf pada Jean karena sesuatu yang mendesak. Kalau kepala komandan sudah mengatakan darurat, maka begitulah keadaannya.


"Maafkan kami Jean. Kami tidak bisa mengabaikan panggilan dari komandan."


Jeanne dengan enggan meninggalkan Jean. Meski begitu, Jean memberikan isyarat agar Jeanne segera pergi.

__ADS_1


Dengan pahit, Jeanne pergi meninggalkan Jean bersama dengan Hanna. Dia tidak tahu hal darurat macam apa yang membuat dirinya harus melanggeng pergi ketika bersama adiknya.


Begitu Jeanne dan Hanna meninggalkan bar, Jean menyesap minumannya hingga habis. Karena Jeanne dan Hanna pergi duluan, Jean yang membayar bill mereka. Yah, ujungnya memang sudah bisa ditebak.


Ternyata pemuda itu sudah bergerak. Lebih cepat dari yang Jean bayangkan. Namun ini adalah perkembangan yang menyenangkan. Semakin cepat orang itu bergerak, maka akan semakin menguntungkan untuk Jean.


***


Lebih dari lima belas ordo ksatria kerajaan Warsawa sudah berkumpul di sana, bersama dengan ksatria pribadi milik bangsawan tersebut. Wajah mereka pucat dan lesu. Tubuh mereka bergetar.


Salah seorang dari mereka membimbing Jeanne dan Hanna menuju ke lokasi lain. Keduanya sudah memilih firasat. Benar saja, saat mereka melihat kondisi yang sebenarnya, ekspresi pahit muncul.


Sebuah keluarga Baron yang cukup terkenal di ibukota tewas. Mereka dibantai dengan sadis. Rumah mereka dimasuki penyusup dan membunuh satu keluarga. Termasuk dua orang anak perempuan dan seorang remaja laki-laki.

__ADS_1


"Kemana para ksatria yang seharusnya menjaga para bangsawan? Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Hah.... Mereka tidak bisa melakukan apapun selain memakan gaji buta."


Gumam Hanna bisa terdengar oleh yang lain. Beberapa ksatria yang ditugaskan untuk menjaga lingkungan bangsawan terlihat marah. Namun, mereka tidak bisa melakukan apapun. Yang Hanna katakan benar-benar memukul paku di kepala.


"Mulai sekarang, penyelidikan ini akan diambil alih oleh ordo Ksatria kerajaan. Pihak lain tidak akan diizinkan untuk ikut campur. Kami juga akan mempertimbangkan sanksi kepada mereka yang lalai dalam tugasnya."


Kalimat Jeanne menyentak orang-orang yang semestinya bertanggung jawab. Ini tidak main-main. Hukuman yang mereka akan terima biasanya sangat serius dan berat.


Mengabaikan para ksatria yang tidak bertanggung jawab, Hanna dan Jeanne melakukan penyelidik dengan lebih dalam. Sayangnya, tidak ada petunjuk yang bisa mereka dapatkan.


"Sia-sia Jeanne. Meski pembunuhan ini sangat kotor, pelakunya bisa melenggang begitu saja tanpa meninggalkan jejak apapun. Kita harus menyerahkan penyelidikan ini pada otoritas kerajaan."


Jeanne mengangguk. Hanna benar. Ini bukan kasus yang bisa ordo ksatria selesaikan. Untungnya, pihak kerajaan tidak perlu menjadikan ordo ksatria kerajaan sebagai kambing hitam dari kasus ini.

__ADS_1


__ADS_2