
"Akhirnya! Tubuhku sudah pulih lagi!"
Jean tidak bisa menyembunyikan kegirangannya. Dia sedikit antusias mengetahui seluruh anggota badannya sudah kembali normal. Meski Jean tidak bisa menggunakan kekuatannya dengan penuh, setidaknya dia bisa menggunakan kekuatannya sebanyak 30 persen sekarang.
Proses asimilasi membutuhkan waktu yang cukup panjang dan menyakitkan, tetapi hasilnya sepadan dengan usahanya. Secara alamiah, Jean akan semakin kuat dari hari ke hari sekarang, bahkan jika ia tidak berkultivasi. Kalau dia melakukannya? Maka proses pemulihan jiwanya akan semakin cepat.
Dengan suasana hati yang baik, Jean melompat dari ranjangnya. Matahari belum juga terbit. Hanya semburat yang terlihat di ufuk timur. Meski begitu, Jean tetap pergi keluar untuk berlatih.
Mau bagaimana pun, Jean harus melakukan penyesuaian terlebih dahulu. Dia tidak bisa menggunakan seluruh kekuatannya. Jika ia melakukan itu, tubuhnya pasti akan rusak dan luka di jiwanya akan bertambah parah.
Jean dengan tenang keluar dari rumah nenek Alija dan masuk lebih jauh ke dalam hutan. Entah itu kakek Henryk ataupun nenek Alija berkali-kali memperingatkan untuk tidak masuk ke dalam hutan. Itu karena monster dan hewan-hewan yang sangat ganas berkumpul di sana.
Begitu ia mencapai tujuannya, Jean memejamkan mata dan sebuah bola hitam muncul di depannya. Bola hitam itu lalu bermanifestasi menjadi sebuah katana dengan bilah yang hitam elegan. Dengan ekspresi yang puas, Jean menggenggam katananya.
"Selamat datang kembali, kawan lama. Kau merindukanku, huh?"
__ADS_1
Katana yang Jean genggam adalah pedang yang dia ciptakan sendiri semasa dirinya menjadi seorang pahlawan. Butuh waktu lebih dari puluhan ribu tahun untuk menyempurnakannya. Dia bahkan merelakan diri untuk mencari besi dan mineral terbaik di banyak semesta untuk menempa katananya. Bisa dibilang, ini adalah salah satu maha karya dia.
Katana itu merespon dengan getaran. Jean hanya tertawa kecil dan mengusap bilahnya yang tajam tak terbilang. 'kita tidak akan berpisah lagi, kawan.' itulah yang ia katakan pada katana miliknya.
Pada dasarnya, katana ini bukan hanya pedang biasa. Dia hidup dan memiliki kesadaran. Alasannya? Jean memasukan makhluk yang disebut sebagai [archspirit] atau roh agung yang berhasil dia kalahkan ke dalamnya. Tidak hanya katana, seluruh senjata ataupun artefak yang ia ciptakan memiliki kesadarannya sendiri.
Cukup dengan penjelasan mengenai senjata. Sekarang adalah saat yang tepat untuk mengujinya. Dirinya menghela nafas sejenak dan menyesuaikannya postur tubuhnya. Dengan konsentrasi yang sangat tinggi, Jean mulai bergerak berdasarkan teknik yang ia pelajari lewat seluruh ingatannya.
Pedangnya berayun dengan elegan. Jika ada orang lain yang melihat, mereka akan berpikir kalau Jean sedang menari. Memang benar, gerakan yang ia lakukan terlihat seperti tarian. Namun setiap gerakan yang Jean mainkan memiliki kekuatan yang sangat besar di dalamnya.
Jean terus memainkan berbagai tekniknya sampai matahari nyaris berada di atas kepala. Mungkin sekarang sudah jam 10 pagi. Cukup sampai sini. Keringat mengalir deras dan kotoran-kotoran yang ada di dalam tubuhnya telah dibersihkan.
Setelah melihat sekitarnya, Jean mengangguk puas. Awalnya satu kilometer, kini lima kilometer disekelilingnya hancur lebur. Ini masih jauh dari kekuatan penuhnya tapi untuk sekarang, ini sudah cukup.
Jean menyarungkan katananya dan mengubah wujudnya kembali menjadi bola hitam dan memasukannya lagi ke dalam dirinya. Saatnya kembali. Yang lain pasti sudah menunggu di rumah sekarang.
__ADS_1
***
Jeanne dan Hannah dipanggil ke markas ksatria yang ada di dalam ibukota. Mereka diberikan misi untuk menyelidiki keanehan yang terjadi di hutan yang terletak di luar ibukota. Membawa serta 50 ksatria lainnya, mereka bergegas menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.
"A-apa-apaan ini!? Ke-kenapa hu-hutan menjadi hancur lebur!?"
Hannah tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. Dengan sigap, dia memerintahkan anak buahnya agar siap untuk melakukan serangan balik jika musuh melakukan sergapan. Namun, Jeanne dengan tenang mengangkat tangannya, mengisyaratkan kepada uang yang lainnya untuk tetap tenang dan tidak impulsif.
Jeanne lantas menyebarkan energi internalnya ke sekeliling hutan, memastikan dengan cermat apa yang sebenarnya terjadi.
'Ratusan monster tingkat tinggi mati tercabik-cabik. Tetapi, ini jelas ulah seseorang. Potongannya sangat rapih. Sama sekali tidak mencerminkan perbuatan seekor monster apalagi hewan liar biasa.'
Jeanne mengernyitkan alisnya. Dia tidak ingin mengambil resiko. Ia dan yang lainnya harus mundur.
"Hannah, ayo kita mundur. Siapapun dia, jelas yang merusak hutan ini hingga sedemikian rupa jelas sesuatu yang sangat kuat. Kita harus meminta bantuan Mage untuk menyelidiki semua ini."
__ADS_1
Hannah setuju. Pada akhirnya, para ksatria memutuskan untuk mundur dan melaporkan apa yang mereka saksikan pada atasan mereka.