Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Wicked Plan


__ADS_3

Kalina merasa bimbang. Kekhawatiran terukir jelas di raut mukanya. Matanya berkeliling kesana-kemari. Dia tidak fokus dalam pelajarannya. Semua yang Ulrich katakan tidak ia dengar. Raganya memang ada ruang belajarnya, tetapi pikirannya melayang entah kemana.


Sebagai gurunya, Jean atau dalam momen ini mari kita panggil Ulrich, mengerti keresahan yang sedang menghantui muridnya. Karena itu, ia berhenti sejenak dari aktivitas mengajarnya.


"Maaf atas kekurangajaran saya, nona muda. Tetapi bolehkah saya mengetahui apa yang membuat anda gelisah? Sedari tadi, saya menyadari anda tidak fokus dalam belajar."


Kalina merasa tidak perlu menjawab pertanyaan Ulrich, jadi ia tetap diam. Ulrich juga tidak berniat untuk mengejar lagi. Dia memutuskan untuk berhenti bertanya.


"Saya rasa pelajaran memang perlu diakhiri sampai sini saja. Jika anda memiliki pertanyaan mengenai apa yang kita pelajari hari ini, tolong catat. Kita akan membahasnya bersama-sama besok."


Sambil mengatakan itu, Ulrich membereskan semua barang-barangnya dan memasukannya ke dalam tas kulit kusam. Bersiap untuk mengakhiri sesi belajar hari ini.


Ini bukan karena dirinya emosi atau terbawa perasaan. Ulrich hanya tidak mau situasi belajar menjadi tidak kondusif. Apalagi dengan Kalina yang sedang tidak mood untuk belajar.


Saat ia ingin pergi, bagian bawah bajunya ditarik. Oleh Kalina. Wajahnya seperti sedang menuntut sesuatu pada Ulrich.


"Hadiah....."


"Mmmmm, ada apa nona muda? Saya tidak bisa mendengar anda."


"Di mana hadiahku untuk hari ini, Ulrich! Kenapa kau langsung pulang tanpa menepati janjimu terlebih dahulu!"


Ah! Ulrich menepuk jidatnya. Dia benar-benar lupa. Agar Kalina menurut dan bersemangat ketika belajar, Kalina membuat perjanjian dengan Ulrich.

__ADS_1


Pertama, jika Kalina dengan sukarela mengikuti sesi belajar dalam satu hari, maka di akhir sesi, Ulrich akan memberinya hadiah.


Kedua, jika Kalina bisa menjawab kuis yang diberikan oleh Ulrich, maka hadiah yang di dapatkan pada hari itu akan ditambah sebanyak dua kali lipat.


Ketiga, akan ada ujian di setiap minggunya. Jika Kalina bisa mendapatkan nilai di atas standar yang telah ditentukan oleh Ulrich, maka hadiah tersebut akan digandakan sebanyak 10 kali lipat.


Dengan senyum masam, Jean mengeluarkan sesuatu dari tas kulitnya. Itu adalah sebuah benda persegi yang dibungkus oleh kain. Dengan mata yang berbinar, Kalina meraih benda itu dan membuka bungkusnya. Itu adalah coklat dibaluri stroberi sebagai toppingnya.


Kalina langsung melahapnya tanpa berpikir dua kali. Keresahan yang dari tadi ia alami benar-benar hilang, seolah itu adalah sebuah kebohongan.


Melihat itu, Ulrich tidak menahan keinginannya untuk mengusap rambut ungu cantik nan lembut milik Kalina. Gadis itu terlihat nyaman. Barulah ketika coklat tersebut habis, ia menyadari kalau Ulrich sedang mengusap rambutnya dan ia segera menjauh.


"Jangan sentuh kepalaku seenak jidat, dasar jelata rendahan!"


"Maafkan kelancangan saya, nona muda."


Ulrich lalu menyert bangkunya dan duduk di hadapan Kalina. Ini memang tidak sopan mengingat Kalina adalah bangsawan. Tetapi bagi Ulrich, ini diperlukan.


"Maaf atas ketidaksopanan saya, nona muda. Tapi bolehkah saya mengetahui apa yang membuat nona muda cemas?"


Kalina terdiam. Ia bingung apakah harus menceritakan atau tidak. Pada akhirnya, Kalina lebih memilih untuk mengungkapnya daripada dia pendam.


Kakaknya perempuannya, Karina Lesko yang berusia 18 tahun, diberikan misi untuk pergi ke perbatasan antara kerajaan Warsawa dan Principality of Danzig. Dirinya mengatakan itu kepada keluarganya pada saat makan malam beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Dia adalah seorang ksatria dan pergi jauh untuk melakukan ekspedisi adalah hal yang biasa. Tetapi bahkan, Kalina mengerti bahwa perbatasan adalah tempat yang sangat berbahaya. Di pisahkan oleh hutan yang lebat dan padat akan vegetasi, di dalamnya ada banyak monster mengerikan yang belum diklasifikasi.


Ini membuat keluarganya resah, tetapi Karina jauh lebih resah. Karina adalah kakak yang paling dekat dengan Kalina dibanding dengan kakaknya yang lain. Kekhawatiran ini adalah hal yang wajar.


Kalina menjadi lega. Melihat Ulrich yang ikut mengkhawatirkan dirinya, Kalina merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Count Lesko memang tidak bisa melakukan apapun untuk membatalkan misi ini. Apalagi Ulrich. Tetapi setidaknya, ia merasakan beban terangkat ketika berbagai cerita dengan Ulrich.


"Nona muda, untuk mengurangi keresahan anda, bagaimana jika kita belajar di luar. Saya dengar di luar tembok kota tempat para bangsawan tinggal, ada taman yang indah kan? Mari kita belajar di sana untuk menyegarkan diri. Saya akan membuatkan surat izin untuk anda."


Kalina mengangguk tanpa berpikir dua kali. Itu akan menyenangkan! Dia jarang keluar dan ini akan menjadi momen yang langka untuk dirinya. Dia menjadi tidak sabar untuk menunggu hal itu.


***


Perbatasan kerajaan Warsawa dan Principality of Danzig. Malam yang sama ketika Ulrich pulang dari kediaman Count Lesko.


Malam itu, Jauh di dalam hutan yang lebat dan lembab, lima orang yang mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuh mereka berdiri mengelilingi sebuah lingkaran besar.


Di atas lingkaran tersebut, ada seribu mayat yang bertumpuk-tumpuk seperti gunung. Laki-laki dan wanita, tua dan muda. Mereka semua tewas dengan luka sayatan di leher.


Salah satu dari kelima orang itu mengangkat tangannya dan berkomat-kamit mengucapkan sesuatu. Tidak lama kemudian, lingkaran tersebut bersinar terang dan bumi berguncang. Dari dalamnya, ratusan monster raksasa humaniora muncul.


Kelima orang tersebut dengan cepat meninggalkan hutan dengan sihir teleportasi. Monster yang muncul dari lingkaran itu langsung meraung dengan kencang. Raungan mereka menghancurkan lingkungan yang ada di sekitar mereka.


"Misi berhasil. Mari laporkan hal ini kepada atasan kita."

__ADS_1


Mereka semua mengangguk. Mereka telah menuntaskan misi yang mereka terima. Sisanya hanya menunggu ketika waktunya tiba.


__ADS_2