
Di pagi hari, ketika pangeran dan para pengikutnya sedang terbuai dengan harta rampasan yang Jean jarah dari penduduk desa, Jean langsung bergerak.
Menggunakan tahanan perang yang dia dapatkan beserta penduduk desa yang dia taklukan, Jean langsung membangun parit-parit mengelilingi desa dari segala arah.
Dengan ditaklukannya desa ini, suplai makanan untuk masyarakat yang ada di ibukota kerajaan Bucharest akan terputus. Jalan raya yang menghubungkan desa dan kerajaan Bucharest juga telah berada di bawah kendalinya. Dengan begitu, konvoi dagang yang mengalir ke arah kerajaan Bucharest bisa diblokir.
Jean memahami bahwa untuk menaklukan ibukota kerajaan Bucharest yang memiliki benteng yang melapisinya adalah hal yang mustahil. Dia tidak membawa peralatan seperti ketapel raksasa untuk menjebol benteng mereka. Karena itu, dia berniat untuk menciptakan krisis di dalam kota dan memaksa mereka untuk menyerah.
Dalam beberapa hari, harga bahan pangan dan lainnya akan melonjak. Ketidakpuasan akan timbul di hati penduduk dan kerusuhan dari dalam tidak akan terhindarkan. Pada saat itulah, Jean akan memanfaatkan momentumnya.
Dari atas sebuah menara kayu setinggi empat meter yang baru saja dibangun, Jean mengawasi semuanya.
Di bawah todongan tombak para ksatrianya, tahanan perang dan penduduk desa menggali tanah dan membuat parit yang berukuran cukup lebar dan dalam lalu mengalirinya dengan air yang berasal dari anak sungai yalta.
Jean membangun parimeter pertahanan di tempat ini. Dia yakin kalau kerajaan Bucharest akan mengirimkan pasukan utama mereka untuk merebut kembali tempat ini.
Matahari mulai meninggi. Para tahanan dan penduduk yang bekerja terlihat sudah lemas. Kalau dibiarkan, kerja mereka akan melambat dan proyek pembangunan parit akan tertunda. Sudah waktunya untuk berisitirahat.
"Perintahkan semuanya untuk berisitirahat. Beri mereka makan dan minum secukupnya dan berikan mereka waktu 15 menit untuk berhenti menggali. Setelah itu, lanjutkan proyeknya."
"Baik pak!"
__ADS_1
Lonceng berbunyi. Ini adalah tanda untuk beristirahat. Semua orang yang tengah bekerja langsung ambruk ke tanah, melepas lelah yang mereka rasakan karena telah menggali sedari pagi.
Petugas dapur mulai datang membawa jatah makan para pekerja. Menunya sederhana. Sepotong daging kering dengan kentang tumbuk dan sebutir jeruk. Jean tidak peduli apakah itu membuat kenyang atau tidak. Yang jelas, mereka harus kenyang dengan jatah yang Jean berikan.
Antrean mulai mengulur. Sedikit kerusuhan terjadi tetapi para prajurit langsung mendisiplinkan mereka.
Awalnya semua berjalan kondusif. Keributan sudah diredam. Jean memutuskan untuk menikmati desa ini sebentar. Tetapi secara tiba-tiba, suara teriakan datang dari arah antrean. Saat Jean mengalihkan pandangannya, dia melihat prajuritnya telah ambruk ke tanah dengan bersimbah darah.
"Hehh.... sepertinya sesuatu yang menarik sedang terjadi."
Jean tersenyum kecil dan pergi ke tempat orang-orang sedang mengantre. Dia melihat seorang pemuda yang sedikit lebih dewasa darinya baru saja menikam prajuritnya, yang kini terbaring sambil memegangi perutnya setelah tertusuk oleh pisau.
"Oi medis, ada yang terluka! Bawa dia ke tenda lapangan dan obati dia. Lakukan tindakan pencegahan seperti yang telah aku ajarkan pada kalian."
"Aku pikir, semalam aku baru saja mengatakan sesuatu pada kalian. Hmmm....."
Jean menepuk pundak seorang lelaki dewasa. Dia berusia sekitar 40-an. Seketika wajah lelaki itu pucat dan tubuhnya bergetar.
"Nah pak. Apakah kau ingat apa yang aku katakan semalam?"
"Y-ya! A-anda mengatakan siapapun yang melakukan perlawanan akan di-dieksekusi di depan umum!"
__ADS_1
Bahkan saking takutnya, pria itu sampai mengompol. Jean hanya tertawa dan menepuk pundaknya. Tenang saja, aku hanya bertanya. Mungkin itu yang Jean katakan padanya.
Kini, pandangannya beralih kepada pelaku.
"Kau mendengar itu kan? Aku sudah memberikan pelayanan yang terbaik pada kalian lho. Kalau dipikir-pikir lagi, aku bahkan menyelamatkan nyawa kalian. Hmmm.... sepertinya aku terlalu berlebihan ya."
Pemuda itu melihat Jean yang sedang merendahkannya. Dia berada dalam posisi berlutut. Lebih tepatnya, dipaksa untuk berlutut. Dua orang prajurit mengunci tangannya dan menekan kepalanya.
"Bu-bunuh! Bunuh aku! Karena dirimu....karena dirimu rencanaku Gaga....Guaaahh!!"
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, sebuah tendangan yang keras mendarat di wajahnya. Pemuda itu langsung rubuh ke tanah sambil memegangi hidungnya yang patah.
"Tentu saja! Aku dengan senang hati akan membunuhmu kok! Tapi untuk metodenya, aku lah yang menentukan."
Jean menendangi pemuda itu. Semua tendangannya mendarat di wajah, perut, dada, dan punggungnya. Setelah itu, Jean mengulanginya lagi dari awal.
Di tengah keasyikannya, tiba-tiba dia mendengar suara teriakan yang cempreng dari belakangnya. Sambil tetap menendangi pemuda itu, Jean menoleh ke arahnya.
"Ada apa, nona cantik. Apakah kau ingin aku mengampuni orang ini?"
Dengan melihat ekspresi wajahnya, hembusan nafasnya, dan mendengar detak jantung serta dari aura yang gadis itu keluarkan, Jean 100 persen benar. Gadis itu, dengan wajah yang penuh tekad, memutuskan untuk jujur.
__ADS_1
"Benar! Lepaskan dia! Tidak peduli berapapun harga yang harus aku bayar, tolong lepaskan dia!"
Jean tersenyum. Menarik. Mari kita dengar penawaran nona cantik ini sebagai ganti keselamatan pemuda tolol ini.