
Saya bingung mau nulis apa. Hari ini spesial Slice of life
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mata Jean terbuka ketika proses kultivasinya selesai. Seperti yang pernah dikatakan, semakin hari, dari waktu ke waktu, Jean akan bertambah kuat secara alamiah, bahkan tanpa berkultivasi sekalipun.
Namun kultivasi mempercepat proses penguatan dirinya berkali-kali lipat lebih cepat. Kultivasi juga mempercepat pemulihan jiwanya yang terluka.
Sekarang, proses pemulihan jiwa setidaknya telah mencapai angka 80 persen. Untuk kultivasi, agak sulit menjelaskannya. Tapi jika didasarkan pada hukum dan logika dunia ini, maka kultivasi Jean berada di tahap [Heavenly realm] rank 7.
Dengan kata lain, Jean sangat kuat. Bahkan makhluk yang disebut dewa atau dewi sekalipun sangat kesulitan untuk menembus [Heavenly realm] rank 5. Keberadaan Jean sendiri cukup untuk menghancurkan dunia dengan mudahnya.
Jean meregangkan badannya yang sedikit kaku. Pagi ini agak dingin. Mandi air hangat akan terasa sangat segar. Jean pergi ke kamar mandi dan berdiri di depan bak kayu besar. Tiba-tiba, ruang seolah terdistorsi dan air muncul dari sana, mengalir deras mengisi bak hingga penuh.
Setelahnya, ruang yang tadi terdistorsi kembali seperti semula seolah tidak terjadi apapun. Jean meniupkan air di dalam bak. Saat itu juga, air menjadi panas. Uap keluar dari sana dan busa menggelegak.
"Hahhh..... Nikmatnya! Tidak peduli di kehidupan manapun, mandi air panas di pagi hari tidak pernah salah!"
__ADS_1
Jean bersenandung sembari bersenang-senang di dalam bak. Bebek karet tiba-tiba muncul di depannya, bersamaan dengan sebuah perahu kertas. Keringat dan kotoran yang menempel di kulitnya terangkat.
Dia ingin usil sesekali. Jean mengangkat tiga jari tangan kanannya dan api berwarna emas, air berwarna biru jernih, dan gumpalan tornado kecil berwarna hijau terwujud.
Jean lalu mengubah api kecil berwarna emas itu menjadi berbagai jenis burung, air biru jernih menjadi berbagai jenis ikan, dan tornado kecil menjadi berbagai jenis kupu-kupu.
Mereka semua berterbangan di atas kepala Jean. Sesekali hinggap di atas kepalanya. Mungkin jika orang lain melihat, ia akan dicibir sebagai anak kecil.
Tapi hei, kenapa juga harus peduli? Puncak tertinggi kenikmatan hidup adalah ketika kau bisa menjalani hidup tanpa harus mendengar apa kata orang.
Kakek Henryk dan nenek Alija sudah bangun. Nenek Alija sedang menyiapkannya sarapan sementara kakek Henryk sedang keluar rumah. Dengan senyum sopan, Jean menyapa nenek Alija yang sedang memasak. Ia menawarkan bantuan tetapi nenek bilang tidak usah.
Sebagai gantinya, Jean pergi untuk membangunkan si kembar. Mereka sedang tertidur pulas dan berpelukan satu sama lain. Jean membuka jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam kamar.
Gaun malam yang digunakan Elsie merosot, jadi Jean membetulkannya. Dia meletakan jari telunjuknya ke dahi mereka dan mentransfer energi miliknya ke dalam tubuh Elyse dan Elsie.
Energi yang ada di dalam tubuh Jean istimewa. Selain memberikan kehangatan, dalam jumlah yang pas, energi tubuh itu akan menstimulus organ internal si kembar dan mempermudah proses kultivasi keduanya.
__ADS_1
"Selamat pagi, tuan putri. Bangun. Nenek Alija sudah menyiapkan air hangat untuk mandi. Sarapan juga sudah terhidang."
Elyse perlahan membuka matanya, diikuti oleh Elsie. Jean mengecup kening mereka lalu mengelus rambut halus mereka. Elyse dan Elsie tersenyum. Mereka bangkit dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi.
Durasi mandi keduanya tidak lama. Begitu selesai, mereka memakai baju yang Jean bawakan untuk mereka dan pergi ke ruang makan. Nenek Alija sudah menunggu.
"Elyse, Elise, mau ikut jalan-jalan di kota bersamaku hari ini?"
Pandangan mereka teralihkan dari makanan ke kalimat Jean. Jalan-jalan bersamanya? Mereka ingin ikut! Tetapi hari ini, mereka harus berlatih bersama nenek Alija. Menyadari apa yang mereka pikirkan, nenek Alija tersenyum.
"Ikutlah, kalian tidak perlu berlatih hari ini. Pastikan untuk bersenang-senang, ya?"
""Terimakasih nenek Alija!""
Jean tersenyum dan mengucapkan terimakasih dengan gestur tubuhnya. Nenek Alija balas tersenyum seolah mengatakan, 'santai saja.'
Hari ini, Jean akan mengabiskan waktu liburnya bersama dengan kedua putri kecilnya di kota Krakov.
__ADS_1