Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Terror Again (1)


__ADS_3

Tanpa alasan yang jelas, Jean yang masih menggendong Elyse dan Elsie di atas pundaknya tiba-tiba melakukan gerakan aneh seolah ia sedang menghindari sesuatu.


Elyse dan Elsie yang duduk di pundak Jean kebingungan. Namun mereka segera mengetahui niat Jean ketika sebuah anak panah meluncur dari langit menancap persis di depan kaki Jean.


Anak panah itu bagaikan isyarat. Begitu ia menyentuh dan tertancap di tanah, ratusan anak panah lainnya berterbangan di atas langit. Ada orang menyadarinya, namun lebih banyak yang tidak.


Pada akhirnya, orang-orang yang berada dalam kerumunan menjadi korban dari serangan tersebut. Atau itulah yang seharusnya terjadi. Setidaknya sebelum Jean campur tangan.


"Elyse, Elsie, gunakan sihir angin untuk menghalau panah-panah tersebut."


Si kembar lantas mengangkat kedua tangan mereka ke arah panah-panah tersebut dan merapalkan dua sihir yang sama.


""[Wind Blast]!!""


Mantra yang mereka keluarkan membuat angin kencang menerpa ratusan anak panah itu dan mengacak-acak lintasan tembaknya. Alhasil, tidak ada panah yang dapat mencapai targetnya.


Kepanikan muncul dalam kerumunan. Meski nyawa mereka terselamatkan berkat sihir yang digunakan oleh Elyse dan Elsie, tidak ada jaminan jiwa mereka telah aman.


Orang-orang yang berkumpul di alun-alun segera menyelamatkan diri mereka. Tidak ada yang mengkoordinir. Pun, tidak ada yang mengarahkan mereka. Banyak orang yang terjatuh lalu terinjak-injak oleh lautan orang yang panik.

__ADS_1


Jean menoleh ke arah pendeta Gizela. Gadis itu juga. Tatapan mereka bertemu. Seolah mengerti apa yang mereka pikirkan, Jean dan Gizela mengangguk dan mulai bergerak.


Gizela dan 15 ordo ksatria yang menjaganya segera menenangkan penduduk yang panik. Mereka mengevakuasi penduduk ke tempat yang lebih aman. Sementara itu, Jean dan kedua adiknya fokus menangkis ratusan anak panah yang terus datang bagaikan hujan.


Lagi-lagi, tanpa alasan yang jelas, Jean melompat ke belakang dengan tenang seakan menghindari sesuatu. Elyse dan Elsie terkejut. Namun sesaat kemudian, seseorang melompat dari atas dan menebaskan pedangnya secara vertikal ke arah Jean.


Meleset. Pedang yang ia pegang membentur tanah. Saat itu juga, Jean dengan pelan menendang kepala orang tersebut. Naas bagi orang itu, kepalanya langsung meledak begitu kaki Jean menyentuh kepalanya.


'Lemah. Terlepas dari tingkat kultivasinya yang berasal tahap [Sky Realm] rank 1, dia lemah'.


Kelihatannya, Jean harus mengubah standar dan pandangannya mengenai definisi kuat berdasarkan standar dunia ini. Yah, tapi ia bisa melakukan hal itu nanti.


Namun ia tidak mengatakan apa pun. Jean hanya mengalirkan mana miliknya ke tubuh kedua adiknya, membuat jiwa mereka menjadi tenang.


"Elyse, Elsie, apa kalian baik-baik saja sekarang?"


Keduanya mengangguk. Well, mereka masih berusia 12 tahun. Tidak baik untuk keduanya melihat adegan semacam ini. Karena itu, Jean dengan cepat menghampiri Gizela yang sedang menangani evakuasi.


"Nona pendeta, bisakah saya menitipkan kedua gadis kecil ini pada anda? Saya akan mengurus sisanya."

__ADS_1


Ini adalah pertama kalinya Jean berbicara pada Gizela terlepas dari tatapan yang saling bertemu tadi. Tanpa banyak bicara, Gizela segera menggendong Elyse dan Elsie lalu memberi isyarat 'Tenang saja, aku akan melindungi mereka'.


Setelah itu, Gizela dan 15 pengawalnya pergi. Evakuasi telah selesai. Kini, hanya ada Jean dan puluhan musuh yang mengelilinginya dari segala arah. Mereka semua sedang bersembunyi di balik reruntuhan bangunan yang belum diperbaiki.


Sekarang, saatnya bersenang-senang.


***


Di markas ksatria, Jeanne yang sudah kembali bertugas bersama Hanna mendapatkan informasi bahwa sekelompok anggota [Cult Of Savior] kembali menyerang ibukota.


Bersama dengan Hanna, mereka membawa dua squad penuh untuk menghabisi mereka. Tapi kali ini, Szymon Krzys yang sudah pulih dari penyakit anehnya juga ikut. Dia juga membawa satu squad bersamanya.


Tatapan angkuhnya membuat Jeanne dan Hanna muak. Tetapi Jeanne sendiri memutuskan untuk tidak peduli padanya. Sementara itu, Hanna terlihat menaruh dendam yang sangat dalam pada Szymon. Untuk alasan yang tidak diketahui.


Mereka semua bergegas. Sayangnya, mereka terlambat. Lebih dari 65 mayat telah bertebaran di jalanan kota. Di tengah itu, seorang pemuda duduk di atas seonggok mayat, seakan sudah menunggu kedatang mereka daritadi. Begitu melihat Jeanne yang datang, pemuda itu mengeluarkan senyumnya.


"Kau terlambat, kakak."


Jean sudah menghabisi anggota kultus lebih cepat dari yang mereka bayangkan.

__ADS_1


__ADS_2