Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Deadly Battle (1)


__ADS_3

Vichy terpaksa mengirimkan unit pengintai untuk terus mengawasi pergerakan kerajaan Dublin. Karena para penyihir dalam kelompoknya telah mati, Vichy mau tidak mau harus melakukan hal ini.


Sebisa mungkin, dia ingin menghindari bentrokan yang tidak perlu dengan pasukan kerajaan Dublin.


Dari rumah gubuk yang menjadi pusat komandonya, Vichy tetap menerima laporan dari unit pengintai yang kembali. Syukurlah mereka kembali. Dia ingin menyimpan tenaganya sebanyak yang dia bisa.


"Apakah pemimpin mereka tidak mengirimkan satupun pengintai? Apakah ada maksud tertentu dari tindakan ini? Tapi apa?"


Vichy menyimpulkan dua hal. Yang pertama pemimpin mereka memang memiliki rencana di balik tindakannya. atau yang kedua, pemimpin mereka adalah orang bodoh yang tidak pernah terjun sama sekali ke Medan perang.


"Bos, tim ketiga dan keempat yang anda kirim belum kembali. Ini lebih lama dari yang seharusnya."


Kekhawatiran timbul di kepala Vichy. Tim empat dan tiga terdiri dari masing-masing 20 orang per tim. Kalau semuanya tidak ada yang kembali, berarti dia telah kehilangan 40 prajuritnya.


Vichy menjadi emosional. Dia menendang kursi yang tadi dia duduki dan menggebrak meja. Kalau sampai dia gagal dalam misi ini, maka reputasinya akan turun dan tidak ada lagi yang ingin menggunakan jasanya!


"Kalau begitu, tunggu mereka untuk sampai ke tempat ini! Begitu mereka datang, serang semuanya dengan serempak! Bunuh mereka sebanyak yang kau bisa!!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pedang Jean penuh dengan darah. Dia baru saja selesai menginterogasi unit pengintai musuh yang telah dia tangkap lalu membunuh mereka semua setelah memeras semua informasi dari mereka.


Seperti biasa, Jean mengirim utusan untuk kepada pangeran Hans untuk memberitahukan hal ini. Responnya sudah bisa ditebak, pangeran Hans, Greg Cassilas, dan Hansen Baldric tidak memedulikannya.


"Maafkan saya tuan Jean. Tetapi setiap kali saya mengirimkan pesan yang anda sampaikan pada mereka, tidak ada satupun yang bereaksi dengan baik."


Sang utusan terlihat menyesal. Dia merasa bersalah karena merasa tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Tetapi Jean tertawa dan tidak menyalahkan dia.


"Tidak usah khawatir. Menerima atau tidak, itu adalah urusan mereka. Yang harus kita lakukan adalah memastikan bahwa kita mendapatkan potongan 'kue' paling besar."


Jean tidak peduli dengan nasib pangeran, para bangsawan, dan para pedagang. Selama dia dan pasukannya berhasil mencapai tujuan mereka, sisanya bukan urusan Jean.


Perjalanan terus berlanjut. 500 meter, 200 meter, 100 meter. Begitu parade pasukan kerajaan Dublin telah memasuki jangkauan, secara tiba-tiba, ratusan panah berterbangan ke arah mereka.


"KITA DISERANG!! AMBIL POSISI BERLINDUNG!!"


Para Ksatria berusaha melindungi tuan dan diri mereka dari serbuan anak panah. Mereka diperlengkapi dengan armor dan perisai besi, jadi tidak banyak korban yang jatuh di pihak mereka.


Yang menjadi masalah adalah kumpulan rakyat jelata yang tidak terlindungi dengan baik. Mereka hanya mengenakan kain kasar dan senjata yang telah rompal di tangan mereka. Tanpa perisai ataupun zirah. Alhasil, banyak dari mereka yang tewas karena serangan panah tersebut.

__ADS_1


Serangan anak panah terus berlanjut dalam tiga gelombang. Begitu serangan berakhir, para ksatria dan tentara bayaran yang melindungi tuan dan penyewa mereka bisa sedikit bernafas lega.


Tapi itu belum berakhir, karena dari balik vegetasi yang lebat, musuh keluar dan menyerbu mereka secara mendadak! Gesekan yang mematikan segera terjadi!


Vichy terpaksa mengirimkan unit pengintai untuk terus mengawasi pergerakan kerajaan Dublin. Karena para penyihir dalam kelompoknya telah mati, Vichy mau tidak mau harus melakukan hal ini.


Sebisa mungkin, dia ingin menghindari bentrokan yang tidak perlu dengan pasukan kerajaan Dublin.


Dari rumah gubuk yang menjadi pusat komandonya, Vichy tetap menerima laporan dari unit pengintai yang kembali. Syukurlah mereka kembali. Dia ingin menyimpan tenaganya sebanyak yang dia bisa.


"Apakah pemimpin mereka tidak mengirimkan satupun pengintai? Apakah ada maksud tertentu dari tindakan ini? Tapi apa?"


Vichy menyimpulkan dua hal. Yang pertama pemimpin mereka memang memiliki rencana di balik tindakannya. atau yang kedua, pemimpin mereka adalah orang bodoh yang tidak pernah terjun sama sekali ke Medan perang.


"Bos, tim ketiga dan keempat yang anda kirim belum kembali. Ini lebih lama dari yang seharusnya."


Kekhawatiran timbul di kepala Vichy. Tim empat dan tiga terdiri dari masing-masing 20 orang per tim. Kalau semuanya tidak ada yang kembali, berarti dia telah kehilangan 40 prajuritnya.


