Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Reading Fate


__ADS_3

Ketika masalah yang selama ini terpendam mulai timbul ke permukaan di Krakov City, hal yang sebaliknya terjadi di berbagai wilayah kerajaan Warsawa. Setidaknya, sejauh ini suasana masih begitu tenang.


Meskipun ada banyak kejanggalan yang terjadi, berita itu tidak pernah sampai ke ibukota karena jaraknya yang jauh. Kalaupun sampai berhasil ke sana, tidak ada yang peduli sama sekali.


Iring-iringan ksatria yang berangkat dari Krakov City terus berjalan menyusuri hutan yang rimbun. Ada jalan raya yang cukup besar dan biasa digunakan. Tetapi berdasarkan laporan yang mereka terima dari penduduk sekitar, aktivitas monster akhir-akhir ini meningkat.


Masih ada 11 hari lagi untuk sampai ke perbatasan. Hingga saat itu tiba, seharusnya para ksatria harus menjaga tenaga. Namun, seringkali monster-monster berbahaya menyergap mereka.


"Hanna, Karina! Aku akan mengurus lima monster yang ada di depan! Kalian ambil yang di sana! Pastikan agar mereka tidak menghancurkan perbekalan kita!"


Pedang yang Jeanne genggam terbakar oleh api nan berkobar. Sebelum monster serigala yang ada di depannya memutuskan untuk menyerang, ia mengambilnya tindakan terlebih dahulu.


Jeanne menebas serigala pertama yang paling ada di dekatnya. Tanpa sempat merespon, serigala tersebut langsung mati begitu bilah pedang yang terbakar mengenai tubuhnya.


Tetapi kesempatan tersebut dimanfaatkan serigala kedua dan ketiga untuk menyerang celah yang dibuka oleh Jeanne. Sayangnya bagi mereka, itulah rencananya.


Ketika kedua serigala tersebut melompat secara bersamaan untuk menerjang punggung Jeanne, pedangnya bergerak lebih cepat, membelah serigala kedua dan serigala ketiga menjadi dua bagian secara bersamaan.


Tapi pertarungan belum selesai. Dua babi hutan dari sisi kanan dan sisi kirinya berlari untuk menanduk Jeanne. Mereka sangat kencang. Tetapi, begitu kedua babi hutan itu ingin menyeruduk Jeanne, dirinya melompat hingga kedua babi itu bertabrakan satu sama lain.


Jeanne berhasil mengeliminasi monster yang mencegatnya. Karina dan Hanna juga sudah selesai. Mereka berhasil membunuh monster yang mengincar perbekalan dan prajurit yang terluka.

__ADS_1


"Kerja bagus Jeanne, Hanna. Ngomong-ngomong, aku terkesan denganmu, Jeanne. Kamu semakin kuat setiap harinya."


Jeanne tersenyum. Itu adalah senyum tulus yang jarang sekali dia perlihatkan.


"Terimakasih, Karina. Kamu juga semakin kuat. Aku rasa kita semakin berkembang setiap harinya kan? Fufufu."


Hanna dan Karina juga tertawa kecil. Mereka benar-benar sahabat dekat. Setelah mengobrol sejenak, Hanna tiba-tiba memicingkan matanya, lalu mendecakan lidahnya. Dia marah.


"Di mana si bodoh Krzys itu, hah!? Dia selalu saja merepotkan tim! Beban tidak berguna!"


Hanna menggertakan giginya dan mencari Szymon Krzys. Karina dan Jeanne memutuskan untuk berjaga. Ternyata Szymon berada tidak jauh dari rombongan. Dia sedang menghadapi monster burung dengan penuh emosi.


"Menyingkir dariku, monster tengik! Sial! Kenapa ksatria sepertiku harus berhadapan dengan monster merepotkan seperti ini!!"


Hanna datang dan menembakan tiga kristal es yang berasal dari bilahnya. Masing-masing kristal es tersebut mengenai titik lemah para monster dan mereka tewas.


"Kau mengganggu, Otylia! Mereka adalah mangsaku!"


Hanna mengacuhkan Szymon. Berdebar dengannya hanya menghabiskan waktu dan umur. Dia segera kembali ke rombongan dan melihat Jeanne dan Karina sedang mengobati ksatria yang terluka.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan, Karina, Jeanne. Letakan saja mereka yang terluka di dalam gerobak. Tidak lama lagi, kita akan sampai ke kota terdekat."

__ADS_1


Hanna sudah pernah pergi ke perbatasan, jadi ia telah memahami banyak titik yang bisa disanggahi. Kalau semuanya berjalan lancar, mereka akan sampai di kota terdekat dalam waktu tiga jam.


Tanpa menghabiskan banyak waktu, empat kapten ksatria dan 80 Ksatria lainnya melanjutkan perjalanan mereka. Semakin cepat mereka sampai, semakin baik.


***


'Begitu ya? Syukurlah kakak baik-baik saja. Dia juga bertambah kuat setiap harinya. Kakak jelas sangat berbakat, seperti bunda.'


Jauh di pinggiran ibukota kerajaan Warsawa, Krakov, Jean mengawasi kakak perempuannya dengan [Horus Eyes]. Sejauh ini dia tidak berniat ikut campur. Itu karena ia percaya dengan kemampuan yang kakaknya miliki.


Sahabat kakaknya, Hanna dan Karina juga baik-baik saja. Dia pernah mengobrol dengan Karina saat memakai identitas Ulrich, tetapi dia belum mengenal Hanna sama sekali.


Sembari mengawasi Jeanne dari jauh, dia mencari semua hal yang berkaitan dengan Hanna Otylia. Teknik [Horus Eyes] bersifat paralel. Ketika Jean mengawasi Jeanne, dia juga bisa mencari informasi tentang Hanna Otylia.


Kemampuan [Horus Eye] juga bisa membaca takdir. Jean melihat semua kilas balik Hanna Otylia semenjak ia lahir hingga sekarang. Seperti yang dikatakan sebelumnya, tidak ada yang bisa lari dari mata ini. Jean dapat mengetahui masa lalu, semua isi pikiran Hanna dan rahasia yang ia sembunyikan jauh di dalam hatinya.


Selesai. Semua informasi mengenai Hanna sudah ia dapatkan. Tetapi ada satu hal lagi yang membuatnya tertarik. Szymon Krzys. Sama seperti apa yang Jean lakukan pada Hanna, dia membaca takdir Szymon Krzys, menonton kilas balik hidupnya, dan mengulik isi hati dan rahasia terdalamnya.


Seringai lebar muncul di bibir Jean. Seperti yang dia pikirkan, ternyata memang benar kalau Szymon Krzys adalah sosok yang istimewa. Tentu saja, Szymon bukan satu-satunya sosok istimewa. Jean menyadari masih ada orang lain yang seperti dia. Justru itulah yang membuat semuanya semakin menarik.


'Kehancuran semakin mendekat dan kebangkitan kembali akan segera tiba. Darah-darah akan tumpah ke jalanan, dan melahirkan tunas-tunas kehidupan baru nan berharga. Sekarang, tunjukan kepadaku wahai takdir, dunia, dan semesta. Kemana kalian akan membawa langkah kalian.'

__ADS_1


Jean menutup matanya dan menjentikan jarinya. [Horus Eyes] dinonaktifkan dan ia beranjak dari tempat tidurnya. Ada yang harus ia lakukan malam ini.


__ADS_2