
Tubuh Jean ditarik ke kanan dan kiri. Pelakunya? Dua tuan putri kecilnya, Elyse dan Elsie. Yang satu ingin ke toko yang menjual berbagai produk roti yang kelihatannya lezat, sementara yang satu lagi ingin ke toko yang menjual berbagai boneka.
"Kakak, lihat boneka-boneka lucu itu, ayo kita ke sana!"
"Tidak mau! Aku mau roti manis! Ayo ke sana, kakak!"
*Menghela nafas*
Sudah biasa untuk keduanya ribut seperti ini. Meski lebih sering rukun, pertengkaran semacam ini sesekali terjadi. Menggemaskan melihat mereka berdua selayaknya saudara kembar pada umumnya.
Namun Jean harus segera mendamaikan keduanya dengan memilih jalan tengah, sambil mengelus kepala mereka, Jean memilih untuk ke toko roti terlebih dahulu lalu pergi ke toko boneka.
"Ayo kita beli camilan di toko roti dulu. Setelah itu, kita akan melihat berbagai jenis boneka. Setuju?"
Untunglah, Elyse dan Elsie setuju. Memang, mereka sudah makan. Tapi anak kecil mana yang tahan melihat kue manis? Nyatanya, entah itu Elyse maupun Elsie sangat senang ketika mereka melihat aneka roti yang dijual. Bahkan paman pemilik toko sangat ramah.
Dia dan istrinya yang memasak roti-roti ini memberikan diskon kepada Elyse dan Elsie hingga sepertiga harga asli. Elyse memilih sebuah waffle yang diisi oleh saus strawberry. Elsie memilih roti panggang yang dibalur oleh coklat dan kacang-kacangan.
Sekarang, waktunya ke toko yang menjual berbagai boneka. Antusiasme mereka sama dengan ketika pergi ke toko roti. Melihat mainan dengan berbagai bentuk dan ukuran tersebut membuat suasana hati mereka semakin baik.
"Sekarang, pilihlah sesuka kalian. Kalau sudah, bawa ke bibi yang di sana. Aku akan menunggu dari sana, baik?"
Elyse dan Elsie mengangguk. Mereka lalu pergi ke rak tempat boneka-boneka dipajang. Sementara Jean, dia pergi menuju bibi yang menjadi kasir di toko ini.
"Ah, nak. Ada yang bisa aku bantu? Mungkinkah kamu mencari mainan dengan spesifikasi tertentu? Kalau iya, aku bisa membantumu."
Jean menggeleng sambil tersenyum ramah. Ia menunjuk ke arah si kembar yang sedang asyik memilih sambil mengatakan biarkan mereka memilih sendiri. Sang bibi yang melihat betapa menggemaskan dan cantiknya dua gadis tersebut mengangguk sambil tersenyum.
"Hmmmm, kalau aku boleh bertanya bibi, aku lihat jalanan tidak seramai biasanya. Padahal ini hari sibuk kan? Seharusnya kota lebih ramai hari ini."
Bibi penjaga sekaligus pemilik toko menghela nafas. Dia mengatakan kalau akhir-akhir ini, kasus pencurian dan pembunuhan marak terjadi. Begitu juga dengan kasus orang-orang hilang secara mendadak.
__ADS_1
"Masalahnya, semua perbuatan keji itu tidak hanya terjadi di malam hari. Bahkan di siang bolong pun, ada orang yang secara terang-terangan membunuh seseorang lalu pergi begitu saja."
Jean mengangguk. Begitulah, jika keamanan mereka tidak terjamin, maka penduduk enggan keluar dari rumah mereka. Tapi Jean langsung menyadari bahwa tidak lama lagi, rumah yang selama ini menjadi tempat mereka bernaung tak akan lagi aman.
"Ngomong-ngomong.... Apakah para korban memiliki... Semacam, ciri tertentu? Ah maaf, aku hanya takut kalau pembunuhan ini menargetkan anak-anak. Aku harus memastikan kemanan si kembar."
Bibi pemilik toko menggeleng. Dia memahami kekhawatiran pemuda ini. Karenanya ia tidak keberatan untuk memberikan informasi ini.
"Nyatanya kau tidak hanya harus memastikan keamanan mereka saja nak. Kau juga harus memastikan kemananmu sendiri. Target pembunuhan ini sangat acak. Orang tua, anak-anak, pemuda, lelaki dan perempuan.
"Tetapi, ada satu ciri khas pada mayat yang ditemukan. Konon katanya, tubuh mereka kurus kering dan sangat pucat, seolah-olah darah mereka dihisap habis oleh sesuatu. Aku tidak tahu kebenarannya. Tetapi, mungkin saja itu valid."
Jean mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Kebetulan, Elyse dan Elsie selesai memilih Boneka mereka. Ia memberikannya kepada sang bibi dan membayarnya.
