
Jeanne dan rombongannya mencapai di kota terdekat empat jam setelah melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Sedikit terlambat dari yang diestimasikan.
Menjadi ksatria kerajaan adalah profesi yang sangat dihormati. Begitu Jeanne, Hanna, Karina, dan Szymon menunjukan sebuah medali yang menjadi bukti keanggotaan mereka, ksatria lokal yang menjaga gerbang kota buru-buru mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam kota.
Salah satu dari mereka berlari ke mansion tuan tanah dan melaporkan kedatangan ksatria dari ibukota. Begitu kabar tersebut sampai kepadanya, dia langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengadakan pertemuan dengan kapten mereka.
Tuan tanah menyambut mereka dengan sangat hangat. Jeanne, Hanna, Karina, dan Szymon dijamu oleh makan malam yang megah. Mereka juga diminta untuk menginap di mansionnya.
Perlakuannya bertambah ramah begitu mengetahui bahwa tiga dari empat kapten ksatria adalah anak dari bangsawan berpengaruh di kerajaan Warsawa.
Untuk ksatria yang lain, meskipun mereka tidak dijamu dalam mansion, mereka diberikan penginapan terbaik dengan gratis di sana. Biaya makan malam juga ditanggung oleh tuan tanah.
"Pelayan, tolong antarkan tuan dan nona ksatria ke kamar mereka masing-masing. Pastikan agar mereka dapat berisitirahat dengan nyaman selagi mereka ada di sini."
Setelah jamuan makan malam selesai, tuan tanah menyuruh para pelayannya untuk mengantarkan keempat kapten ksatria ini untuk berisitirahat. Dia juga mengatakan kepada mereka bahwa tidak perlu menahan diri jika mereka membutuhkan sesuatu.
Jeanne memasuki kamarnya. Meski menjadi tuan tanah kota kecil, kamar tamu yang ia tempati sekarang cukup megah. Setidaknya jika dibandingkan dengan tempat tinggalnya.
Interiornya memang biasa saja, tetapi tempatnya besar. Ada sebuah meja dan kursi di pinggir jendela. Ranjangnya terbuat dari kayu yang cukup mahal sementara kasurnya empuk dan lembut. Begitu juga dengan bantal dan selimut.
"Lelahnya.... Tapi kalau aku tidur sekarang, perkembanganku akan terhambat. Baiklah, aku akan berkultivasi sebentar!"
Jeanne dengan semangat kembali duduk di kasurnya. Dia jelas kelelahan dan ingin segera tidur. Namun kebiasaannya selama ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja, kultivasi sebelum tidur.
Jeanne mengubah posisi duduknya menjadi bersila dan memejamkan matanya. Dia mulai merasakan energi alam memasuki dirinya. Energi yang masuk bersirkulasi di dalam tubuhnya, bertransformasi menjadi mana.
Setidaknya, ada dua energi yang eksis di dunia ini. Mereka disebut [Earth energy] dan [Heaven Energy]. Mayoritas manusia berkultivasi menggunakan [earth energy]. Setidaknya sampai mereka berada di tahap [Sky Realm] rank 5.
__ADS_1
Setelah berada di atas [Sky Realm] rank 5, para kultivator akan menggunakan [Heaven Energy] sebagai sumber kultivasi mereka. Mereka yang bisa menggunakan energi ini hanyalah mereka yang dikenali sebagai [Gods/Goddess] dan [Demi-God] oleh dunia.
Kembali ke kultivasi Jeanne. Sekarang dirinya masih berada di tahap [Earth realm] rank 8. Mempertimbangkan usianya yang baru berusia awal 20 tahun, ini adalah pencapaian yang luar biasa.
Jeanne terus memfokuskan [Earth energy] ke dalam tubuhnya, membiarkan energi tersebut membakar bagian internal anggota tubuhnya. Rasanya sangat panas. Jeanne menahan keinginan untuk berhenti dan muntah.
Sejujurnya, ia ingin berhenti. Tubuhnya sudah terasa sangat berat. Kaki dan tangannya seolah membeku. Hawa panas juga sudah menyelimutinya dirinya. Pada saat itulah, sebuah suara entah darimana, terdengar.
"Jangan menyerah, Jeanne! Percayalah pada dirimu sendiri! Untuk melindungi orang-orang yang kau sayangi, untuk berdiri di samping orang yang kau cintai, demi itu semua, jangan berhenti!"
