Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Mother and Daughter


__ADS_3

Sementara itu, Di salah satu kerajaan yang ada di bagian tengah benua Akkadia.


Seorang gadis berambut putih memacu kudanya dengan cepat. Ekspresinya tetap dingin, namun matanya menggambarkan sesuatu yang tidak bisa dituliskan dengan kata-kata.


Dia adalah Jeanne. Meski dulunya dia adalah gadis yang cukup manja, kini dirinya telah menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Sesuatu yang tidak dimiliki wanita lain pada zamannya.


Dia mengendarai tunggangannya dengan lihai. Entah itu di dalam hutan atau kota, Jeanne sama sekali tidak perlu mengurangi kecepatannya. Gadis ini dengan handal melewati rintangan yang ada di depannya.


Tujuan Jeanne adalah sebuah rumah yang sederhana namun cukup besar di pinggiran kota. Begitu sampai di sana, ia turun dari kudanya, mengikatnya di kandang, dan berlari ke dalam rumah.


Kali ini ekspresinya benar-benar berubah. Tidak ada lagi tatapan dingin dan kaku. Mulutnya tak lagi datar. Begitu Jeanne melangkahkan kakinya ke dalam rumah, sebuah senyuman yang indah menghiasi bibirnya. Matanya yang sedari tadi dingin, kini hangat dan bersahabat.


Tentu saja, karena yang dia temui adalah orang yang paling berharga baginya. Orang yang selalu berdiri disisinya ketika ia sedang rapuh. Yaitu ibunya sendiri, Svetlana.


"Mama, aku pulang!!"


"Ara, Jeanne. Selamat datang! Senang melihat kamu baik-baik saja."

__ADS_1


Jeanne dan Svetlana saling berpelukan. Keduanya tinggal di tempat ini sendirian. Svetlana memutuskan untuk tidak mempekerjakan satupun pelayan. Dia yang akan mengurus semua keperluan rumah tangganya.


Svetlana adalah wanita yang tangguh. Begitu juga Jeanne. Mereka berdua saling mengandalkan satu sama lain, tanpa harus menggantungkan kebutuhan mereka pada seorang pun. Karena itulah, keduanya adalah wanita yang merdeka.


"Bagaimana pekerjaanmu, sayang? Pasti melelahkan berada di squad Ksatria kerajaan dengan banyak orang yang tidak kamu sukai. Kemarilah, biarkan mama memanjakanmu."


"Unnn! Baiklah! Terimakasih mama!"


Jeanne dengan gembira merebahkan dirinya di sofa tempat Svetlana duduk dan meletakan kepalanya di pangkuan ibunya. Dengan lembut, Svetlana mengelus rambut putri semata wayangnya. Jeanne dan Svetlana sangat menikmati momen seperti ini.


Namun, ekspresi Svetlana berubah setelahnya. Dia menjadi lebih serius. Sembari tetap mengelus rambut Jean, dia mulai membuka mulutnya.


"Ya? Ada apa mama?"


Svetlana menghela nafas sejenak. Dia tidak mau membicarakan hal ini. Sangat enggan. Namun demi masa depan anaknya, dia harus melakukannya.


"Kamu tahu, sayang, sebenarnya kamu tidak perlu lagi tinggal bersama ibu. Kamu telah menjadi gadis yang luar biasa. Kamu telah berubah menjadi wanita yang hebat dan tangguh.

__ADS_1


"Sudah saatnya untuk mementingkan masa depan dirimu sendiri, sayang. Dengan kemampuan kamu yang sekarang, akan mudah untuk menjadi komandan ksatria di istana kerajaan daripada hidup di tempat sederhana seperti ini. Lagipula....ini sudah saatnya untuk dirimu dilamar oleh seorang pria kan?"


Seketika itu juga, Svetlana merasakan tangannya yang sedang mengelus putrinya, dicengkeram. Itu tidak cukup untuk membuatnya merasa kesakitan. Mau bagaimana pun, dia masih lebih kuat daripada Jeanne. Namun tetap saja, ia terkejut.


"Mama! Tolong jangan katakan itu lagi! Bukankah aku sudah bilang kepadamu kalau aku tidak akan pernah meninggalkanmu!? Apapun yang terjadi, apapun yang Mereka tawarkan, jika itu artinya aku harus meninggalkan mama, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!!"


Svetlana terdiam. Dia merasakan kemarahan dari putrinya. Jeanne juga sadar kalau dia telah kasar kepada ibunya, dan itu membuat dia menangis.


Semenjak dirinya dan ibunya diculik oleh para bandit dan hendak dijual, Svetlana lah yang terus membuat dirinya tetap hidup. Alasan kenapa selama ini dia tidak bisa lepas dari ibunya adalah hanya karena Svetlana satu-satunya alasan untuk tetap hidup. Setidaknya sekarang.


Svetlana menyadari itu dan dia bahagia karenanya. Tapi sudah saatnya bagi Jeanne untuk hidup dengan memikirkan masa depannya sendiri. Meski menyakitkan untuk berpisah dengan anaknya, dia menyadari bahwa itulah konsekuensi menjadi seorang ibu.


Svetlana memeluk Jeanne lagi. Untuk putrinya, dia akan melakukan apapun. Bahkan jika seluruh dunia memusuhi putrinya, maka Svetlana akan berada di pihaknya.


Di tengah hal itu, tiba-tiba pikirannya teralihkan dengan memori yang ia simpan dalam-dalam. Dia juga punya seorang putra. Meskipun bukan anak kandung, dia sangat menyayanginya. Rasa cintanya tidak kalah dengan rasa cinta yang Svetlana berikan kepada Jeanne.


Dari lubuk hati yang terdalam, dia berharap bahwa putranya akan datang untuk menyelamatkan keduanya.

__ADS_1


'Jean, aku harap kau baik-baik saja di sana.'


__ADS_2