"Hei nak, ini terlalu banyak. Totalnya hanya 50 koin perak dan kau membayar hutang dengan satu koin emas."
"Tidak apa-apa bibi. Anggap saja itu adalah ucapan terimakasih untuk informasi yang kau berikan. Yah, mungkin itu tidak cukup. Tapi aku pikir, itu akan bermanfaat."
***
Setelah Jean dan kedua saudari kembar pergi dari tokonya, sang pemilik memastikan ketiganya telah berada jauh dari toko miliknya. Untung saja, mereka sudah tidak lagi terlihat.
Sang bibi langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu toko. Dia lalu pergi mengambil sesuatu di dalam laci rak. Itu adalah sebuah tablet batu berukuran 20×30 centimeter. Dia menuangkan energi miliknya ke sana dan ukiran yang terlukis di tablet itu bersinar.
"Seorang pemuda sedang mengulik informasi tentang keanehan yang terjadi. Anda harus segera mengambil tindakan tuan atau anak muda itu bisa saja mengacaukan rencana kita."
Wanita itu lalu memberikan ciri-ciri pemuda dan kedua saudari kembar yang dia bawa bersamanya. Tindakan yang ia maksud jelas, membunuh pemuda itu dan dua anak kembar. Wanita itu sengaja tidak membunuh mereka karena akan sangat mencolok. Tugas untuk menyingkirkan orang yang akan menghalangi rencana mereka ada di tangan 'Eksekutor'.
Setelah selesai, dia menunggu balasan. Namun sayangnya, tidak ada suara dari seberang sana. Wanita itu lalu menyadari bahwa tablet tersebut telah dirusak oleh seseorang!
Namun terlambat. Tiba-tiba, koin emas yang diberikan oleh pemuda tadi yang ia simpan di dalam sakunya bersinar dengan cahaya keemasan, lalu......
__ADS_1
BLLLLAAAARRRRR!!!
***
BLLLLLLAAAAARRRR!!!
Suara ledakan yang besar memekakan telinga orang-orang yang berjalan di kota. Sumber ledakan tersebut berasal dari sebuah toko boneka yang cukup terkenal di Krakov city.
Api berkobar melahap toko tersebut. Asap mengepul dari sana, membumbung tinggi ke langit. Beberapa orang yang lewat menjadi korban namun tidak tewas. Mereka hanya luka karena terpental.
'Hmmm, sudah meledak kah? Cepat sekali.'
Koin emas yang Jean berikan pada wanita itu telah ia suntikan energi miliknya. Dia juga memasang semacam timer. Koin itu akan meledak jika sang bibi membocorkan pembicaraan dirinya dengan bibi pemilik toko ke pihak lain.
Sedari awal, ketika masuk ke toko boneka, dia telah merasa ada hal yang mencurigakan. Ia mengaktifkannya salah satu teknik miliknya, [Horus Eyes], untuk memindai seluruh isi toko.
Benar saja, ia menemukan sebuah artefak komunikasi yang sangat berharga. Bahkan sangat sedikit bangsawan yang memiliki hal itu. Pemilik toko ini jelas bukan sembarang orang.
Saat mengobrol dengan pemilik toko, ia juga menggunakan [Horus Eyes] untuk mengungkap dalang di balik semua keanehan tersebut. Dia menahan senyumnya selama berbicara dengan sang bibi. Barulah sekarang, dia sedikit tersenyum.
Jean mengetahui dengan pasti kenapa mayat yang ditemukan terlihat kurus kering dan pucat seolah-olah darah mereka dihisap hingga benar-benar habis.
Jean juga sudah mengetahui siapa dalang di balik kejadian ini. Namun, ia tidak menghentikannya. Hal yang paling menyenangkan justru baru saja dimulai.
Ngomong-ngomong, [Horus Eyes] adalah sebuah teknik penglihatan yang dia ciptakan dan sempurnakan selama ratusan ribu tahun di kehidupan lamanya. Mata yang bisa melihat segalanya. Mata yang dapat mengungkap semua misteri yang menyelimuti. Mata yang dapat menyingkap semua tabir hukum dan logika di balik semesta.
Jangkauan penglihatannya tak terbatas dan tiada satupun entitas yang bisa bersembunyi dari pandangannya. Bahkan kata kuat tidak pantas dijadikan predikat untuk teknik ini.
Ups, Elyse dan Elsie yang menyadari asal ledakan tersebut memeluk perut Jean. Jean tersenyum dan mencium ubun-ubun keduanya dan mengelus kepala mereka dengan penuh kasih sayang.
"Tenang saja, tidak akan yang bisa membahayakan kalian, tuan putri kecilku."
__ADS_1
Jean memutuskan untuk membawa keduanya kembali pulang.