Suara itu membuat tubuh Jean menjadi sejuk. Penekanannya tidak mengintimidasi, melainkan membuat dirinya tenang dan di saat yang sama, bersemangat.
Jeanne baru berhenti ketika ledakan energi terjadi dalam dirinya. Itu bukan hal yang buruk, sebaliknya, itu adalah hal yang baik. Bagai bendungan yang jebol dan telah menampung ribuan kubik air, [Earth energy] mengaliri seluruh jaringan tak kasat mata ditubuhnya.
Seluruh energi tersebut kemudian terkonversinya menjadi mana, membuat Jeanne merasakan kekuatan yang amat besar memenuhi tubuhnya.
Terlepas dari itu, ia bersyukur. Usahanya selama ini tidak sia-sia. Itu benar, demi melindungi orang-orang yang ia cintai, Jeanne tidak boleh berhenti. Juga tidak boleh menyerah.
Dia ingin menutup matanya. Sudah waktunya untuk tidur. Tetapi seseorang secara tidak sopan membuka pintunya. Dan yang masuk adalah salah satu pria paling menjijikan yang ia kenal, Szymon Krzys.
"Selamat malam, Jeanne. Kau benar-benar terlihat sangat cantik malam ini. Aku bersyukur bisa melihat keindahan ciptaan para dewa dan dewi seorang diri."
"Krzys? Apa yang kau lakukan di kamarku? Dimana pelayan yang menjaga kamar ini?"
Szymon tersenyum. Tentu saja, para pelayan rendahan itu tidak punya hak untuk menghalangi dirinya untuk melakukan apapun yang ia mau. Szymon telah mengusir pelayan itu jauh-jauh.
"Ayolah, Jeanne. Kau selalu saja dingin padaku. Aku hanya ingin bersenang-senang denganmu malam ini. Tidak masalah kan?"
__ADS_1
Syzmon berusaha menggapai tubuh indah Jeanne dengan tangannya. Namun tidak seperti yang ia bayangkan, Jeanne melakukan perlawanan.
Dia memiting lengan Szymon dengan cengkeraman yang sangat kuat hingga derak tidak menyenangkan terdengar dari lengannya. Tanpa sempat membalas, Jeanne mencengkeram kerah baju Szymon lalu membanting pria itu dengan sangat keras.
Szymon menjerit keras. Meski begitu Jeanne tidak berhenti. tanpa belas kasih sama sekali, Jeanne menendang tubuh Szymon, mematahkan kakinya, dan meninju wajahnya hingga tidak lagi terbentuk. Dia baru berhenti ketika Szymon tidak lagi mengeluarkan suara. Lelaki itu telah pingsan.
"Pelayan! Tolong aku!"
Jean berteriak dan seorang pelayan mendatanginya. Dia adalah pelayan yang tadi menjaga kamar Jeanne. Tanpa disuruh, pelayan itu menyeret tubuh pingsan Szymon keluar, sambil mengucapkan banyak permohonan maaf.
Jeanne berjanji dalam hatinya. Jika sekali lagi Szymon berusaha menyentuhnya, dia akan menghabisi bajingan tengik itu tanpa menyisakan tulangnya sama sekali.
***
Sementara Jeanne selesai berurusan dengan Szymon dan mulai tertidur, jauh di Krakov city, roda mulai bergerak.
Di sebuah ruang rahasia yang ada di salah satu rumah bangsawan berpengaruh, sepuluh orang berkumpul. Mereka mengenakan baju berkualitas tinggi dengan gaya yang tidak biasa.
Perkumpulan ini dipimpin oleh seorang pria yang terlihat paling tua di antara mereka. Rambutnya telah seluruhnya memutih. Keriput telah bermunculan di wajahnya, namun pandangannya sangat tajam. Auranya memancarkan kharisma yang tidak dimiliki oleh banyak orang.
"Yang mulia, persiapannya hampir selesai. Kita bisa melancarkan aksi kita dalam waktu tujuh hari."
Salah satu hadirin menyampaikan laporan kepada pria itu. Tanpa mengatakan apapun, pria tua itu mengangguk. Dia mengisi slokinya dengan anggur mahal dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Diikuti oleh hadirin yang lain.
"Demi kejayaan seribu tahun kerajaan Warsawa, Hidup!!"
"""""Demi kejayaan seribu tahun kerajaan Warsawa, Hidup!!"""""
__ADS_1
Ya, roda sudah mulai bergerak.