Vichy menjadi emosional. Dia menendang kursi yang tadi dia duduki dan menggebrak meja. Kalau sampai dia gagal dalam misi ini, maka reputasinya akan turun dan tidak ada lagi yang ingin menggunakan jasanya!


"Kalau begitu, tunggu mereka untuk sampai ke tempat ini! Begitu mereka datang, serang semuanya dengan serempak! Bunuh mereka sebanyak yang kau bisa!!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pedang Jean penuh dengan darah. Dia baru saja selesai menginterogasi unit pengintai musuh yang telah dia tangkap lalu membunuh mereka semua setelah memeras semua informasi dari mereka.


Seperti biasa, Jean mengirim utusan untuk kepada pangeran Hans untuk memberitahukan hal ini. Responnya sudah bisa ditebak, pangeran Hans, Greg Cassilas, dan Hansen Baldric tidak memedulikannya.


"Maafkan saya tuan Jean. Tetapi setiap kali saya mengirimkan pesan yang anda sampaikan pada mereka, tidak ada satupun yang bereaksi dengan baik."


Sang utusan terlihat menyesal. Dia merasa bersalah karena merasa tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Tetapi Jean tertawa dan tidak menyalahkan dia.


"Tidak usah khawatir. Menerima atau tidak, itu adalah urusan mereka. Yang harus kita lakukan adalah memastikan bahwa kita mendapatkan potongan 'kue' paling besar."


Jean tidak peduli dengan nasib pangeran, para bangsawan, dan para pedagang. Selama dia dan pasukannya berhasil mencapai tujuan mereka, sisanya bukan urusan Jean.


Perjalanan terus berlanjut. 500 meter, 200 meter, 100 meter. Begitu parade pasukan kerajaan Dublin telah memasuki jangkauan, secara tiba-tiba, ratusan panah berterbangan ke arah mereka.


"KITA DISERANG!! AMBIL POSISI BERLINDUNG!!"

__ADS_1


Para Ksatria berusaha melindungi tuan dan diri mereka dari serbuan anak panah. Mereka diperlengkapi dengan armor dan perisai besi, jadi tidak banyak korban yang jatuh di pihak mereka.


Yang menjadi masalah adalah kumpulan rakyat jelata yang tidak terlindungi dengan baik. Mereka hanya mengenakan kain kasar dan senjata yang telah rompal di tangan mereka. Tanpa perisai ataupun zirah. Alhasil, banyak dari mereka yang tewas karena serangan panah tersebut.


Serangan anak panah terus berlanjut dalam tiga gelombang. Begitu serangan berakhir, para ksatria dan tentara bayaran yang melindungi tuan dan penyewa mereka bisa sedikit bernafas lega.


Tapi itu belum berakhir, karena dari balik vegetasi yang lebat, musuh keluar dan menyerbu mereka secara mendadak! Gesekan yang mematikan segera terjadi!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sial, sial, sial! Kenapa jadi seperti ini!!


Pangeran Hans mengumpat dalam hatinya. Dengan susah payah, dirinya berusaha menangkis semua serangan musuh-musuhnya.


Di sisinya, Greg Cassilas dan Hansen Baldric juga sedang berjuang untuk menghalangi serangan yang dilancarkan oleh para penyergap.


Jumlah para penyergap memang lebih sedikit. Perbandingannya hampir 1:5, tetapi berkat serangan mendadak, barisan pasukan yang dia pimpin menjadi sangat kacau. Para bangsawan dan pedagang bergerak sendiri-sendiri.


Pangeran Hans menangkis ayunan pedang dari orang yang ada di depannya. Tapi dengan lihai, orang itu menggerakan pedangnya ke arah lain dan mengincar leher sang pangeran.


Dia berhasil menghindar. Tapi sebagai gantinya, tangannya terluka. Darah mengalir dari lengannya.


Sakit! Hans menggertakan giginya. Sementara dia kesakitan, musuhnya tersenyum dan kembali mengincar dirinya. Kali ini, dia mengarahkan serangannya ke jantung pangeran Hans!


Hanya sedikit lagi ketika jantung pangeran Hans robek, tiba-tiba serangannya dihalangi oleh sebilah pedang. Seorang ksatria berpakaian zirah nan lengkap berhasil menghadang serangan itu.


"Lari, pangeran!"


Hans tidak mengulur waktu. Dia langsung lari dari sana dan mencari tempat yang lebih aman. Dia tidak peduli dengan ksatria itu. Toh, ksatria malang itu akan mati. Pasti. Yang terpenting adalah dirinya harus selamat dan mengambil kembali komando miliknya yang sedang kacau balau.


"Sial! Benar! Ini pasti salah orang itu! Namanya Jean kan!? Kenapa dia tahu kalau akan ada musuh yang menyerang! Ternyata begitu! Dialah yang merencanakan ini semua!!"


Pangeran Hans tidak bisa berpikir jernih. Sedari awal memang seperti itu. Dia selalu mencari kambing hitam untuk melampiaskan semua kesalahan dan ketololan yang telah dia ciptakan sendiri.


Dia bersumpah akan menghukum Jean!


Di tengah pikiran yang kalut dan nyaris putusnya harapan para ksatria dan tentara bayaran yang disewa oleh para pedagang, suara terkejut, kesakitan, dan jerit tangis terdengar dari arah yang menjadi konsentrasi musuh.


Saat itu juga, sebuah teriakan terdengar dengan sangat keras.

__ADS_1


"Bos Kalian Telah Mati!!"


__ADS_2