Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Pertempuran Marquis Fredro


__ADS_3

Marquis Fredro tidak akan menyangka kalau pertempuran antara pasukannya dan kerajaan Riga-Dnipro pecah lebih awal yang dia perkirakan. Mata-matanya memberikan informasi yang tidak akurat. Mereka memang membeberkan posisi kerajaan Riga-Dnipro yang masih cukup jauh dari posisi marquis Fredro, tetapi tanpa sepengatahuan mata-mata marquis Fredro, Kerajaan Riga-Dnipro telah memecah fokus kekuatan mereka dan masuk lebih jauh ke dalam wilayah kerajaan Warsawa.


Dan kini, pasukan utama marquis Fredro sedang bertempur dengan salah satu pasukan kerajaan Riga-Dnipro. Mereka menang jumlah. Tidak memerlukan waktu lama untuk menghabisi musuh. Tetapi ini menjadi pertanda bahwa kekuatan musuh sama sekali tidak bisa diremehkan.


"Kirim unit pengintai. Perintahkan mereka untuk terus memperhatikan gerakan musuh. Pastikan unit mereka tidak melakukan kesalahan apapun."


marquis Fredro memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan unit pengintai. Di saat yang sama, ia juga menyiapkan taktik lain untuk menghadapi musuh. Beruntung bagi dirinya, muatan yang ia dapatkan dari orang misterius kemarin juga berisi tentang informasi mengenai penempatan pasukan musuh.


Dalam informasi yang tertulis, kerajaan Riga-Dnipro setidaknya telah menaklukkan tiga wilayah bangsawan, Lima perkotaan yang cukup besar, serta puluhan pedesaan. Di sana mereka membangun pertahanan yang cukup sulit untuk ditembus. Dan lagi, mereka tidak kekurangan makanan dan suplai. Setiap hari pasokan senjata, pasukan, kuda, beserta pakannya terus mengalir. Selain itu, mereka bisa mendapatkan makanan dari wilayah yang mereka taklukan.


Tidak hanya informasi. Bahkan ada rekomendasi yang diberikan. Marquis Fredro harus memanggil bala bantuan dari wilayahnya dan menunda peperangan skala penuh. Sebagai gantinya, sembari menunggu bala bantuan datang, marquis Fredro dapat mengutus beberapa unit untuk menyerang jalur suplai musuh dan menaklukkan beberapa desa yang telah dikuasai musuh.


Hal itu setidaknya dilakukan untuk memastikan bahwa musuh tidak dapat melakukan serangan skala penuh. Bisa dikatakan bahwa ini adalah taktik semi-gerilya.

__ADS_1


Dengan beberapa improvisasi, marquis Fredro mengikuti rekomendasi yang ditulis untuknya. Hasilnya cukup efektif. Dalam waktu tiga hari, pasukannya berhasil menaklukkan beberapa desa dan kota kecil. Meski keuntungan yang diraih tidak begitu signifikan, itu akan mengirim sinyal kepada lawan bahwa marquis Fredro dan pasukannya adalah sesuatu yang patut diperhitungkan. Sekaligus menjadi dorongan moril bagi para prajuritnya.


Sekarang, kedua pasukan utama marquis Fredro dan kerajaan Riga-Dnipro tengah berhadapan satu sama lain.


...****...


Dari atas pohon tertinggi di medan perang, Jean mengamati kedua pasukan yang saling berhadapan. Meskipun ada banyak penyihir yang menggunakan sihir mereka untuk mengawasi dan melihat gerak-gerik satu sama lain, tidak ada yang menyadari kehadiran Jean.


Tidak lama kemudian, saat genderang perang bertabuh, kekacauan segera terjadi. Area yang tadinya tenang, kini menjadi penuh dengan teriakan penyemangat dan jerit kematian. Kedua pasukan berusaha menggunakan seluruh kekuatan yang mereka miliki untuk menghancurkan musuh yang ada di hadapan mereka.


"Kalian, pergilah menuju masing-masing pihak. Dua orang menuju marquis Fredro dan tiga menuju kerajaan Riga-Dnipro. Bertempurlah di pihak masing-masing dan timbulkan sebanyak mungkin korban. Pastikan agar mereka memperpanjang pertempuran."


""""Baik!!!!""""

__ADS_1


the five elder mengeksekusi perintah Jean. Lima dari mereka melebur ke masing-masing kubu. Keseimbangan pertempuran mulai berubah. Awalnya pasukan marquis Fredro berada di atas angin. Itu karena kargo yang mereka terima berisi sebuah wine yang mengandung ramuan penguat fisik dan sihir. Meskipun tidak semua pasukannya menerima hal itu, tetapi sudah cukup untuk membuatnya berada di atas keuntungan.


Tetapi bandul bergerak. Berkat intervensi dari five elders, pasukan Riga-Dnipro dapat mengembalikan keadaan. Tidak ada yang mempertanyakan kehadiran the five elders. Dengan kemampuan Jean, mereka menganggap bahwa the elders adalah bagian dari mereka.


Dengan rekayasanya, Jean menciptakan seolah masing-masing kubu berada di atas angin. Keyakinan ini membuat mereka terus melanjutkan pertempuran, tidak peduli dengan banyaknya korban jiwa yang jatuh. Sialnya lagi, bahkan para prajurit tidak menyadari hal tersebut. Mereka bertempur seperti seseorang yang sedang kerasukan setan.


Jean yang terduduk menikmati pemandangan ini. Dua kubu besar yang saling beradu satu sama lain. Sihir yang bertentangan terlihat bagai kembang api. Jeritan manusia ibarat melodi. Indah sekaligus ironi. Heroik namun di saat yang sama juga tragis. Mereka yang berperang tanpa benar-benar tahu apa yang mereka perjuangkan.


Jean dapat dengan jelas melihat jiwa-jiwa malang yang melayang menuju angkasa. Membuka telapak tangannya, Jean mengumpulkan ribuan jiwa itu di telapak tangannya. Tidak lama kemudian, jiwa-jiwa yang terkumpul itu bertransformasi menjadi sebutir mutiara hitam. Jean mengangguk puas.


"Segini rasanya sudah cukup. Sekarang hanya tinggal memberikan pada orang yang tepat."


Sebuah nama terlintas di kepala Jean. Sebuah senyum jahat muncul di bibirnya. Benar, bocah itu, yang telah direinkarnasikan ke dunia ini dan dipenuhi oleh rasa iri dan kebencian, adalah orang yang paling tepat menerimanya.

__ADS_1


Namun Jean tidak buru-buru. Dia masih ingin melihat drama pertempuran, yang nampaknya belum kelihatan ujungnya ini.


__ADS_2